Pekanbaru Bersama, 22 Des 2015 – 04 Jan 2016

Part I

Setelah melalui pertimbangan yang matang, akhirnya kami memutuskan untuk menerima tawaran berlibur, merayakan Natal & Tahun Baru di Kota Pekanbaru. Ya, ini adalah untuk kali yang pertama bagi kami berkunjung ke Kota Pekanbaru dan yang menarik serta menantang adalah kami menggunakan kendaraan Pribadi tanpa supir cadangan. Dari hasil perhitungan “Odometer” yang telah kami lalui (Mobil Carens II tidak dilengkapi fitur Tripmeter) Jarak tempuh Karawang sampai dengan Pekanbaru melalui Jalur Lintas Timur Sumatera adalah 1140 KM.

Setelah mengantongi surat izin cuti, tinggal merealisasikan perjalanan. Sejenak melupakan tentang perjuangan memenuhi target penerimaan pajak demi terhindar dari ancaman potongan tunjangan kinerja (dikenal dengan istilah tukin).

Mungkin pembaca bertanya, “kok, teganya mengambil cuti, sementara rekan seperjuangan berjibaku agar penerimaan pajak tercapai.” Untuk hal ini biarlah saya dan Tuhan yang memahaminya, seperti apa perjuangan yang sudah saya lakukan sepanjang tahun 2015 ini untuk Direktorat Jenderal Pajak institusi paling vital di negeri ini. 😛

Perjalanan Menuju Merak

Sesuai rancangan awal, bahwa dalam perjalanan menuju Pekanbaru dijalani dengan santai dan tentu saja dengan semangat dan antusias yang tinggi. Setelah doa bersama, kami memulai perjalanan dari Karawang hari Selasa tanggal 22 Desember 2015 pukul 14:00 WIB. Ternyata diluar perkiraan, kami terkena macet disepanjang Grogol-Tomang hingga sampai di Merak pukul 21:00 WIB. Kami menginap di sebuah tempat penginapan karena esok pagi, Keluarga abang dengan Exora Proton-nya yang  akan tiba pada tanggal 23 Desember 2015 pukul 05:00 WIB, karena target sudah berada di kapal penyeberangan pukul 07:00 WIB.

IMG20151223103450Tidak meleset, kami sudah berada ditempat penyeberangan sekitar pukul 07:00 WIB, setelah membayar tiket mobil beserta 5 penumpang sebesar Rp. 343.000,-/mobil, kami harus mengantri sekitar 2 jam-an untuk dapat memasuki kapal penyeberangan. Pelabuhan Merak ini dikelola oleh PT. ASDP Indonesia Ferry dan untuk mobil Carens II termasuk golongan IV, herannya dalam penyeberangan ini tidak diminta data identitas penumpang sebagaimana ketika kami menyeberang dari Pelabuhan Padang Bai (Bali) ke Pelabuhan Lembar (Lombok) baca tulisan “Lombok Bersama.”

Ada rasa senang dari pancaran mata anak-anak saat berada di deck kapal paling atas dari mulai berlari-lari, berselfie serta jalan-jalan disetiap sudut ruangan kapal. Jarak tempuh penyeberangan antara Merak dan Bakauheni sekitar 3 jam-an.

Bakauheni Menuju Horor Di Mesuji – Lampung

IMG_20160102_171118Dengan 2 (dua) kendaraan kami berjalan beriringan dengan target menuju Palembang, dengan kecepatan rata-rata 70 KM/Jam (karena kami memang berniat jalan santai dengan menikmati pemandangan yang ada. Sekitar Pukul 13:00 WIB kami makan di sebuah rumah makan di sekitaran Lintas Timur Sumatera – Lampung.

Tiba di sekitaran Mesuji Lampung setelah Tulang Bawang sudah memasuki pukul 19:00 WIB, Jalan sepi dan tanpa penerangan jalan, kami berjalan beriringan dengan sekali-kali melambung kendaraan yang terlalu pelan.

Sebuah mobil suzuki MPV menghalangi laju kami sementara sang Exora telah berhasil melewati MPV tersebut. Saking kesalnya dengan MPV ini saya berguman, “Gimana sih ini MPV, lambat banget gua mau lambung eh… ikut-ikut tapi gagal mulu penakut.”

Dan tak sadar ternyata mobil Exora abang sudah tidak terlihat lagi dan hanya mobil saya dengan Suzuki MPV di depan, jalan sangat gelap dan sedikit rusak sehingga tidak berani buat saya melambung, karena disamping jalan berkelok-kelok ditambah kadang motor dari depan datang dengan tiba-tiba. Kecepatan kami sekitaran 60- 70 KM/perjam dan tak terasa sudah cukup lama saya dihalangin mobil didepan hingga terjadi sesuatu…?!

Jelas saya melihat ada sebuah motor melaju (track lurus), sehingga saya pun menunggu motor itu lewat agar saya dapat dengan aman melambung. Entah kenapa saya melihat cahaya lampu motor itu tiba-tiba oleng dan langsung berhadapan muka dengan Suzuki MPV di depan kami dan… “braaaaaaack!” terjadi peristiwa yang sungguh luar biasa. Jarak saya dengan MPV sekitaran 15 meteran sehingga cukup bisa melihat apa yang terjadi di depan. Yang saya lihat “helm” terlempar dari atas mobil Suzuki MPV dan sepertinya bagian motor terpelanting ke sisi kanan.

“Kaget!”, ya saya, istri dan ketiga anak saya cukup jelas mendengar suara keras tersebut, sangat jelas MPV di depan kami tidak salah namun bukan berarti mereka berhak untuk kabur, sepertinya mobil tersebut hendak lari… hingga saya “dim” lampu  dan klakson berkali dan mobil tersebut menepi ditempat terang dan seperti warung.

Jujur kami tidak berani menolong, karena disamping tempatnya sepi, gelap dan terlihat seram. Kami hanya dapat berdoa dan berharap agar pengendara motor selamat. Dugaan saya adalah motor tersebut pecah ban hingga oleng atau mungkin mengantuk.  Kami betul-betul shock, perasaan ini terdengar oleh Exora abang dan bertanya kok kami lambat sekali. Akhirnya kami memutuskan menginap disebuah “Hotel Keluarga” bertarif Rp. 250.000,- yang berada di Jl. Raya Lintas Timur SPUA Simpang Pematang – Mesujui Lampung sekitar 10 KM dari tempat kejadian tabrakan.

Palembang We Are Coming

Alumni SMPN 160Tanggal 24 Desember 2015 Pukul 08:00 WIB kami berangkat dari Hotel Keluarga sekitaran Mesuji menuju Palembang dengan target Hotel Emilia Jl. Letkol Iskandar. Jalan sepanjang Mesuji- Palembang cukup Indah dan tentu kami tidak lupa mampir sekedar menikmati Durian.

Kami tiba di Hotel Emilia sekitar pukul 15.00 WIB, tempat telah dipesan oleh rekan Alumni SMPN 160 Jakarta Timur yang tinggal di kota Palembang.

Ada rasa senang dari anak-anak karena bisa menikmati air hangat  dan sejuknya kamar hotel setelah perjalanan nonstop sekitar 7 jam. Dan yang menggoda adalah Hotel berdampingan dengan mall (Palembang Indah Mall), sehingga setelah mandi dan istirahat sejenak maka dimulai wisata kuliner dan sekitaran kota Palembang.

a. Pempek Vico

IMG20151224173103Setelah sedikit shopping di Palembang Indah Mall kami berjalan menyeberang, ya… tujuan kami adalah makan di Pempek Vico yang konon katanya rasanya maknyus.

Menu favorite yang tersedia pun kami pesan diantaranya adalah Pempek, Mie dan Es Kacang Vico.

b. Jembatan Ampera

Jembatan AmperaWalau sudah banyak kota saya kunjungi seperti Jayapura, Timika, Fak-Fak, Manokwari, Sorong, Ambon, Makasar, Banjarmasin, Lombok, Bali, Medan, Siantar dan lain-lain tapi Palembang baru kali ini saya menginjak kaki, sehingga Jembatan Ampera adalah tempat yang paling ditunggu untuk dinikmati. Apalagi menjelang sore hari. Untuk sampai ke Jembatan Ampera kami naik angkutan umum dengan ongkos Rp. 4.000 per kepala, karena kami sudah cukup lelah untuk mengendarai mobil.

Tak lupa kami naik perahu sekedar keliling-keliling sungai Musi disekitaran Jembatan, walau permukaan air sungai Musi tampak tenang tapi saya melihat bahwa air di dalamnya sangat bergejolak itulah kenapa saya memegang perahu kuat-kuat sambil meperhatikan anak-anak yang antusias berfoto. Kami menghabiskan waktu di sekitaran Jembatan Ampera dan kembali ke Hotel.

c. HKBP Palembang

HKBP PalembangTanggal 25 Desember 2015 pukul 10:00 WIB kami check out dari Hotel untuk menuju Gereja HKBP Palembang  mengikuti Kebaktian Natal. Ada sukacita dapat beribadah Natal dengan jemaat HKBP Palembang.

Pastori Palembang

Setelah selesai ibadah kami mampir ke rumah Pendeta sekedar silaturahmi… Pendeta ini sebelumnya berdinas di Jakarta di mana Keluarga abang adalah jemaatnya. Dan kembali kami disajikan pempek Palembang yang garing renyah dan sedap. Setelah sekitar satu setengah jam kami pun pamit untuk melanjutkan tujuan perjalan yaitu Pekanbaru, setelah dilepas dengan doa kami pun memulai perjalan berikutnya.

SPBU Sumatera sekitar Muara Rupit Jambi

25 Desember 2015 pukul 14:00 WIB dari Rumah Pendeta yang tidak begitu jauh dari gereja HKBP Palembang kami memulai perjalanan. Jujur perjalanan kali ini cukup melelahkan dan sedikit menyeramkan, gelap dan tanpa penerangan. Tak terasa perjalanan nosntop hingga mata ini tak tertahan lagi untuk dipejamkan. Kami beristirahat di SPBU sekitar Jambi.

Perlu diperhatikan bagi pengendara sejenis (pulkam), dalam istirahat untuk tidak memarkirkan kendaraan jauh dari rombongan, karena peristiwa yang kami alami adalah mobil kami dihampiri oleh dua pria yang mengintip-intip kondisi dalam mobil kami (kami semua tertidur pulas). Dari penglihatan kedua orang tersebut membawa sesuatu seperti “Kampak”. Hal ini diperhatikan oleh abang yang parkir tidak jauh diantara pengendara yang istirahat di area SPBU tersebut. Saya pun memindahkan kendaraan setelah terkaget dibangunkan oleh Calvin (anak abang) untuk parkir berdekatan beserta rombongan lain. Waktu istirahat kami antara pukul 02:00 WIB sampai 05:00 WIB. Perjalanan dilanjutkan ke Pekanbaru…

Bersambung...

Artikel Sejenis Menarik Lainnya :