Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

PendetaPERKATAAN 7 :

“Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku!”

—————————————–

Bacaan : Matius 27:50-61 ; Lukas 23:44

Tidak mungkin seseorang tidak akan berbahagia, ketika ia mengingat kematian Kristus, mengerti akan kasih-Nya, dan membagi-bagikan kasih Kristus kepada sesama. Tidak ada seorang pun yang tidak berbahagia, karena ia dapat dengan sungguh-sungguh melayani Kristus yang sudah mati dan bangkit dengan pengabdian yang penuh. Firman Tuhan adalah sumber kekuatan dan satu keajaiban yang memberikan iman yang sejati.

Kegenapan yang digenapkan Yesus Kristus adalah kegenapan yang bersifat paradoks. Menurut pandangan manusia, Kristus tidak menggenapkan apa-apa, Kristus tidak menyukseskan apa-apa, dan Kristus tidak menghasilkan apa-apa. Menurut manusia, seseorang yang bergantung di atas kayu salib tidak memiliki kesuksesan ataupun keunggulan apa pun. Akan tetapi, dari permulaan kitab suci sampai pada akhirnya, kita dididik oleh Tuhan Allah untuk tidak melihat segala sesuatu secara lahiriah. Allah mendidik kita untuk tidak melihat segala sesuatu hanya dengan pandangan mata lahiriah yang sudah ditipu oleh iblis. Biarlah kita memiliki pandangan seperti pandangan Tuhan Allah sendiri yang melihat sampai ke batin. Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati sanubari (1 Samuel 16:7). Bagi manusia, Kristus dilihat sebagai manusia yang tidak memiliki keunggulan ataupun kesuksesan, tetapi sebagai manusia yang gagal. Namun, Yesus Kristus yang kelihatan gagal adalah Yesus Kristus yang meneriakkan perkataan, “Tetelesthai! Genaplah!”

Apakah yang telah digenapkan-Nya? Apakah Dia sudah mendirikan satu gedung yang besar? Sekolah Kristen yang mewah? Buku Kristen yang tebal? Sistem pendidikan yang baru? Sistem filsafat yang melawan sistem filsafat yang lain? Tidak. Tetapi apa yang digenapkan Yesus Kristus di atas kayu salib adalah apa yang tidak mungkin digenapkan oleh politik, militer, ekonomi, kebudayaan, pendidikan, filsafat, dan segala ilmu dunia. Di dalam perkataan Kristus yang ke-enam, manusia boleh melemparkan jangkar pengharapannya. Manusia boleh mengembuskan napas yang terakhir dengan satu jaminan yang pasti. Genaplah! Kristus mengucapkan, “Genaplah!”

Kristus mengucapkan: “Genaplah” dengan satu kepastian yang sungguh. Perkataan ini menembus dunia malaikat dan mencengangkan mereka, menembus dunia manusia dan memberi pengharapan terbesar kepada mereka, menembus alam maut dan menggoncangkan neraka.

Jika Tuhan mengatakan “Gagallah!” maka meskipun Dia bangkit, kita tidak mengetahui dalam hal apa Dia menjanjikan jaminan keselamatan. Akan tetapi, karena Tuhan Yesus mengatakan “Genaplah!” maka inilah jaminan yang pasti akan kebangkitan kita! Tidak ada seorang pun pernah memiliki kegagalan secara lahiriah lebih dari apa yang dinyatakan Yesus, Orang Nazaret yang tergantung diatas kayu salib. Namun sesungguhnya, tidak ada seorang pun yang pernah mencapai kemenangan, kesuksesan, dan keunggulan yang lebih besar dari apa yang pernah dinyatakan Yesus Kristus yang mati terpaku semacam itu.

Di atas kematian Yesus Kristus ada satu perubahan atau transformasi yang besar atas segala konsep, sistem, dan segala arah di dalam alam semesta. Arah manusia berdosa yang menuju kepada neraka karena melawan Tuhan Allah harus berubah di muka kayu salib. Segala sistem yang lama harus berubah menjadi sistem yang baru, menurut arah sinar cahaya yang keluar dari takhta Allah dan Anak Domba yang pernah disembelih di atas Golgota.

Pada waktu Yesus Kristus mengatakan “Tetelesthai!”, maka terbelahlah tirai yang memisahkan tempat suci dan tempat maha suci di bait Allah dari atas sampai kebawah. Bukan tangan manusia yang melakukannya, bukan pisau atau gunting, tetapi kuasa Allah sendiri yang menjalankan hal ini. Di dalam ke-empat Injil dicatat bahwa sebelum Kristus mati, Ia mengucapkan perkataan dengan seruan yang nyaring, suara teriakan yang keras. Jelas bagi kita bahwa itu adalah hal yang tidak logis, supra-rasional. Orang yang disalibkan diperkirakan akan mati dalam 2 hari sampai empat hari. Dan sejak hari pertama disalibkan, orang tersebut akan mengalami satu gejala yang tidak akan berubah sampai beberapa hari kemudian. Gejala itu timbul karena banyaknya darah yang mengalir keluar dari tubuh orang yang disalibkan. Darah yang berkurang akan makin mengental dan darah yang menuju ke bagian kepala akan berbeda jumlahnya dengan darah yang beredar di bagian tubuh yang lebih bawah. Lambat laun, karena kekurangan darah yang naik ke atas kepala, maka belum sampai satu hari, semua kekuatan di leher orang tersebut akan lenyap, sehingga orang yang disalibkan harus menundukkan kepala.

Gejala kekaburan atau kepusingan juga akan dialami tetapi orang tersebut belum akan mati. Belum mati, tetapi tidak akan mungkin hidup lagi seperti biasa. Tubuh akan menggetar, makin lama makin lemah dan manusia yang disalibkan akan mati secara perlahan. Detik demi detik ia akan mati dalam kekejaman dan kesulitan yang tidak mungkin ditolak. Lebih mudah mati digantung, ditembak, kursi listrik, atau dipenggal dibandingkan mati disalib. Beratnya tubuh yang tergantung mengakibatkan lubang paku menjadi besar dan untuk menjaga supaya seluruh tubuh tidak jatuh, maka orang tersebut diikat pada kaki dan tangannya. Akan tetapi, tali tersebut justru mengakibatkan kematian yang pelan-pelan karena darah yang mengalir keluar tertahan oleh ikatan tali.

Orang yang menyalibkan orang lain adalah orang yang suka melihat orang lain mati secara perlahan. Di dalam kondisi semacam itu, hanya Kristus satu-satunya yang berbeda dengan orang lain. Pada waktu mati Ia menengadah dan berkata kepada Allah dengan kekuatan yang luar biasa, Suara-Nya nyaring dan dengan teriakan, khususnya pada waktu mengatakan empat perkataan terakhir.

Pada saat orang normal tidak bisa berteriak karena tidak mampu, justru saat itu Kristus berteriak dengan keras. Sesudah enam jam disalibkan, siapakah yang bisa berteriak? Sesudah mengatakan “Genaplah!”, maka tirai di bait suci terbelah. Lalu Kristus mengatakan kalimat terakhir, “Bapa, Aku menyerahkan jiwa-Ku ke dalam tangan-Mu!” dan setelah itu, Dia mengembuskan napas yang terakhir. Ini satu mujizat. Ini satu hal yang luar biasa. Ini satu hal yang sama sekali berbeda dengan tradisi dan catatan sejarah.

Kristus satu-satunya yang menyerahkan nyawa-Nya di dalam kekuatan yang luar biasa. Jiwa Kristus bukan dirampas oleh kematian. Pada waktu hidup-Nya, Kristus dirampas. Keadilan bagi-Nya dirampas, hak-Nya dirampas, pembelaan-Nya dirampas, dan kebajikan bagi-Nya pun dirampas. Manusia tidak mempedulikan bahwa dengan tangan-Nya, Kristus menyembuhkan orang lain. Tangan yang menyembuhkan orang lain dipakukan. Kepala-Nya yang memikirkan firman Allah dan hal-hal ilahi dimahkotai mahkota duri. Kaki yang berjalan ke sana kemari mencari domba yang sesat adalah kaki yang ditusuk. Tuhan Yesus memiliki cinta yang tidak ada bandingnya. Tuhan Yesus Juru Selamat satu-satunya. Pada waktu disalibkan, Ia mengucapkan kalimat yang terakhir, “Ya Bapa, Aku menyerahkan Roh-Ku ke dalam tangan-Mu!”

Ucapan Kristus di atas kayu salib dimulai dengan “Bapa…” dan diakhiri dengan “Bapa…” Ini menjadi satu elemen paling pokok bagi pelayanan kita. Di atas kayu salib, Yesus Kristus tidak berkata banyak kepada manusia. Bagi Kristus yang penting adalah satu kesetiaan kepada Bapa. Yang mengutus Kristus adalah Bapa, dan yang akan menerima Kristus kembali ke sorga juga adalah Bapa. Jikalau yang memanggil Yesus Kristus adalah uang, maka Dia akan melayani uang. Akan tetapi, karena yang memanggil Kristus adalah Bapa,maka Kristus memiliki prinsip yang memulai pelayanan-Nya dengan Bapa dan mengakhirinya juga dengan Bapa. Allah Bapa yang memulai, Allah Bapa juga yang menjadi Penggenap. Bapa yang menciptakan segala sesuatu terjadi dan segala sesuatu ini juga akan disempurnakan oleh Bapa yang mengizinkan segala sesuatu ini terjadi. “The Creator is also The Consummator”. Allah yang mengerjakan pekerjaan kebajikan adalah Allah yang akan menggenapi pekerjaan kebajikan itu. Dan, Kristus yang telah diutus oleh Allah mengetahui bahwa Dia tidak boleh hidup untuk diri-Nya sendiri.

Sebagaimana apa yang pernah didoakan dan dinyatakan Kristus dalam ucapan yang agung di Getsemani, “Bapa, bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Lukas 22:42), demikian pula di atas kayu salib, Kristus mengucapkan tujuh kalimat yang menunjukkan relasi vertikal antara Dia dengan Allah Bapa. Kalimat pertama adalah “Ya, Bapa,ampunilah mereka …”, kalimat terakhir adalah “Ya, Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku!” Kristus memohonkan pengampunan bagi manusia berdosa kepada Bapa dengan kematian-Nya. Kristus yang mati bagi manusia menurut kehendak Bapa sekarang menyerahkan jiwa-Nya kepada Bapa. Perkataan pertama dimulai dengan “Bapa”, perkataan terakhir diakhiri dengan “Bapa”. Tetapi perkataan keempat yang ada di bagian tengah adalah “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Di tengah-tengah antara Alfa sampai Omega, ada lembah bayang-bayang maut.

Pada permulaan, dengan girang kita menjalankan kehendak Allah. Di saat terakhir, relakah kita menyerahkan seluruh hidup kepada Allah? Di tengah-tengah perjalanan panjang kehidupan, Allah mengizinkan orang yang menjalankan kehendak-Nya untuk mengalami bayang-bayang maut yang menakutkan. Lembah bayang-bayang maut adalah lembah yang pernah dijalani Kristus secara sendirian. Saat itu Bapa tidak mendampingi Dia. Kristus menjalaninya sendiri.

Itulah sebabnya, sejak hari itu, barangsiapa harus menjalani bayang-bayang maut boleh berkata kepada Tuhan Yesus, “Engkau beserta dengan aku.” Kristus sudah menjalani jalan itu. Apakah Anda takut akan hari depan? Bagi Kristus, hari depan kita adalah hari kemarin. Pada waktu Kristus mengatakan “Genaplah!” dan “Ya, Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku!”, janganlah kita lupa bahwa mengatakan hal seperti itu memerlukan iman kepercayaan yang bukan main besarnya. Pada waktu Yesus dibaptiskan, Allah Bapa bersaksi dengan langit yang terbuka dan suara yang nyaring, “Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.” (Lukas 3:22) Pada waktu di bukit Hermon, Yesus Kristus menyatakan diri-Nya dalam kemuliaan beserta dengan Musa dan Elia, Allah sekali lagi berkata dari langit, “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.” (Lukas 9:35) Tetapi justru di dalam kepicikan, kepedihan, dan sengsara yang paling besar yang dialami Kristus di atas kayu salib, Allah seolah-olah menudungi muka-Nya dan seakan-akan tidak melihat akan sengsara Yesus Kristus.

Saat Yesus berteriak, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” adalah saat yang sungguh-sungguh mengerikan. Akan tetapi, pada waktu Yesus mengatakan “Sudah genap!”, Yesus mengatakannya di dalam keadaan yang tidak berubah apa-apa. Dia tetap tergantung di atas salib. Tidak ada pertolongan dari Allah. Orang-orang di bawah salib menunggu apakah pertolongan dari Allah akan datang. Orang-orang pernah mendengar bahwa pada waktu Kristus berdoa di bukit Hermon, Elia dan Musa datang mendampingi Dia.

Jadi, sekarang mereka menantikan apakah hal itu akan terulang lagi. Tetapi kondisi tidak berubah. Doa Kristus seakan-akan tidak dijawab. Kesulitan seolah-olah makin menjadi besar. Kelemahan makin menjadi nyata. Darah terus mengalir. Segala sesuatu makin menjadi gelap.Orang-orang di bawah salib tetap menghinakan Dia. Dengan demikian, apakah kesuksesan yang dinyatakan Kristus dengan perkataan “Genaplah”? Apakah yang dinyatakan-Nya dengan perkataan “Ya, Bapa, Aku menyerahkan nyawa-Ku ke dalam tangan-Mu”?

Dengan melihat Kristus, kita melihat manusia pertama di dalam sejarah yang menerjunkan diri ke dalam kekekalan di dalam keadaan yang tanpa kegentaran sama sekali. Kristus yang sudah menang memimpin kita masuk ke dalam kemuliaan. Dia menjadi teladan bagi Anda dan saya. Betapa banyak orang yang pada waktu hidupnya memiliki keberanian, tetapi pada waktu menghadapi kematian, segala keberaniannya hilang sama sekali. Tetapi Kristus didalam kalimat terakhir sebelum mengembuskan napas-Nya yang terakhir, memberi contoh bagi kita.

Jikalau segala kepicikan belum berubah, kepedihan masih dialami, bahaya masih mengancam, dan segala situasi tetap sama, padahal saat kematian kita semakin mendekat, bisakah kita tetap memanggil Allah sebagai Bapa kita? Apakah Allah tetap menjadi Bapa kita? Apakah dari dulu sampai sekarang Dia tetap menjadi Bapa Anda? Apakah kita tetap bisa melihat anugerah-Nya tetap mengelilingi kita?

Jika kita memanggil Allah sebagai Bapa, hanya karena kita sudah menikmati segala berkat dari-Nya, bagaimana jika semua berkat sudah tidak ada lagi? Bagaimana jika segala yang indah sudah hilang dan segala kepicikan kita alami? Apakah kita tetap memanggil Allah sebagai Bapa kita pada detik terakhir sebelum kita mati? Apakah Anda masih bisa memanggil Bapa? Apakah doa Anda masih didengarkan oleh-Nya? Ya. Karena Yesus Kristus menjadi teladan kita. “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.”

Istilah bahasa Yunani “serahkan” adalah istilah yang dipakai khusus pada waktu seseorang menyerahkan uangnya kepada pemegang uang yang paling dipercaya. Yesus Kristus tahu bahwa jiwa-Nya ada di dalam tangan Allah yang baik. Dia menyerahkan nyawa-Nya ke dalam tangan Bapa. Ini menjadi satu pengharapan bagi setiap orang. Johanes Calvin berkata bahwa pada waktu Kristus mnenyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa, sebenarnya pada waktu itu juga Kristus mengumpulkan roh kita masing-masing yang percaya kepada-Nya beserta dengan Dia untuk diserahkan kepada Bapa. Dan waktu itu juga Kristrus memberikan satu jaminan keselamatan yang paling pasti bagi Anda dan saya. Puji Tuhan! Karena Kristus yang menjadikan Allah Bapa sebagai awal dan akhir pelayanan-Nya, sebagai awal dan akhir ketaatan-Nya, awal dan akhir seluruh perjalanan hidup-Nya, maka Dia yang taat total kepada Allah Bapa boleh berkata kepada kita yang taat kepada-Nya bahwa kita akan menerima hidup yang kekal! Karena ketaatan Kristus, maka seluruh ketaatan kita yang percaya kepada-Nya diterima oleh Allah melalui Kristus. Seluruh sejarah sekarang memutar arahnya. Di dalam Adam, semua manusia tidak taat. Tetapi di dalam Kristus, semua menjadi taat. Adam yang tidak taat membawa kematian bagi dunia yang murtad. Kristus yang taat, membawa hidup yang kekal dan pengharapan yang tidak berubah kepada orang-orang yang menaruh kepercayaan kepada Dia.

Apakah arti perkataan Kristus: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku!”? Kristus mengetahui satu relasi Aku-Engkau kepada Allah. I and Thou relationship. Rohani setiap orang harus mengalami satu perubahan yang besar dan total. Perubahan itu adalah perubahan relasi. Rohani memerlukan satu perubahan relasi dan posisi. Orang yang rohaninya masih dangkal menjadikan Allah sebagai Ia (Subyek orang ketiga). Mazmur 23:1 berbunyi:

Tuhan adalah Gembalaku, tak kan kekurangan aku
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau

Orang yang rohaninya dangkal; mempunyai sikap: Saya adalah saya, Allah adalah Allah. Saya adalah saya, Dia adalah Dia. Saya tidak mempunyai hubungan langsung dengan Dia. Pada waktu mendengar khotbah, yang didengarkan adalah tentang Dia. Pada waktu membaca buku, membaca tentang Dia. Waktu mengikuti kebaktian, mengetahui tentang Dia. Sesudah mengikuti kebaktian, saya tetap saya. Sesudah mendengarkan khotbah, tetap berdosa. Sesudah digerakkan oleh Tuhan, tetap berjudi, berzinah dan tetap melakukan hal yang jahat. Apa sebab orang percaya bisa melakukan hal itu? Karena orang tersebut masih mempunyai sikap bahwa Tuhan adalah Dia. Orang demikian mungkin sudah menerima baptisan, sidi, Perjamuan Suci, tetapi ia tetap mengambil posisi Aku-Dia kepada Allah, bukan mengambil posisi Aku-Engkau. Antara Allah dan orang tersebut belum memiliki satu hubungan pribadi yang langsung.

Sampai pada satu saat yang mengubah seluruh hidup Anda. Ketika Anda bergumul secara pribadi, berteriak kepada Allah secara pribadi, berada di dalam kesulitan dan berdoa berlutut secara pribadi kepada Dia dan mengalami satu kepicikan yang besar, maka barulah Anda mempunyai sikap yang lain. Anda memanggil Engkau kepada Allah. Mazmur 23 terbagi atas dua bagian. Antara tiga ayat pertama dan tiga ayat terakhir, menunjukkan satu perubahan relasi. Tiga ayat pertama menyebutkan:

Tuhan adalah Gembalaku, tak kan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau
Ia membimbing aku ke air yang tenang
Ia menyegarkan jiwaku.
Ia menuntut aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.

Setelah melewati lembah bayang-bayang maut, maka berubahkah status dan relasi antara pemazmur dan Allah. Relasi antar aku dan Dia, sekarang berubah menjadi aku dan Engkau :

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman,
Aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku;
Gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
Engkau menyediakan hidangan bagiku di hadapan lawanku
Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak,
Pialaku penuh melimpah.
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku
Dan aku akan diam di rumah TUHAN sepanjang masa.

Apakah Allah adalah Ia di dalam hidup Anda? Atau, apakah Allah adalah Engkau di dalam hidup Anda? Kristus berjalan, bekerja dan bertindak menurut kehendak Bapa. Tidak meungkin ada orang yang mempunyai hubungan I-Thou yang lebih erat dengan Bapa selain daripada Kristus. Kristus telah memberikan jaminan kepada kita untuk tetap dapat mempunyai hubungan I-Thou dengan Allah meskipun di dalam keadaan kepicikan yang paling besar. Ujian yang begitu berat yang telah dialami oleh Ayub akhirnya diakhiri dengan satu kepercayaan iman yang teguh. Ayub berkata: “Meskipun Engkau membunuh aku, aku tetap percaya kepada-Mu.” (Ayub 13:15). Jika yang membunuh adalah Allah, tetap lebih baik daripada hidup bahagia yang diberikan oleh iblis. Jikalau yang membunuh adalah Allah, itu lebih baik daripada kita menerima berkat dari iblis.

Kristus yang tidak menerima segala tawaran akan segala kemuliaan dunia adalah Kristus yang menyerahkan diri-Nya kepada Bapa yang mengizinkan Dia mati begitu rupa. Kristus yang berkata: “Enyahlah engkau setan!” adalah Kristus yang mengatakan: “Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan Roh-Ku!” Kristus tidak pernah tertarik kepada segala kemuliaan dunia yang ditawarkan iblis. Di dalam keadaan yang begitu sengsara di mana Kristus sedang mengalirkan darah, Allah seolah-olah tidak mendengarkan doa-Nya. Keadaan sama sekali tidak berubah, manusia tidak melihat perubahan kondisi. Tetapi di dalam keadaan harus mati, Kristus menyerahkan Roh-Nya ke dalam tangan Bapa. Itulah iman!

Apakah Anda baru bisa beriman jika Allah mengubah situasi yang gelap menjadi terang benderang? Apakah Anda baru bisa beriman setelah segala sesuatu berubah menjadi seperti yang Anda inginkan? Apakah Anda baru bisa beriman jika Allah menyembuhkan penyakit Anda? Apakah Anda baru bisa beriman jika Allah memberikan segala kelancaran dalam usaha Anda? Dapatkah Anda percaya kepada Allah di dalam kepicikan? Di dalam penyakit? Di dalam menanggung bahaya yang terbesar? Allah adalah Allah yang mengizinkan segala sesuatu terjadi kepada Anda. Tetapi Allah adalah Allah yang belum pernah membiarkan Anda sendirian di dalam segala keadaan. Bersandarlah kepada Allah dengan kepercayaan yang penuh! Bersandarlah kepada Allah yang tidak pernah berubah. Biarpun segala sesuatu berubah, biarpun awan gelap menudungi, biarpun kepicikan tetap ada, Allah tetap adalah Bapa kita. Father is still my Father!

Kristus menjalankan kehendak Allah untuk menanggung dosa manusia. Allah Bapa telah menetapkan untuk meremukkan Dia dan membiarkan Dia mati di dalam keadaan yang sangat memalukan. Allah dimuliakan dengan iman yang ditunjukkan oleh Kristus yang menjadi teladan bagi segala zaman. Anak Allah berkata: “Ya Bapa, Aku menyerahkan Roh-Ku ke dalam tangan-Mu!” Di manakah tangan Allah? Tangan Allah tidak kelihatan. Ini merupakan satu loncatan iman menuju kepada kekekalan. Pemain akrobat dalam sirkus, berani meloncat tinggi-tinggi, karena ia tahu bahwa di bawah ada jaring-jaring yang mencegah kematian. Pada waktu kita harus menemui ajal dan menghembuskan nafas yang terakhir, kepada siapakah kita harus menyerahkan hidup kita?

Yesus Kristus menjadi teladan kita. Kita harus menyerahkan hidup kita ke dalam tangan Allah. Tangan yang menciptakan langit bumi, yang memelihara segala sesuatu, yang menunjang eksistensi segala planet dan sistem alam semesta, tangan yang telah membentuk Adam dari tanah liat, tangan yang telah memimpin orang Israel keluar dari Mesir, tangan yang menaungi Maria sehingga melahirkan Yesus. Tangan Pencipta yang tidak berubah, adalah tangan yang tidak kelihatan. Kita menerjunkan iman kepercayaan kita ke dalam tangan Allah yang belum terlihat oleh orang lain, tetapi hanya dilihat oleh iman itu sendiri.

Iman berarti penglihatan di dalam roh. Setelah Kristus mengatakan kalimat ke-tujuh ini, maka di dalam sejarah banyak orang yang mengikuti-Nya. Sebelumnya, di masa Perjanjian Lama sudah ada yang mengatakan kalimat: “Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku ya TUHAN, Allah yang setia.” (Mazmur 31:6). Tetapi itu berbeda dengan perkataan Kristus yang ke-tujuh di atas kayu salib. Pemazmur menyebut Allah, tetapi Kristus menyebut Bapa. Konsep Allah yang menjadi Bapa setiap pribadi orang percaya belum pernah ada sebelum Kristus mengajarkannya kepada kita. Dan Kristus memberi hak kepada setiap kita yang menerima Dia sebagai Juruselamat untuk menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Kristus berkata kepada orang Yahudi yang tidak percaya kepada-Nya: “Iblislah yang menjadi bapamu” (Yohanes 8:41-47). Tetapi kepada murid-murid-Nya Kristus berkata bahwa Bapa-Nya adalah Bapa mereka juga (Matius 6:6, 14-15). Orang Yahudi yang tidak percaya kepada Kristus mempunyai konsep yang salah tentang Perjanjian Lama. Mereka rancu antara menyebut Abraham sebagai bapa mereka dengan menyebut Allah sebagai Bapa mereka (Yohanes 8:39, 41). Ini membuktikan konsep agama yang mereka terima sepanjang ribuan tahun adalah konsep yang salah tentang Perjanjian Lama. Dan Kristus berkata dengan sesungguhnya kepada mereka bahwa bapa mereka adalah iblis. Iblis mengajar manusia menjadi pembohong, karena dia adalah bapa dari segala pembohong.

Kristus mengatakan bahwa jika Abraham memang bapa mereka, niscaya mereka sudah datang kepada Kristus. Kristus menyatakan kebenaran, tetapi orang Yahudi bertekad untuk membunuh Dia. Perdebatan yang sengit terjadi antara Kristus dengan orang Yahudi. Kristus memberikan satu konsep tentang Bapa yang berlainan dengan konsep agama Yahudi yang tidak mengenal Allah sebagai Bapa. Doa pemazmur dalam terjemahan lain adalah “Allah, aku menyerahkan nyawaku kepada-Mu dan aku menunggu akan penebusan-Mu” (Mazmur 31:6). Doa Kristus adalah, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan Roh-Ku.”

Antara Bapa dengan Kristus ada relasi yang intim, hubungan yang manis, pegangan yang teguh dan iman yang menjadi teladan bagi kita masing-masing. Memanggil Allah sebagai Bapa tidak ada dalam mazmur. Dan Kristus tidak perlu menambah satu kalimat seperti pemazmur: Aku menunggu penbebusan-Mu. Jiwa Kristus tidak perlu penebusan. Jiwa Kristus bukan satu jiwa yang perlu ditebus, tetapi Dialah Oknum yang menebus jiwa manusia yang lain. Kristus menjadi satu Sumber yang baru dari puncak segala pengharapan yang timbul dari kolong langit ini.

Sesudah Kristus mengatakan perkataan ini, maka tidak lama kemudian seorang Kristen bernama Polykarpus mati martir pada abad pertama dengan mengatakan perkataan seperti ini juga. Polykarpus diikat dan dibakar seperti lilin. Orang membujuknya untuk menyangkal Kristus dan mengutuk Dia. Tetapi Polykarpus menjawab orang itu dengan lembut dan penuh dengan cinta kasih: “Selama delapan puluh empat tahun Kristus demikian baik kepada saya. Saya sudah mengalami anugerah Tuhan yang begitu besar. Bagaimana engkau bisa mengajak saya untuk mengutuk Dia yang baik? Bagaimana engkau bisa mengajak saya untuk menyangkal Krsitus yang begitu baik dan berbudi kepada saya?” Akhirnya orang Romawi menyiram minyak kepada tubuhnya dan membakar Polykarpus. Api membakar tubuhnya dan pada saat terakhir hidupnya, Polykarpus berkata: “Tuhan Yesus, aku menyerahkan rohku kepada-Mu.”

Berartus-ratus tahun kemudian seorang pemuda kurang ajar yang pintar bernama Agustinus, yang kehidupannya tidak karuan dan jatuh dalam hidup seks yang tidak beres, bertobat. Agustinus melayani Tuhan dan menjadi uskup. Dalam hidup dan pelayanannya ada delapan puluh uskup yang dipengaruhi olehnya untuk melayani Tuhan. Seorang pemuda yang paling rusak akhirnya menjadi seorang pemuda yang paling bersih dan berpengaruh kepada yang lain. Waktu ia mati, Agustinus mengatakan: “Tuhan Yesus, aku menyerahkan nyawaku kepada-Mu.”

Beratus-ratus tahun kemudian ada seorang bernama Bernard of Clairvaux yang amat mencintai Tuhan. Dia selalu membaca Kitab Suci dan memikirkan bahwa dirinya adalah seorang yang bisa mati. Dia selalu membaca Kitab Suci di hadapan sebuah salib dan sebuah tengkorak untuk memikirkan dirinya yang seharusnya mati dan Kristus yang sudah mati bagi dirinya. Dia mengajarkan empat tahap cinta dari seorang manusia tebusan terhadap Allah. Menurut dia, tahap tertinggi dari cinta kepada Allah adalah mencintai Allah tanpa motivasi yang lain. Karena Allah adalah Kasih, maka kasih yang murni adalah kasih terhadap Kasih. Kasih menggabungkan manusia dengan Allah. Pada saat kematiannya, ia berkata: “Aku menyerahkan rohku kepada-Mu, ya Tuhan Yesus.” Ia mati di dalam ketenangan.

Beberapa ratus tahun kemudian, seorang bernama John Huss dari Bohemia ikut melaksanakan reformasi. Ia merenggutkan kebenaran, kesejatian dan kemurnian firman Tuhan keluar dari bidat-bidat yang tidak beres pada waktu itu. Dia berjuang mengajarkan kebenaran dengan keberanian. Akhirnya ia ditangkap dan dihukum mati dengan cara dibakar. Pada waktu mati, ia mengatakan perkataan yang sama: “Tuhan Yesus, aku menyerahkan rohku kepada-Mu.”

Semua orang suci yang agung telah menetapkan diri berada di dalam posisi yang sudah disediakan oleh Yesus Kristus. Salib adalah tempat yang teduh bagi jiwa kita. Salib adalah tempat yang damai dan sejahtera bagi kita. Kristus sudah menyerahkan diri-Nya kepada Bapa. Di dalam tangan Bapa, kita mendapatkan satu tempat dan status perhentian yang kekal karena iman kepada Yesus Kristus. Kristus mengatakan: “Bapa, Aku menyerahkan Roh-Ku ke dalam tangan-Mu!”, lalu Ia menghembuskan nafas-Nya yang terakhir. Jam tiga sore itu, Tuhan kita meninggalkan dunia.

Selama tiga puluh tiga setengah tahun hidup di dalam dunia, Kristus memberikan air hidup kepada manusia. Pada saat terakhir hidup-Nya, manusia memberikan anggur asam kepada-Nya. Selama tiga puluh tiga setengah tahun hidup di dalam dunia, Kristus memberikan pengharapan kepada hidup manusia. Manusia mengecewakan Dia. Selama tiga puluh tiga setengah tahun hidup di dalam dunia, tak pernah sehari pun Ia hidup dengan enak atau nyaman. Yesus Kristus adalah manusia paling miskin yang pernah hidup di bawah kolong langit. Dia mengatakan: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” (Lukas 9:58). Dia pernah menangis, tetapi Alkitab tidak pernah mencatat bahwa Dia pernah tertawa. Alkitab mencatat tiga kali Kristus menangis, dan tidak ada satu pun dari tangisan-Nya yang ditujukan bagi diri-Nya sendiri. Dia adalah Allah yang Mahakuasa. Dia adalah Allah yang melakukan mujizat dengan kuasa-Nya. Tiga puluh lima kali Dia melakukan mujizat, dan tidak ada satu mujizat pun yang dilakukan-Nya bagi faedah diri sendiri. Inilah Yesus Kristus. “Terkutuklah barangsiapa yang tidak mencintai Yesus Kristus.”

Siapakah Yesus Kristus yang Anda terima sebagai Juruselamat? Siapakah Dia? Sudahkah Anda mengenal-Nya? Pada waktu menghembuskan nafas-Nya yang terakhir, Dia berhenti hidup sebagai Anak Manusia yang penuh dengan sengsara. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima Dia. ( Yohanes 1:11). Manusia yang dicipta oleh-Nya membuang Dia, memberikan tempat di Golgota bagi-Nya. Dengan cara kekejian, manusia berusaha supaya Dia mati di atas kayu salib. Mereka menertawakan Dia, mencobai Dia, meludahi Dia. Penghinaan yang terbesar, kekejaman yang paling keji dan kefasikan manusia yang tidak akan terlampaui lagi, sudah dialami oleh-Nya dengan rela. Cinta Tuhan begitu besar. Pada waktu menghembuskan nafas-Nya yang terakhir, behentilah Ia mengalami ketidak-adilan dari dunia. Berhentilah hidup-Nya dari dunia yang najis, yang menghina diri-Nya, dan Dia akan datang kembali di dalam hari yang besar itu. Tuhan Yesus menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.

Tubuh Kristus ditusuk, tetapi Roh-Nya sudah diserahkan-Nya kepada Bapa. Hanyalah Tuhan Yesus yang berkata: “Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” (Matius 10:28). Roh Kristus sudah diserahkan-Nya kepada Allah Bapa dan tubuh-Nya ditinggalkan-Nya di atas kayu salib.

“Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu! Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” (Lukas 22”19b). Ingatlah hal ini setiap kali Anda menerima roti dan cawan anggur dari Perjamuan Kudus. Jangan bermain-main dengan Perjamuan Kudus. Janganlah mengira bahwa diri Anda akan lebih bahagia ataupun lebih mendapatkan keuntungan dengan mengikuti Perjamuan Kudus. Roti dan cawan anggur mengajak kita mengingat kembali akan Cinta yang begitu agung dari Tuhan Yesus. Siapakah manusia yang pernah taat kepada Allah Bapa seperti Kristus? Adakah? Adakah manusia yang pernah hidup sebelum atau sesudah Kristus, yang taat kepada Allah Bapa secara tuntas? Tidak ada dan tidak mungkin. Hanya satu orang manusia yang pernah taat dengan tuntas kepada Allah yaitu Yesus Kristus.

Oratorio Messiah yang ditulis oleh George Frederic Handel mempunyai salah satu lagu yang berjudul All we like sheep have gone astray, yang syairnya dipetik dari Yesaya 53:6. Allah menimpakan segala dosa kita kepada-Nya. Seluruh model lagu yang dimulai dengan nada ceria menjadi melankolis pada waktu bagian syair yang berisi tentang segala dosa kita ditimpakan kepada Kristus dinyanyikan. Lagu yang tadinya bernada lincah ke sana ke mari karena kekacauan, berubah menjadi melankolis pada saat syair di mana Allah menimpakan segala kejahatan kita kepada-Nya dinyanyikan. Kita semua seperti domba yang tersesat tetapi Allah telah menimpakan segala dosa kita ke atas-Nya.

Yesus Kristus, berbaring dan beristirahat, menunggu akan hari yang besar di mana Dia bangkit. Kemuliaan Allah akan dinyatakan dan Roh Kudus akan turun dan menyadarkan manusia akan dosanya. Kristus bukan gagal. Satu hari Dia akan melihat bahwa di Indonesia yang jaraknya beribu-ribu kilometer dari Golgota, ada orang-orang yang mencintai Dia dan mengingat Dia. Nyanyian terakhir dari oratorio St. Matthew Passion yang digubah oleh Johann Sebastian Bach berjudul Wirsetzenz uns mit Trannen Nieder berisi syair demikian:

Dengan tangisan,
Kami mengantar Engkau ke kuburan
Tuhanku, berbaringlah
Tuhanku, mengasolah di kuburan

Waktu teriakan terakhir sudah dikatakan dan hembusan nafas terakhir sudah terjadi, maka Tuhan Allah turun tangan dengan menggempakan bumi dan membangkitkan orang-orang mati dari kuburan mereka (Matius 27:51-53). Inilah satu hal yang menakutkan. Dengan mata jasmaniah-Nya, Yesus tidak melihat semua hal itu. Dia sudah menyerahkan semuanya kepada Allah Bapa-Nya. Yesus menghembuskan nafas-Nya yang terakhir. Mengapa mujizat itu terjadi? Apakah mujizat itu Allah lakukan untuk Kristus? Tidak. Yesus Kristus tetap melihat cahaya kemuliaan Allah meskipun di dalam kegelapan. Di dalam kepicikan sekalipun, Dia tetap melihat Allah yang tidak berubah setia. Di dalam ajal-Nya yang terakhir dan di dalam tetesan darah-Nya yang terakhir, Yesus Kristus tidak melihat perubahan situasi, tetapi hati-Nya yang taat kepada Allah juga belum pernah berubah. “Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.”

Alkitab berkata bahwa sesudah Kristus mati, maka orang-orang yang berada di Golgota dirundung suatu ketakutan yang besar (Matius 27:54). Injil Lukas mencatat bahwa orang-orang tersebut pulang dari Golgota sambil memukul-mukul diri karena kejadian itu (Lukas 23:48). Tetapi apakah dengan memukul diri bahkan sampai mati bisa menghentikan murka Allah? Tidak bisa. Apakah penyesalan atas dosa dengan airmata bisa merubah hidup manusia yang menuju kematian kekal? Tidak bisa. Apakah dengan menusuk diri dengan pisau bisa membuka pintu sorga? Tidak bisa. Apakah dengan melompat-lompat sambil menjambak rambut dan membenci diri sampai membakar diri sendiri bisa menghentikan pintu neraka yang sudah menunggu? Tidak bisa. Hanya satu hal yang bisa merubah semua ini. Bukan dengan penyesalan, bukan dengan memukul-mukul dada, dan bukan dengan cambuk menyiksa diri. Jangan lupa bahwa Yesuslah yang sudah mengalirkan darah. Dialah yang telah merubah situasi. Yesus berkata: “Tetelesthai! Sudah genap!”

Tuhan Yesus sudah bertahan menguduskan diri-Nya bagi orang lain dan sudah berjuang melawan dosa sampai mengalirkan darah (Ibrani 12:3-4). Allah belum pernah merugikan orang yang sungguh-sungguh mencintainya. Allah belum pernah membuang orang yang sungguh-sungguh menghormati Dia. Kristus sebagai Anak Allah dan Kristus sebagai Anak Manusia. Selain menjadi Penebus, Dia juga menjadi contoh yang baik bagi kita. Allah sudah menyediakan seorang bernama Yusuf dari Arimatea yang mempunyai banyak uang dan kedudukan di masyarakat untuk mempersiapkan kuburan yang terbaik bagi Yesus. Juga Nikodemus yang mempersiapkan berpuluh-puluh kilogram rempah-rempah dan kain kafan untuk menguburkan-Nya (Matius 27:57; Yohanes 19:38-40). Semua itu belum dilihat oleh Yesus sebelum mati, tetapi Allah tahu bahwa di dalam tangan-Nya, tidak ada satu hal pun yang salah.

Setelah mati, Tuhan Yesus menantikan akan kebangkitan-Nya dan pengenapan janji Allah kepada-Nya yang tercatat di dalam Mazmur 2 dan diulangi lagi dalam Yohasnes 17, di mana Bapa akan memberikan bangsa-bangsa menjadi milik Yesus Kristus. Bapa berkata kepada Kristus Anak-Nya: “Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepada-Mu menjadi milik pusaka-Mu dan ujung bumi menjadi kepunyaan-Mu.” (Mazmur 2:8). Suatu hari segala kerajaan akan menjadi Kristus. Bapa yang akan memberikan-Nya kepada Kristus, bukan iblis. Iblis tidak berhak memberi segala hal itu kepada Kristus. Iblis berusaha berlaku seperti Allah, yang akan menyerahkan segala bangsa kepada Kristus (Matius 4:9-10). Kita harus mengetahui dengan jelas akan segala sesuatu yang datang kepada kita sebagai pemberian. Jika pemberian itu datang dari iblis, maka kita harus berkata seperti Kristus: “Enyahlah engkau. Yang kau tawarkan itu bukan hakmu, tetapi hak Allah. Tuhan Allah yang akan memberikan kepadaku sesuai dengan waktu Tuhan.” Adakah penawaran yang indah-indah dari dosa? Adakah penawaran dari iblis? Tolaklah, karena Tuhan sudah menyediakannya bagi kita.

Apakah arti dari janji Allah yang berkata bahwa segala bangsa akan menjadi milik Kristus dan ujung bumi akan menjadi milik pusaka Kristus? Artinya, akan ada orang yang akan dimiliki Yesus Kristus dari segala ujung bumi, segala tempat dan segala suku bangsa. Itulah orang yang menjadi Kristen melalui penginjilan di seluruh dunia. Tuhan akan bangkit, mendapatkan segala kuasa di sorga maupun di bumi dan mengutus rasul-Nya pergi mengabarkan Injil (Matius 28:18-20). Meskipun mereka tidak mempunyai pengetahuan yang banyak, kedudukan yang tinggi ataupun dana bagi pekabaran Injil, tetapi rasul-rasul Tuhan akan menggenapkan apa yang Bapa perkenan, yaitu melalui pekabaran Injil, orang-orang dari segala bangsa akan menjadi milik Kristus. Yesus orang Galilea, orang Nazaret, orang di Golgota, mencintai Anda dan saya. Dia mati dengan begitu sengsara dan begitu hina. Mungkinkah kekayaan raja-raja di dunia dibandingkan dengan Kristus? Mungkinkah kuasa-kuasa di dunia dibandingkan dengan Dia? Kristus yang mati di dalam sengsara adalah Kristus yang menang.

Kristus menunggu akan hari yang besar, selain dari hari kebangkitan-Nya atau pun hari kenaikan-Nya. Hari itu adalah hari di mana Dia akan datang kembali. Kelak semua orang tidak percaya akan melontarkan satu pertanyaan seperti Pilatus dan Kayafas: “Bagaimana kita harus menghadapi Dia?” Suatu hari kalimat Pilatus dan Kayafas ini akan diulangi lagi oleh semua orang yang tidak percaya kepada-Nya. Yesus Kristus sudah mati. Dia sudah tenang dan mengaso. Tetapi bisakah Anda tenang dan mengaso dalam kematian tanpa menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat? Bisakah Anda mengaso dan tenang dalam kekekalan tanpa Kristus? Tidak! Kita hanya bisa beristirahat dalam kekekalan melalui ketaatan kepada Kristus.

Gereja akan menuju kepada hari penyempurnaan. Orang-orang yang pernah ditebus Kristus dengan darah-Nya, dari orang pertama sampai orang terakhir yang percaya, akan menjadi mempelai perempuan Kristus di dalam perkawinan rohani. Perkawinan itu adalah perkawinan kekal dan terjadi pada waktu Kristus datang untuk kedua kali. Kristus yang disalib adalah Kristus yang menang. Kristus yang dipermalukan adalah Kristus yang mulia. Dia dipermalukan sehina mungkin, tetapi akhirnya dipermuliakan sebesar-besarnya. Dialah Tuhan. Maukah menjadikan Dia sebagai Alfa dan Omega Anda? Maukah Anda menyerahkan seluruh hidup Anda ke dalam tangan-Nya? Terimalah ajakan Kristus yang mulia ini.

Amin.

SUMBER :
Nama buku : 7 Perkataan Salib
Sub Judul : Kuserahkan nyawa-Ku
Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 1999
Halaman : 133 – 151
Artikel Terkait :
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube