Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

kingdom-of-godB. SYARAT PELAYANAN YANG PENTING : HIDUP KRISTEN

Jika demikian, mengapa orang percaya harus menjadi seperti anak-anak? Orang percaya yang sunggguh-sungguh, polos dan tulus seperti anak kecil. Mereka tidak bisa licik dan pura-pura. Orang Kristen harus polos dan tulus, tetapi tidak boleh bodoh. Kita harus tulus seperti merpati, tetapi cerdik seperti ular. Jadi orang Kristen itu harus menjadi orang yang baik dan pandai. Celakanya, orang pandai jarang yang baik, dan yang baik jarang pandai.

Di New York ada orang yang begitu mendesak mengajak saya makan, sehingga saya menyangka dia ingin bertanya beberapa hal atau ingin konseling. Tetapi ternyata tidak ada hal serius yang dibicarakan. Setelah itu saya pergi berkhotbah. Lalu seorang penatua memberitahu saya bahwa dia mengundang saya karena ingin tahu apakah saya cukup pandai atau tidak. Dari khotbah saya, dia menduga saya cukup pandai; tetapi dia ingin diyakinkan melalui berbicara langsung dengan saya. Sekaligus mau menguji sifat saya. Kesannya pada penatua yang masih keluarga dekatnya, “Setelah bertemu dengan Stephen Tong, ternyata di dunia ini masih ada orang pandai yang polos seperti dia. Di dunia sekarang ini, apalagi seperti di New York begini, sulit mencari orang yang pandai dan baik. Kebanyakan yang pandai tidak baik dan yang baik bodohnya luar biasa.” Saya baru sadar bahwa saya sedang dijebak dan diuji orang. Tetapi itu menyadarkan saya bahwa di setiap saat, sebagai orang Kristen kita harus bisa menampilkan sifat sebagai warga Kerajaan Allah, yang berbeda dari mereka yang berada di dalam kerajaan dunia.

Manusia selalu mengintai apa yang saudara katakan dan lakukan. Dari situ mereka akan mencatat dan menilai apa yang kita lakukan. Dari situ seringkali orang bukan Kristen sulit menjadi Kristen, karena mereka melihat reaksi Anda. Mereka tidak melihat anak-anak dalam Kerajaan Allah lebih baik daripada anak-anak dalam kerajaan dunia. Jika orang Kristen berdagang lebih licik dan lebih jahat dari orang dunia, maka meskipun Anda diperlengkapi dengan banyak teori penginjilan, mulut Anda tidak bisa berkuasa, karena tidak ada ‘buah’ hidup yang menyertainya. Oleh karena itu kita yang berada di dalam Kerajaan Allah harus berbeda total dengan orang yang hidup dalam kerajaan setan. Apa perbedaannya?

Di dalam Kerajaan Allah hanya ada satu prinsip yang dipakai Tuhan untuk memerintah seluruh umat-Nya, yaitu prinsip kebenaran (Yunani: diakaiosunh). Di dalam kerajaan setan hanya ada satu prinsip untuk memerintah seluruh umat yang ada di bahwa tangannya, yaitu prinsip dosa. Di dalam kerajaan setan, sifat dosa menjadi sangat menonjol dan menjadi ciri utama. Sedangkan di dalam Kerajaan Allah sifat kebenaran menonjol dan menjadi ciri utama. Apa yang dikatakan dan dilakukan mempunyai “kompas”, sehingga apa yang tidak harus dikatakan tidak dikatakan, dan yang tidak boleh dilakukan tidak dilakukan. Semua itu dikontrol oleh kebenaran. Kebenaran menjadi “kompas” yang mengontrol,. Mengarahkan dan memimpin seseorang untuk apa yang dikatakan dan dilakukannya. Inilah ciri yang membedakan kita yang berada di dalam Kerajaan Allah dengan yang berada di dalam kerajaan setan.

Apakah kita sudah sempurna benar? Tidak! Kita melihat seperti Paulus, bahwa di dalam dunia ini kita tidak menganggap sudah sempurna atau sudah mencapai garis akhir, tetapi berjuang, berusaha sekuat tenaga untuk mencapai apa yang Tuhan telah janjikan ketika memanggil kita (Filipi 3:12-14). Itulah sebabnya kita menunggu sambil merubah diri. Di dalam transformasi melalui reformasi, kita menuju kepada kesempurnaan yang dijanjikan dan diwujudkan oleh Kristus. Ini merupakan doa dari anak-anak Tuhan di dalam Kerajaan Allah, yang terungkap dalam Matius 6:33, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu.”

Doa adalah suatu keinginan mendasar di dalam hidup seseorang, yang diutarakan dari sedalam-dalamnya diri kita. Doa merupakan pernyataan keterbatasan diri kita, ketidak-mampuan kita, yang menyebabkan kita datang kepada Dia. Doa juga merupakan suatu pengakuan bahwa Allah satu-satunya sumber kehidupan dan kecukupan berkat. Doa juga merendahkan diri di bawah takhta Tuhan. Doa bukan keras-keras berteriak memaksa Tuhan, atau memukul-mukul meja atau membanting kursi. Melalui doa sekarang kita harus mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, dan melalui doa kita menantikan langit baru dan bumi baru akan tiba ke dalam dunia di mana di dalamnya terdapat kebenaran (2 Petrus 3:13).

C. PELAYANAN KRISTEN BERWAWASAN KERAJAAN ALLAH

Di dalam dunia ini, kita melihat di dalam Gereja Tuhan, banyak orang yang palsu di dalamnya. Biarlah gandum dan lalang sama-sama bertumbuh, tetapi biarlah mereka yang sungguh-sungguh umat Tuhan berada di dalam Kerajaan Allah. Mereka yang berada di dalam Kerajaan Allah sungguh-sungguh mencari kebenaran Allah, takluk pada kuasa Allah, takluk pada kehendak Allah, menanti datangnya langit baru dan bumi yang baru, di mana di dalamnya ada kebenaran-keadilan Allah.

Mulai saat ini, hendaklah kita senantiasa sadar bahwa kita adalah milik Kerajaan Allah. Jika kita melihat dunia yang semakin hari semakin terpecah-belah, setiap bagian mau memerdekakan diri, Alkitab mengatakan bahwa dunia ini akan goncang. Kerajaan Allah adalah Kerajaan yang tak tergoncangkan. Dan jika kita adalah warga Kerajaan Allah, maka kita harus mematuhkan diri untuk takluk kepada Raja di atas segala raja itu. Orang Kristen sejati akan melihat Kerajaan Allah melampaui semua kerajaan dunia. Orang Kristen sejati akan melihat Kerajaan Allah lebih dari semua denominasi gereja. Orang yang hanya mau melayani denominasimu sendiri dan tidak peduli dengan seluruh pekerjaan Allah secara global, hanyalah orang denominasi dan bukan orang Kerajaan Allah.

Gereja kita yang berdenominasi hanya merupakan salah satu pos penginjilan dari Kerajaan Allah yang besar dan universal. Jadi jika kita hanya melayani satu denominasi dan tidak memikirkan seluruh Kerajaan Allah, maka kita tidak melayani Kerajaan Allah. Kita harus mencari Kerajaan Allah lebih dari sekedar denominasi atau gereja lokal kita saja.

Terkadang saya mengeluh atas sikap murid-murid saya, yang ketika mengundang saya untuk kebaktian kebangunan rohani, hanya memikirkan gereja mereka sendiri. Mereka hanya peduli dengan gereja di mana mereka melayani, dan mereka tidak mempunyai pemikiran untuk seluruh kita, seluruh dunia, seluruh orang Kristen yang sesungguhnya dari semua denominasi.

Jangan letakkan saya ke dalam program Anda, kalau program Anda hanya memikirkan kepentingan lokal saja. Kalau itu menjadi beban Anda, silahkan kerjakan sendiri. Saya mengerti bahwa beban yang diberikan Tuhan kepada saya jauh lebih besar dari sekedar sebuah gereja lokal. Saya harus melayani ke semua kota, ke semua negara. Saya mengerti apa yang harus saya khotbahkan, tidak perlu menetapkan tema untuk saya melakukan Seminar Pembinaan Iman Kristen.

Saya menekankan kepada jemaat di Gereja Reformed Injili Indonesia yang saya dirikan, bahwa jangan menganggap kalau mereka semakin mencintai GRII sampai lebih daripada mencintai Tuhan itu baik. Kalau orang lebih cinta gereja ketimbang cinta Tuhan, ia sedang berdosa sambil mencintai gereja. Ketika saya mengatakan ini di sebuah gereja, maka jemaat dan majelis gereja itu marah. Saya bukan mengatakan tidak boleh mencintai gereja di mana kita berada, tetapi kalau sudah lebih daripada mencintai Tuhan dan Kerajaan Allah, itu berdosa. Kerajaan Allah lebih besar dari gereja kita sendiri. Jika Anda tidak mengerti konsep seperti ini, maka Anda akan terikat dan diikat menjadi budak dari denominasi, administrasi, organisasi yang sangat kecil dan tidak bisa menjadi berkat bagi banyak orang.

Pada tahun 2000, gereja kami memberikan dukungan keluar dari berbagai bahan pelayanan dan penginjilan sebesar Rp.1,8 milyar. Tidak ada gereja yang mau melakukan seperti ini. Setiap tahun kami menyisihkan dana untuk menjalankan kepentingan Kerajaan Allah secara umum, bukan untuk denominasi sendiri. Kalau ada orang yang betul-betul melayani, kami mengirimkan dukungan. Ada yang melihat hal itu. Langsung kirim surat dan minta dukungan, saya tidak pedulikan sama sekali. Itu justru menunjukkan orang yang hanya mencari kepentingan sendiri dan bukan mau menjadi berkat buat orang lain.

Dari mana datangnya uang tersebut? Dari persembahan. Persembahan yang masuk ke gereja, disisihkan sebagian untuk mendukung pekerjaan Tuhan di luar gereja sendiri. Padahal gereja sendiri saat itu tidak punya gedung sendiri. Sekalipun demikian, pekerjaan Kerajaan Allah tidak boleh ditunda.

Terkadang saya dalam keadaan lelah harus pergi ke berbagai negara untuk melayani. Tidak ada alasan untuk tidak pergi. Mengapa? Karena Kerajaan Allah lebih besar dari gerejaku. Konsep dan berita seperti ini mungkin sangat tidak menyenangkan telinga banyak pendeta dan majelis, tetapi saya tetap harus mengkhotbahkan dan memberitakannya, karena ini merupakan kebenaran Alkitab. Banyak orang melihat Kerajaan Allah hanyalah diidentikkan dengan tempat pelayanannnya. Marilah kita punya pemikiran yang lebih global.

Jika Anda berdoa, berdoalah untuk misi Kerajaan Allah yang lebih besar. Jangan berdoa hanya untuk lingkup yang kecil. Di dalam persekutuan doa penginjilan, saya selalu menggumulkan berdoa untuk orang-orang yang sangat melawan Tuhan, bagi yang dipengaruhi oleh filsafat yang keras melawan Tuhan, atau berbagai konsep agama lain. Ini adalah misi Kerajaan Allah yang melampaui wilayah dan negara.

D. JABATAN GEREJAWI YANG FUNDAMENTAL

Gereja, bukan hanya gereja saat ini, tetapi gereja sepanjang zaman, sejak mulai dari wahyu diberikan, yaitu kitab Kejadian dan berakhir pada saat Kristus datang kembali, di mana “mempelai wanita” itu akan diangkat dan dipertemukan dengan Kristus sebagai mempelai prianya. Inilah gereja am, yang melampaui tempat dan waktu. Gereja meliputi semua orang yang ditebus di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (Ibrani 9:14-15). Orang Perjanjian Baru ditebus setelah Yesus mati, dan orang Perjanjian Lama ditebus sebelum Yesus mati. Jadi khasiat penebusan Kristus melampaui waktu, karena persembahan penebusan Kristus bersifat kekal.

Orang-orang Perjanjian Lama menerima penebusan melalui menanti dan berharap. Mereka menanti dan berharap kehadiran Juruselamat yang menebus dosa mereka (Ayub 19:25-26). Dalam ungkapan Ayub, dinyatakan pengharapan Ayub akan hadirnya Penebus yang hidup dan bangkit. Dan Ayub mengerti bahwa setelah tubuh duniawinya rusak, di dalam kondisi tanpa tubuh, Ayub akan melihat dan memandang Kristus. Saat itu pandangan Ayub memandang pada hari kiamat, di mana ia akan diangkat untuk bertemu dengan Dia. Inilah kepercayaan orang saleh yang sebenarnya belum mengerti secara tepat apa yang terjadi. Tuhan Yesus belum datang, belum lahir, belum dipecahkan tubuh-Nya dan belum tercurah darah-Nya; namun Ayub sudah melihat. Ayub justru hidup sebelum Musa, sebelum Taurat dituliskan.

Di dalam Ibrani 11:8-13 diungkapkan tentang iman Abraham. Melalui apa yang dinyatakan di sini, membuktikan bahwa orang dalam Perjanjian Lama memandang ke depan dan menanti kedatangan Penebus mereka. Mereka yang di Perjanjian Lama memang belum mengetahui akan Kristus, tetapi secara iman mereka memandang ke depan kepada Kristus. Sekali pun sampai mati mereka belum sempat melihat Kristus, tetapi justru hidup mereka tidak dibatasi oleh kematian. Janji Kristus juga tidak dibatasi oleh kematian.

Dari jauh Abraham melihat Yesus Kristus. Ini terlihat di dalam Yohanes 6:56-57. Di sini Tuhan Yesus sendiri mengkonfirmasikan apa yang dipandang secara iman oleh Abraham. Orang-orang Yahudi marah sekali ketika Tuhan Yesus mengatakan hal itu dan mau membunuh Yesus, tetapi Yesus menyingkir dari mereka. Ini suatu sindiran bagi orang-orang Yahudi, karena Abraham yang lahir begitu jauh waktunya bisa melihat Yesus, tetapi mereka yang justru berhadapan muka, begitu dekat, tidak diperkenankan untuk melihat dan mengerti Yesus.

Jadi, gereja bukan sekedar gereja lokal, tetapi gereja yang kudus dan am. Ia melampaui ruang dan waktu, melampaui segala batasan wilayah dan denominasi. Lalu apa yang harus kita lakukan di dalam gereja am ini?

Pelayanan gerejawi meliputi 3(tiga) lapisan: (1) Meliputi jabatan-jabatan gerejawi yang langsung dipilih oleh Tuhan Allah; (2) Meliputi pelayanan jabatan-jabatan yang dipilih dari jemaat; dan (3) Meliputi pelayanan dari semua anggota yang tidak perlu dipilih oleh siapapun. Setiap orang percaya harus mulai mengerti di mana bagian pelayanannya. Dan setelah mengetahui bagian pelayanan yang Tuhan kehendaki, kita harus mencari di mana ladang tempat kita melayani, dan prinsip-prinsip pelayanan yang harus kita tegakkan.

1. Lima Jabatan Yang Dikaruniakan Allah

Pelayanan ini meliputi jabatan rasul, nabi, pemberita Injil (penginjil), gembala (pendeta) dan pengajar (Efesus 4:11). Tuhan Yesus memberikan lima jabatan bagi gereja-Nya.

a. Rasul dan Nabi

Di sini kita melihat urutan rasul diletakkan mendahului nabi, padahal nabi dari Perjanjian Lama dan rasul dari Perjanjian Baru. Apakah ini kesalahan tulis? Tidak! Jika kita bandingkan 1 Korintus 12:28, kita menemukan urutan yang sama. Jadi kita melihat bahwa penempatan rasul justru di tempat pertama, baru kemudian nabi di tempat ke-dua.

Di dalam Perjanjian Baru memang ada nabi, tetapi Tuhan Yesus mengatakan bahwa nabi bernubuat sampai pada Yohanes Pembaptis. Jadi Yohanes Pembaptis yang terakhir. Namun di pihak lain kita melihat ada orang-orang yang disebut nabi di dalam Perjanjian Baru. Jadi siapakah yang dimaksud nabi di sini?

Mari kita melihat perbandingan lagi dalam Efesus 2:19-20. Gereja dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, di mana Kristus sebagai batu penjuru. Istilah nabi di sini jelas mewakili Perjanjian Lama, dan rasul mewakili Perjanjian Baru. Maka istilah “nabi” di sini menunjuk pada nabi Perjanjian Lama. Nabi menuliskan Perjanjian Lama dan rasul menuliskan Perjanjian Baru. Tidak ada gereja didirikan di atas dasar nabi Perjanjian Baru. Nabi-nabi Perjanjian Baru tidak ada yang menubuatkan penulisan Kitab Suci dan menjadi dasar gereja. Jadi kita harus melihat bahwa nabi yang bernubuat untuk firman Tuhan adalah nabi Perjanjian Lama. Kita perlu jelas dengan konsep nabi di sini. Pusat seluruhnya adalah Kristus, sehingga Kristus menjadi penggabung dan pemersatu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Mengapa urutannya dibaliik? Karena Perjanjian Lama mempersiapkan Perjanjian Baru. Perjanjian Baru menggenapi dan mengkonkritkan apa yang dibicarakan Perjanjian Lama. Perjanjian Lama menyatakan bahwa Yesus akan datang, dan Perjanjian Baru menyatakan bahwa Yesus sudah datang. Penebus akan disengsarakan, akan dibunuh, akan dikubur di tempat orang kaya dinyatakan oleh Perjanjian Lama, dan Penebus itu sudah disengsarakan, dibunuh dan dikuburkan di tempat Yusuf dari Arimatea, dinyatakan oleh Perjanjian Baru. Semua di Perjanjian Lama merupakan nubuat nabi, dan Perjanjian Baru adalah tulisan rasul.

Jadi, jabatan rasul dan nabi dari lima jabatan yang diberikan oleh Tuhan Allah, menunjuk pada nabi Perjanjian Lama dan rasul Perjanjian Baru. Tetapi mengapa urutannya sengaja dibalik? Hal ini karena ajaran rasul yang menjadi kunci untuk membuka rahasia ajaran nabi. Jika tidak ada penggenapan di dalam Perjanjian Baru, maka tidak mungkin manusia dapat mengerti apa yang dinubuatkan di dalam Perjanjian Lama.

Jadi semua rahasia di dalam Perjanjian Lama tidak mendapatkan pengertian yang jelas dan benar kecuali kita mengertinya dari sudut Perjanjian Baru. Maka salah satu prinsip penting di dalam Kekristenan adalah bagaimana gereja harus memelihara ajaran para rasul untuk menjadikan gereja tersebut tetap benar. Saat ini banyak gereja-gereja mulai meninggalkan ajaran para rasul, ajaran mereka jauh dari Alkitab. Sekali pun mereka punya anggota beribu-ribu orang, tetapi jika ajaran mereka menyimpang dari ajaran Alkitab, saya tidak akan menganggap itu sebagai gereja yang benar. Dan memang pada akhir zaman, yang setia tidak banyak. Setia pada siapa? Bukan asal gereja bertumbuh secara kuantitas dan menjadi banyak, tetapi gereja yang setia pada ajaran para rasul.

Kisah Para Rasul 2:41-42 mengatakan, ”Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptiskan dan jumlah mereka pada hari itu bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Mereka bertekun di dalam pengajaran rasul-rasul, dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.”

Inilah hari lahirnya gereja, dan pada hari itu pertama kali gereja didirikan. Cirinya jelas, yaitu:

  1. bertekun pada ajaran rasul;
  2. persekutuan;
  3. memecahkan roti; dan
  4. berdoa.

Gereja yang sejati harus mendasarkan iman mereka dan pengajaran khotbah mereka pada ajaran para rasul. Gereja yang sejati harus bersekutu dengan sungguh-sungguh saling mengasihi. Gereja yang sejati harus memecahkan roti, mengingat kematian Kristus untuk penebusan dosa, dan gereja yang sejati berdoa dengan sungguh kepada Tuhan. Ciri ini juga sekaligus menjadi ciri dari orang Kristen yang sejati.

Di dalam ayat ini, tidak dibicarakan tentang pengajaran nabi. Hal ini karena kita baru bisa mengerti pengajaran dari nabi dari ajaran para rasul. Yesaya 53 menubuatkan tentang kesengsaraan Kristus dan keadaan manusia. Tanpa Perjanjian Baru dan ajaran rasul, tidak mungkin kita bisa mengerti, bahwa apa yang dibicarakan di dalam Yesaya 53 menunjuk kepada Kristus. Ajaran nabi tidak akan bisa kita mengerti dengan tepat tanpa pencerahan dari Perjanjian Baru.

Sampai hari ini, orang Israel tidak percaya bahwa apa yang dikatakan di dalam Yesaya 53 adalah nubuat untuk Yesus. Mereka beranggapan bahwa Yesaya 53 itu menunjuk pada orang-orang Israel sendiri yang mengalami kesengsaraan dan dibunuh di masa Perang Dunia II sebanyak 6,5 juta orang. Mereka melihat bahwa orang-orang Israel itulah yang menebus dosa mereka. Maka tafsiran para rabbi Israel tetap tidak beres tanpa pencerahan ajaran rasul dalam Perjanjian Baru.

Kita mengetahui bahwa Yesaya 53 menunjuk pada Yesus karena dinyatakan di dalam Kitab Para Rasul. Pada saat itu ada seorang sida-sida dari Ethiopia yang sedang berkendaraan sambil membaca kitab Yesaya. Ia begitu bingung mencoba mengerti apa yang diungkapkan dalam Yesaya 53 tersebut. Maka saat itu Roh Kudus memerintahkan Filipus untuk menemuinya. Filipus yang baru sukses besar melakukan KKR di Samaria, kini diperintahkan dan dibawa ke padang belantara untuk menemui sida-sida ini dan menjelaskan bahwa apa yang dinyatakan Yesaya 53 menunjuk pada Kristus yang mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia (Kisah Para Rasul 8:26-40). Maka Perjanjian Baru adalah kunci untuk mengerti Perjanjian Lama. Itulah sebab yang tepat mengapa di dalam urutan nabi dan rasul, selalu rasul diletakkan di depan.

Jadi di dalam Efesus 4:11, urutan yang pertama adalah rasul, baru nabi. Setelah itu barulah penginjil, gembala dan guru. Jabatan nabi tetap dicantum di sini agar gereja tidak melupakan pengajaran Perjanjian Lama. Sekarang ini rasul dan nabi tidak ada, karena pondasi ini sudah selesai dengan lengkap tertulisnya Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Rasul dan nabi merupoakan pondasi gereja. Jika sampai saat ini masih ada, maka pondasi itu terus berubah, dan itu juga berarti Kitab Suci juga belum lengkap. Ini tidak mungkin dan tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab.

b. Penginjil, Gembala dan Pengajar

Kini ada tiga jabatan lain: penginjil, pendeta dan guru. Ketiganya sederajat, jadi penginjil tidak lebih rendah dari pendeta. Sekarang banyak gereja yang membalikkan posisi penginjil. Yang terpenting justru pendeta. Bahkan posisi penginjil dianggap lebih rendah. Di Alkitab penginjil diletakkan di depan, karena tanpa ada penginjil yang memberitakan Injil, tidak ada orang yang akan percaya dan mengenal Tuhan. Jika tidak ada orang percaya, maka tidak ada orang yang akan digembalakan, jadi tugas gembala tidak diperlukan. Jadi gereja banyak yang tidak bertumbuh karena tidak ada penginjil yang memberitakan Injil. Mereka hanya menggembalakan domba-domba yang melahirkan domba kecil. Maka gereja akhirnya mati. Jika dalam satu gereja ada orang atau hamba Tuhan yang betul-betul giat memberitakan Injil, saya akan sangat menghargai, karena itu adalah prinsip Alkitab. Banyak gereja Reformed yang justru melupakan tugas dan panggilan ini.

Itu alasan saya sangat menyerang gereja-gereja Reformed di seluruh dunia. Gereja Reformed dari Stephen Tong bukan cabang dari Amerika. Saya tidak diutus oleh gereja di Amerika untuk ikut-ikutan buka cabang di Indonesia. Tidak ada satu sen pun gereja Reformed di Amerika yang menunjang atau memberikan subsidi bagi kami. Kalau saya mengundang dosen-dosen dari Amerika, kami membayar tiket pesawat dan memberikan honor kepada mereka. Saya tidak mau Indonesia dihina oleh orang-orang luar negeri. Kalau saya menjadi pembicara utama di dalam sebuah kongres internasional, maka saya membawa uang untuk memberikan persembahan kepada mereka. Bagi saya, orang Indonesia tidak boleh dihina.

Dengan demikian, penginjil mendahului pendeta dan pendeta mendahului guru. Seperti rasul lebih penting dari nabi, karena dari ajaran rasul kita mengerti ajaran nabi, maka penginjil kunci bagi adanya orang yang bisa digembalakan, dan setelah digembalakan baru bisa diajar.

Penginjil sangat penting di dalam gereja, tetapi saya sedih karena banyak gereja tidak lagi mementingkan penginjilan. Lebih menyedihkan lagi, banyak pemuda-pemudi yang menyerahkan diri mau memberitakan Injil, setelah selesai sekolah teologi, justru tidak mau menginjil lagi. Banyak sekolah teologi merupakan pabrik-pabrik yang memusnahkan jiwa penginjilan. Ini dosa besar sekolah teologi. Mengapa? Menjadi penginjil kehidupannya seolah tidak terjamin. Orang yang belum percaya tidak mau menghidupi penginjil, tetapi gereja-gereja mempersiapkan banyak uang dan fasilitas untuk pendeta.

Dalam Amsterdam 86, diselidiki bahwa tidak ada satu pun penginjil Tionghoa yang bisa hidup dari penginjilan. Mereka harus jadi pendeta dan sekaligus menginjil, karena tidak tahu darimana nafkah hidupnya. Semua keadaan ini merupakan penyelewengan dari Alkitab. Saya berharap jika Anda terpanggil untuk menjadi penginjil, maka gereja tempat Anda berbakti sadar dan mendukung sepenuhnya panggilan itu. Gereja harus menguatkan dan menghidupkan orang-orang yang memberitakan Injil.

Saya bertemu dengan seorang pendeta di Singapore, yang sedang giat memberitakan Injil di Malaysia. Dia mengatakan bahwa di Malaysia banyak orang yang begitu responsif terhadap firman Tuhan dan mereka mau percaya. Tetapi orang ini harus jadi pendeta di Singapore, walaupun tidak sukses, karena kalau tidak jadi pendeta, tidak ada nafkah yang bisa didapatkannya. Hal ini menjadikan saya mulai bergumul: apakah STEMI akan dipakai Tuhan untuk menjamin kehidupan pendeta ini, agar ia bisa memberitakan Injil dengan lebih efektif dan giat tanpa perlu menjadi pendeta. Ada orang-orang yang memang Tuhan panggil untuk menjadi penginjil.

Billy Graham sudah menjadi rektor sebuah sekolah teologi, ketika pada suatu malam ia membaca Kitab Suci dan menguji kembali pelayanannya, dan akhirnya ia mengerti bahwa ia terpanggil untuk menjadi penginjil. Ia taat dan akhirnya seumur hidup diabadikan untuk memberitakan Injil. Ia menemukan bahwa ia dikaruniakan panggilan jabatan penginjil. Ia jelas posisinya di hadapan Tuhan. Saat ini banyak pendeta tidak tahu posisinya.

Billy Braham mulai dengan menyewa dan mendirikan tenda yang sangat besar di Los Angeles. Di sana ia berkhotbah berhari-hari dan setiap kali semakin banyak orang yang mendengar khotbahnya. Akhirnya peristiwa ini menggemparkan Amerika Serikat. Sampai satu hari seorang aktor terkenal di Amerika mengetuk pintu hotelnya dan bertobat. Ia mau menjadi orang Kristen, tetapi Billy Graham menolak. Kalau mau bersaksi tidak malam-malam di kamar hotel, tetapi besok di kebaktian, di depan semua orang harus bersaksi dan menyatakan bahwa ia bertobat. Aktor Hollywood ini bersaksi dan ia menyadarkan banyak orang yang tergila-gila pada Hollywood, bahwa bintang film yang dianggap sangat sukses akhirnya harus kembali kepada Kristus. Mereka mulai mengenal Billy Graham. Seorang bom-sex Hollywood, Jane Russell, juga akhirnya bertobat. Hal ini membuat Billy Graham menjadi sangat terkenal. Khotbahnya dihadiri oleh puluhan ribu orang. Billy Graham mengetahui dengan pasti jabatan yang seharusnya.

Setelah banyak orang bertobat, dibawa ke gereja, baru pendeta punya pekerjaan. Pendeta bagaikan suster yang mengurus orang sakit. Lalu yang perlu diajar, akan diajar oleh guru. Kelima jabatan ini merupakan jabatan yang ditentukan oleh Tuhan Allah sendiri, bukan hasil organisasi gereja atau pilihan manusia.

2. Dua Jabatan Yang Dipilih Jemaat

Di sini ada dua jabatan, yaitu: (1) penatua; dan (2) diaken. Sebenarnya posisi mereka tidak lebih tinggi dari pendeta atau penginjil atau guru. Mereka dipilih oleh jemaat. Tidak benar kalau pendeta-pendeta kemudian diatur dan ditekan oleh penatua-penatua atau diaken. Maka teologi Reformed mengajarkan bahwa pendeta, penginjil dan beberapa penatua yang mahir dan terlatih membentuk konsistorium, untuk menetapkan strategi gereja, kebijakan dan rencana, sesuai kehendak Allah, dan melaksanakan misi Kerajaan Allah. Diaken melakukan pelayanan administrasi untuk jemaat yang memerlukan.

Penatua bukan dipilih karena kaya atau karena tua, tetapi dipilih karena:

  1. mengerti firman;
  2. jiwanya memiliki kesetiaan untuk memelihara iman; dan
  3. mencintai jemaat.

Diaken dipilih karena mereka memiliki pengertian yang lebih mahir dalam hal administrasi untuk melayani jemaat. Mereka bukan dipilih secara tekhnis. Mereka harus beriman besar, dipenuhi Roh Kudus, dan memiliki bijaksana, serta mempunyai nama baik di dalam gereja dan di luar gereja. Ada orang yang di dalam gereja mempunyai nama besar, tetapi di luar gereja ia dicaci-maki karena cara berdagangnya yang sangat licik dan tidak mau membayar hutang. Orang-orang yang menjadi penatua dan diaken harus bisa menguasai rumah tangganya. Kalau dia tidak mampu mengurus rumah tangganya sendiri, ia tidak berhak mengurus rumah Tuhan. Kalau ia tidak bisa mendidik anak-anaknya sendiri dengan baik, ia tidak berhak mendidik orang lain.

Lapisan ke-dua ini (penatua dan diaken) tidak pernah lebih penting dari lapisan yang pertama. Prinsip ini harus dipegang dengan keras.

3. Jabatan Awam

Setiap orang Kristen tidak pernah perlu dipilih untuk melayani. Setiap orang Kristen melayani berdasarkan karena ia sudah diselamatkan. Kita terpanggil untuk melayani. Kita diselamatkan untuk bersaksi dan berbagi anugerah. Kita diberi hidup baru untuk menyatakan kehidupan yang sesuai dengan hidup yang baru tersebut.

Kita diberikan bakat untuk melayani. Oleh karena itu, kita harus menemukan semua bakat yang Tuhan berikan itu untuk kita bisa melayani dengan baik. Jikalau Anda bisa memerintah dan mengatur administrasi, mungkin Anda tepat menjadi diaken. Kalau Saudara mempunyai jiwa yang suka menolong orang lain, dan banyak orang merasa mendapat banyak berkat dari bimbingan Anda, munghkin Saudara bisa menjadi penatua atau majelis. Kalau Anda terampil mengajar dan orang merasa belajar banyak dari Anda, mungkin anda terpanggil menjadi seorang guru.

Pelayanan lapisan ke-tiga ini tidak pernah lebih penting dari lapisan ke-dua. Prinsip ini juga perlu kita pegang dengan baik.

E. JADI PELAYAN YANG SETIA

Yang disebut pelayanan gereja Tuhan meliputi tiga lapisan pelayanan dengan masing-masing lapisan mempunyai jabatannya masing-masing. Maka sebagai seorang Kristen, hendaklah kita masing-masing mencari dan mengerti posisi kita seturut panggilan Tuhan, sehingga kita bisa melayani Tuhan secara bertanggung jawab. Saya tidak tahu berapa banyak hal yang Anda pelajari sampai saat ini, tetapi saya berdoa agar setiap Anda bisa semakin menjalankan bagian Anda sesuai fungsi tubuh Kristus di dalam Kerajaan Allah. Kiranya Anda boleh mewujudkan ciri-ciri khas anggota Kerajaan Allah di dalam dunia ini.

Amin.

SUMBER :
Nama buku : Kerajaan Allah, Gereja dan Pelayanan
Sub Judul : Bab III : Pelayanan (2)
Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit : Momentum, 2011
Halaman : 74 – 88
Artikel Terkait :
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube