Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kita minggu yang lalu telah membicarakan tentang Tuhan akan menggenapkan kita dengan melengkapi kita di dalam segala kebajikan, every good thing, segala kebajikan, lalu kita boleh menjalankan kehendak Tuhan. Saudara-saudara, apakah tugas terbesar manusia hidup di dalam dunia?

Westminster Confession di dalam tanya jawabnya mengatakan, adalah untuk memuliakan Tuhan dan untuk menikmati Dia. Memuliakan Tuhan dan menikmati Tuhan, inilah manusia, karena manusia dicipta menurut peta dan teladan Allah. Nah manusia dicipta oleh Allah, dicipta untuk Allah. Tidak ada agama yang pernah mengajar lebih jelas daripada ini. Tidak ada alkitab dari pada agama apa yang memberikan petunjuk sesempurna seperti ini. We’re created by Him, through Him, and for Him. Kita dicipta dari Dia, itu Sumbernya. Kita dicipta melalui Dia, Kristus Pengantara. Dan kita dicipta untuk Dia, supaya Dia yang mendapatkan kemenangan, kesukaan, dan kesempurnaan kemuliaan melalui kita yang dicipta.

Itu sebabnya hidup di dunia bukan untuk uang, hidup di dunia bukan untuk diri, hidup dunia bukan untuk menyenangkan orang lain, hidup dunia bukan untuk mengisi dan menyempurnakan ambisi-ambisi pribadi. Hidup dunia adalah untuk mencari apakah kehendak Tuhan, apa yang diperkenan oleh Dia dan apa rencana Dia di dalam seluruh alam semesta umumnya, di dalam diriku khususnya. Jikalau kita menemukan itu, lalu sinkronisasi antara apa yang harus saya kerjakan di dalam menggenapi rencana Tuhan bagi pribadiku dengan apa yang Tuhan kerjakan di dalam rencana seluruh alam semesta itu berpadu menjadi satu, itu keharmonisan yang membikin hidup kita paling puas dan paling sejahtera. Jikalau kita hidup hanya beberapa puluh tahun, ambisi dan kemauan hanya untuk diri sendiri, Saudara-saudara, meskipun engkau mencapai apa yang engkau inginkan sampai sebelum engkau tutup mata, engkau belum pernah mempunyai kesejahteraan yang sesungguhnya. Jikalau engkau bisa di dalam hidup berpuluh-puluh tahun ini selangkah demi selangkah mewujudkan apa yang Tuhan inginkan kepada dirimu dan apa yang Tuhan inginkan supaya dirimu sinkron dengan seluruh makro daripada rencana Dia di seluruh alam semesta, hidupmu akan mencapai satu perdamaian, kepuasan  yang luar biasa.

Carnegie, seorang yang terkenal di dalam administrasi, di dalam manajemen, di dalam perdagangan, mengatakan, “When you die, you die as a millionaire, woe to you.” Jikalau engkau mati hari itu tetap seorang miliuner, celakalah bagimu. Maksudnya apa? Karena waktu engkau mati masih begitu banyak uang yang engkau tidak mempunyai hak lagi mengatur, engkau harus tutup mata lalu itu menjadi senjata untuk orang-orang, anak-anakmu berperang satu dengan lain. Sebenarnya sebelumnya engkau sudah bisa atur semua. Sebelum engkau mati engkau masih mempunyai hak, engkau sudah menyelesaikan semua dengan akhirnya engkau pergi dengan tangan kosong karena sudah beres. Jikalau kita pada waktu di dunia ini tidak mencari kehendak Tuhan, tidak menjalankan kehendak Tuhan, hanya mau menginginkan, mencapai ambisiku, ambisiku, akhirnya pada saat engkau meninggalkan dunia satu sen pun engkau tidak bisa bawa. Satu keunggulan apa pun tidak bisa mengikuti engkau, engkau harus pergi dengan hampa. Ini beberapa tahun saya makin lama makin merasa hidup sangat terbatas, umur sangat terbatas, waktu sangat terbatas. Itu sebab setiap hari saya harus berbicara kepada saya,“yang sisa tidak banyak lagi, kalau-kalau Tuhan kasih saya 5 tahun lagi atau 10 tahun lagi, apa yang harus saya kerjakan, apa yang harus saya khotbahkan, apa yang harus saya capai demi memuliakan Tuhan?” Jikalau dari masih muda kita semua mempunyai pikiran seperti ini, maka hidup waktu yang ada pada kita, kita tidak hamburkan demi ambisi dan kemauan sendiri, melainkan kita terus mencapai apa yang Tuhan inginkan. Nah itulah nilai hidup yang paling berarti.

Itu sebab di sini dikatakan, Tuhan mau menggenapkan engkau dengan segala kebajikan. Karena memang kita diciptakan di dalam Kristus untuk melakukan kebajikan yang dipersiapkan bagi kita. Ini harus menjadi keyakinan. We believe goodness have been prepared for us to be accomplished. Kebajikan-kebajikan sudah disiapkan oleh Tuhan supaya kita mencapai, supaya kita diperlengkapi, sehingga kita melakukan kebajikan. Sesudah kebajikan-kebajikan yang dipersiapkan itu kita mencapai, baru kita bisa menjalankan kehendak Tuhan.

Banyak orang kira dia menjalankan kehendak Tuhan itu kebajikannya. Justru terbalik, di dalam agama Kristen kebajikan belum pernah menjadi satu sumber yang bersifat antroposentris. Di dalam ajaran Alkitab belum pernah manusia menjadi satu titik di mana mulai keluar kebajikan. Tidak. Kebajikan merupakan sesuatu yang bersumber di dalam diri Allah, lalu ekstensinya melalui keselamatan, bekerja dalam hati kita, lalu persiapan-persiapan kebajikan yang disediakan Tuhan harap kita melakukannya. Kebajikan adalah satu buah bukan satu bibit. Kebajikan adalah satu buah dari pada Tuhan yang sendirinya bibit, bukan satu bibit yang berada di dalam diri manusia yang berdosa. Manusia yang berdosa belum pernah mungkin, belum pernah bisa, belum pernah tercatat dalam Alkitab dia adalah bibit kebajikan. Kebajikan itu adalah dari Tuhan, yang sendiri-Nya adalah bibit, sendiri-Nya adalah sumber. Dan kebajikan itu ditulis di dalam Galatia sebagai salah satu aspek dari buah Roh Kudus. Dan buahnya tunggal, bukan 9. One fruit, nine tastes. Satu buah, sembilan rasa. Di dalamnya termasuk kebajikan. Jadi Roh Kudus berada dalam diri kita, dia bekerja untuk menghasilkan buah kebajikan. Bukan saya sudah diselamatkan saya menjadi baik, saya berbuat baik. Yang benar-benar bisa menjadi baik adalah saya tidak melarang, tidak merintangi apa yang Roh Kudus kerja melalui saya sehingga Dia memakai saya menghasilkan buah kebajikan. Nah ini konsep kekristenan yang benar. The goodness is not your fruit, it’s a fruit of Holy Spirit. Kebajikan bukan apa yang bisa kau lakukan. Yang kau lakukan hanya adalah kejahatan, egois, dan segala sesuatu yang egosentris.

Dua ratus tahun yang lalu orang Perancis mengatakan, yang disebut dermawan adalah orang pinter, yang pandangannya jauh, dia melihat kalau dia berbuat baik dia akan mendapatkan imbalan lebih banyak, maka dia melakukan kebajikan menolong orang miskin dengan pura-pura. Itu pikiran yang sangat dalam. Kalau saya membaca buku seperti begini, membaca kalimat-kalimat seperti ini saya memikir ulang-ulang dan bandingkan apa itu dengan pengertian Alkitab. Seorang dermawan dia tahu “sekarang saya kasih seribu lalu nama saya akan disiarkan ke seluruh dunia, lalu orang-orang yang miskin besok akan menganggap saya baik. Dengan demikian kesempatan saya berdagang lebih besar. Dengan demikian saya mendapat imbalan untung lebih banyak.” Itu sebab dia memikirkan untung yang mungkin diperoleh maka dia memberikan pertolongan kepada orang lain. Itu bukan baik. Yang disebut baik adalah baik yang tidak minta imbalan, baik yang tidak meminta balasan. Yang disebut baik adalah baik yang memuliakan Tuhan, mengerjakan sesuatu untuk mengosongkan diri sehingga menjadi manfaat, menjadi pertolongan, menjadi sesuatu faedah bagi orang lain dan tidak memuliakan diri. Itu baru baik. “Orang dermawan adalah orang egois yang berkaca mata yang bisa lihat jauh,” itu singgungan, sindiran yang luar biasa. Di dalam diri kita, apa yang mungkin kita lakukan itu bukan kebajikan. Itu adalah kebajikan menurut ukuran manusia yang mendatangkan untung lebih banyak untuk diri kita. Itu namanya pura-pura. Itu namanya manusia yang munafik. Di hadapan Tuhan siapa sih yang benar? Di hadapan Tuhan siapa sih yang baik? Satu pun tidak. Paulus dengan jujur mengatakan, “di dalam diriku tidak ada kebajikan.”There is no goodness in my flesh. Yang ada pada kita adalah dosa. Dalil dosa yang terus bekerja dengan liciknya sehingga kita menipu diri kita sendiri. Saudara-saudara, di dalam diri kita tidak ada kebajikan karena Paulus berkata, we had been sold under sin. Kita sudah dijual di bawah dosa. Kita adalah budak dosa. Kita hanya melayani dosa-dosa yang sekarang belum muncul dan kita rasa diri kita baik karena kita bertopeng agama.

Dunia yang penuh dengan kemunafikan, kepura-puraan ini sangat perlu kembali kepada Tuhan. Maka Tuhan berkata, Dia melakukan kebajikan, melengkapi engkau, supaya kamu bisa menjalani kehendak Tuhan. Kalau Tuhan tidak melakukan kebajikan melengkapi kita, kita tidak mungkin menjalankan kehendak Tuhan. Jadi, kalau istilah “aku melakukan kehendak Tuhan, inilah kehendak Tuhan,” sudah begitu biasa keluar dari mulut kita, Tuhan melihat dunia ini, seorang pun tidak baik, seorang pun tidak ngerti, seorang pun tidak menjalankan kebajikan, tidak ada seorang pun yang mencari Dia. Ini 3 kali muncul dalam Kitab Suci, 2 kali muncul di dalam Mazmur dan diulangi lagi di dalam Roma 3:10-12.

Dia yang mengerjakan kebajikan, Dia yang melengkapi engkau dengan segala kebajikan, supaya engkau boleh menjalankan kehendak-Nya. Sesudah ini selesai maka ditulis lagi disambung dengan kalimat ini, yaitu, ‘dan engkau bisa berkenan dihadapan Dia’, melalui siapa? Melalui Kristus. Nah, bagian ini yang kita renungkan pada pagi ini. Jadi, Tuhan memakai Kristus, sebagai Pengantara di dalam hidup kita. Itulah sebab, jikalau satu gereja terus mengajar tentang Kristus, jikalau suatu mimbar terus menekan dan membawa manusia melihat kepada Kristus, jikalau seorang hamba Tuhan dan semua majelis, semua pekerja-pekerja pelayan di dalam hidup mereka menyatakan Kristus, berbahagialah zaman itu. Paulus mengatakan,“kami mempermuliakan Kristus sebagai Tuhan,” dan Paulus menyatakan, “kami menyatakan Kritus yang hidup melalui hidup sehari-hari kami, ”to live up Jesus Christ and speak out Jesus as the Lord, ini 2 bisa saling berkaitan dengan satu dan lain. Paulus menghidupkan Kristus yang dikabarkan, maka Paulus mengabarkan Kristus yang dihidupkan. Jadi, my life is Christ, my word is about to proclaim Christ is the Lord.  Di dalam hidup sehari-harinya dia menyatakan Kristus, setelah engkau melihat Kristus melalui hidup yang dilakukan, hidup Kristus yang diwujudkan, dimanesfestasikan dari kelakuan, lalu engkau mendengar kesaksian dia adalah Kristus sebagai Tuhan.

Orang yang mengatakan Kristus sebagai Tuhan, engkau teliti apakah hidup di men-Tuhankan Kristus. Gereja yang memberitakan Kristus adalah Juruselamat coba diteliti gereja itu betul-betul menyelamatkan dunia, mengabarkan injil supaya orang dunia mendapat keselamatan atau tidak. Jikalau di dalam pengakuan kita Yesus adalah Tuhan, tapi di dalam hidup sehari-hari kita, kita tidak men-Tuhankan Dia, jikalau demikian bukankah kita menjadi saksi-saksi yang palsu, bukankah kita menjadi penipu-penipu yang berjubah agama, bukankah kita menjadi orang yang berpidato-pidato demi profesi, tetapi bukan dengan kesungguhan hati?! Hal yang paling indah di dalam kekristenan adalah kesungguhan, hal yang paling bermutu di dalam kesaksian adalah kesejatian. Hal yang paling ditegur oleh Kristus di dalam dunia adalah munafik. Yesus berkata-kata, beratus-ratus kali “Celakalah kau Farisi yang munafik, celakalah kau ahli Taurat yang pura-pura, celakalah engkau ahli Kitab Suci yang tidak jujur, yang pura-pura.” Kesungguhan, kesejatian, kejujuran kalau sudah hilang dari gereja, gereja sangat mungkin dicemooh, dihina, dan dibuang oleh masyarakat. Manusia dalam dunia perdagangan lihat yang licik, yang palsu, yang pura-pura, yang bohong begitu banyak. Kalau sudah sampai gereja menemukan lagi bohong, palsu, tipu, pura-pura, apa gunanya datang ke gereja. Justru di tempat dimana orang Kristen berkumpul, menyatakan kesungguhan, kesejatian, kejujuran, itulah keindahan Tuhan melalui kita.

Bersambung…

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Sumber : http://www.grii-jogja.org/memperkenankan-hati-tuhan-28-mei-2017/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube