Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tahun 2010, Togu Simorangkir, memutuskan pulang kampung.

Enam belas tahun merantau di luar Sumatera Utara, hati Togu terpanggil menolong anak-anak yang kesulitan akses belajar dan membaca di Pulau Samosir.

Peraih gelar master di Oxford Brookes University Inggris ini sudah ditawari bekerja di The Black Country, di negeri Ratu Elizabeth II itu. Namun,  rupanya gelora dan keinginan untuk berbagi hidup dengan orang-orang di tanah kelahirannya lebih besar dari tawaran menggiurkan tersebut.

Dus, ia memilih mendedikasikan hidup untuk berbagai melalui Yayasan Tao Toba yang sudah dirintisnya sejak Juni 2009 lalu. Togu bersama rekan-rekannya yang se-visi dengannya membangun topo (semacam pondok) belajar untuk anak-anak yang desanya masih minim akses informasi, khusus melalui buku.

“Aku meninggalkan zona nyaman, lalu bertani, dan membuka usaha air minum untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kenang Togu, seperti ia sampaikan kepada Intisari, 2017 lalu. Kala itu, uang hasil penjualan air minum pun dibagi dua. Satu galon air memperoleh laba Rp2.000, separuhnya ia ambil, sepatuh lagi untuk kebutuhan dana Alusi Tao Toba.

“Secara finansial aku terjun bebas karena di lembaga ini tidak bergaji,” ujar laki-laki tiga anak itu.

Tapi baginya tidak masalah, karena filosifi hidupnya bukan lagi mengejar uang dan kesuksesan. Sisa hidupnya memang akan dijalani dengan semangat filantropis (kasih). Setelah jualan air minum, Togu kemudian berjualan telur bebek untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tentu saja hasilnya tidak cukup untuk menopang yayasan yang sudah mendirikan empat topo belajar dan dua kapal belajar itu.

Untuk itu ia butuh bantuan dana.

Menariknya, Togu tidak ingin penggalangan dana dengan cara biasa. Caranya yang ia tempuh pun cukup nyeleneh.

Ia menyebutnya sebagai gerilya fundraising.

“Tahun 2012, akau berenang di Danau Toba, dari Parapat sampai Tuk-Tuk sejauh 9 km, untuk menggalang dana kapal,” ujar pria yang sebenarnya tak jago berenang itu.

Hasilnya, ia mengumpulkan dana Rp60 juta.

Tahun 2015, ia berenang lagi menyusuri dinginnya Danau Toba, sepanjang 18 km. Aksinya kalinya berhasil mengumpulkan dana untuk kapal belajar sebesar Rp120 juta. Kapal ini akan dipergunakan untuk mengjangkau desa-desa di pinggiran danau yang tidak bisa diakses dari jalur darat.

“Tahun depan aku akan triathlon,” ungkapnya, setahun yang lalu itu, cukup antusias.

Bagi Togu, berbuat bukanlah sebuah kesalahan. Filosofi ini telah membuatnya kecanduan berbuat baik. Kalau tidak ada pikiran untuk membantu orang lain, rasanya aneh. Dengan mendedikasikan hidup untuk berbagi itulah, ia memperoleh kebahagiaan.

“Kebahagiaan yang tidak bisa dibeli di pajak Horas (pasar di Pematang Siantar) sana,” seru Togu.

Lepas dari itu semua, Togu ingin mengajak semua orang untuk berani memberi. Berbagi itu tidak melulu soal uang. Jika tidak ada uang, kita bisa memberi waktu, ide, dan tenaga. Togu percaya, semakin iklas orang memberi, kehidupannya pasti akan selalu dipenuhi dengan rasa syukur.

Ketika ia ditanya apakah ia menyesal harus meninggalkan Inggris dan kembali ke Danau Toba, Togu menjawab tidak dengan mantap.

“Yang penting, kan aku sudah lihat salju,” ujarnya sembari berkelakar. (Tika Anggreni Purba)

Sumber : http://intisari.grid.id/read/03886849/cerita-indah-dari-tepian-danau-toba-ketika-togu-simorangkir-mengubah-pamrih-menjadi-kasih?page=all

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube