Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

BAB 3 :

UJIAN DAN PENCOBAAN :

KEHARUSAN PROSES YANG MUTLAK (1)

Ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai. Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah? Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” (Pengkhotbah 3:8-11)

————————————————

Apakah yang menjadi manfaat atau keuntungan dari seseorang yang telah bekerja dengan berjerih payah? Setelah manusia berkeringat, berjerih lelah, berletih lesu, apakah yang bisa diperolehnya? Jawabnya ada pada bagian Alkitab di atas. Di dalam terjemahan lain dikatakan: “Allah memberikan ujian yang begitu pahit, atau jerih payah yang begitu berat kepada umat manusia. Tetapi kemudian Ia akan memberikan keindahan pada waktunya, dan manusia tidak bisa mengerti dan menyelami pekerjaan yang Allah lakukan dari awal sampai akhir.”

Inilah pengertian firman Tuhan yang penting sekali berkenaan dengan paradoks kehidupan manusia. Dunia ini penuh dengan jerih payah, ujian, dan tanggung jawab yang berat. Semua ini ditetapkan oleh Allah dan hanya untuk manusia. Tidak ada binatang yang mempunyai tanggung jawab yang lebih berat daripada manusia. Tidak ada makhluk yang harus bekerja sedemikian berat untuk bisa mendapatkan makanan. Tetapi, mengapa Allah memperkenankan manusia boleh sedemikian berjerih payah?

Banyak orang miskin yang iri hati kepada orang kaya. Tetapi silahkan lihat, betapa besar kesulitan dan betapa berat pekerjaan yang harus dilakukan oleh orang-orang kaya itu. Konglomerat-konglomerat besar terkadang harus bekerja begitu berat. Terkadang mereka harus berada di kantor sampai pukul sebelas malam. Saya pernah berpikir, kalau saya menjadi seperti mereka, meskipun kaya mungkin saya akan lebih cepat mati.

Ketika seorang pengusaha besar di Jakarta ikut bersama saya dalam program penginijilan ke Rusia, dalam dua hari saja faks yang ia terima sudah enam meter panjangnya, dan ia harus menyelesaikan setiap masalah yang timbul itu satu persatu. Untuk mendapatkan kesempatan pelayanan dua hari saja, kesibukan yang harus dia selesaikan sedemikian padat. Setelah itu ia masih harus mengirimkan faks kembali untuk menyelesaikan masalahnya.

Apakah seorang yang kaya atau seorang yang berkedudukan tinggi bisa nikmat karena tidak perlu berkerja berjerih lelah? Tidak! Apakah seorang yang mulia seperti raja atau presiden tidak perlu berjerih payah dan penuh ketegangan? Tidak! Chou En-lai, mantan Perdana Menteri Cina, dalam satu setengah tahun rambutnya menjadi putih. Bill Clinton, presiden Amerika Serikat, setelah satu tahun menjadi presiden, wajahnya terlihat menjadi begitu tua. Ketika ia baru memasuki White House (Gedung Putih, kantor kepresidenan), rambutnya hitam, tetapi ketika setahun kemudian, gedungnya tetap putih, rambutnya sudah berubah menjadi putih. Seorang misionaris pernah berkata kepada saya, “Aduh, betapa pekerjaan yang sangat malang.” Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang menakutkan sekali. Terkadang saya berpikir, apa dosanya sampai dia dijadikan presiden? Banyak orang yang ingin mendapatkan kedudukan yang tinggi, tetapi setelah duduk, baru tahu betapa beratnya pekerjaan itu. Yang berjerih payah bukan hanya tukang batu, tetapi juga mereka yang duduk di kantor.

Ketika masih muda saya tidak terlalu mengerti. Bagi saya, Raja Salomo itu tahu apa? Bukankah ia cuma duduk saja di takhta, perintah sana, perintah sini? Rektor saya mengatakan, “Jangan pikir orang yang berpangkat tinggi tidak berjerih payah. Orang yang berjerih lelah dengan tangan, malamnya bisa tidur enak. Tetapi orang yang harus memikirkan begitu banyak hal, berjerih payah secara otak, malamnya malah tidak bisa tidur.” Apakah Saudara pikir yang bekerja bersusah payah hanyalah tukang batu? Tidak! Dunia ini penuh dengan orang-orang yang saling iri hati, selalu merasa lebih nikmat kalau bisa menjadi seperti orang lain. Benarkah demikian? Tidak! Tuhan mengatakan, “Engkau tidak mengerti jerih lelah yang Aku taruh di pundakmu, untuk menguji engkau.”

Satu kali ketika saya berada di Jakarta, saya katakan, “Hai, Saudara-saudara, pemilik tanah yang begitu luas, janganlah mengira itu adalah tanah milik Saudara. Satu hari kelak tanah itu akan dijual dan dijual lagi. Sebenarnya seluruh luas tanah selalu sama dari sejak zaman Adam, yang terjadi hanyalah saling menjual tanah. Jadi, hanya berganti kepemilikan secara sementara saja. Pada akhirnya yang betul-betul menjadi hak milik Saudara tinggal kuburan Saudara saja. Itu pun masih diinjak-injak orang dan di dalamnya Saudara hidup bersama cacing-cacing yang menggerogoti jasad Saudara tanpa Saudara bisa berbuat apa-apa. Jadi, apa sebenarnya yang Saudara dapatkan dari hasil jerih lelah Saudara? Setelah hidup dengan ujian yang begitu berat, pekerjaan yang begitu berjerih lelah, apa yang diperoleh?” Jawaban dari Pengkhotbah :

Allah menciptakan segala sesuatu baik pada waktunya.
Allah memberikan kekekalan di dalam hati manusia,
Namun manusia tetap tidak mengerti segala sesuatu
yang dikerjakan Allah dari awal sampai akhir.

Ayat dalam kitab Pengkhotbah di atas telah membingungkan saya sejak saya berusia 17 tahun. Sampai usia 57 tahun saya masih memikirkan ayat ini. Allah menciptakan segala sesuatu dengan baik. Dan setelah semua itu diciptakan, Allah menciptakan manusia yang lebih baik lagi. Hal ini membuat saya bingung. Mangapa manusia dikatakan lebih baik? Karena di dalam manusia ada satu unsur yang tidak terdapat di dalam ciptaan baik yang lainnya, yaitu sifat kekekalan.

Semua diciptakan di dalam kurun waktu. Ada waktu ini, ada waktu itu, dan semuanya ada di dalam waktu. Tetapi kemudian diciptakan satu makhluk yang di dalam dirinya terdapat kekekalan yang melampaui waktu. Dalam hal ini kita melihat bahwa manusia berbeda dari segala makhluk lain. Segala makhluk lain muncul di suatu waktu, dan akan berakhir pada waktu yang tertentu pula. Makhluk-makhluk lain mempunyai permulaan di saat kelahirannya, dan waktu akhir di dalam kematiannya. Jangka waktu hidupnya sangatlah singkat. Mereka berada di dalam waktu dan berada di bawah batasan waktu. Kemudian Tuhan menciptakan manusia, yang berbeda dari semua makhluk yang lain karena memiliki unsur kekekalan di dalamnya.

Maka di dalam alam semesta, manusia menjadi outsider (tidak termasuk di dalam kelompok tertentu), observer (peneliti dan penyelidik), dan thinker (pemikir). Inilah perbedaan manusia dengan semua makhluk lainnya. Semua makhluk yang lain berada di alam dan merupakan bagian dari alam. Mereka mencari makan dari alam, memuaskan diri di dalam alam, dan berakhir hanya di dalam alam. Tetapi manusia memiliki bagian supra-natural, yang menjadikan manusia sebagai pemikir yang mempertanyakan, “Mengapa saya di sini?”

Binatang suatu saat akan mati, manusia suatu saat juga akan mati. Tetapi manusia bisa mempertanyakan, “setelah mati saya akan ke mana?” Tidak ada binatang yang bertanya setelah mati akan ke mana, hanya manusia yang berpikir seperti itu. Setelah berpikir, manusia mulai menyelidiki dan kemudian mulai memisahkan antara “aku” dan yang “bukan aku” sehingga dimengerti adanya pembedaan antara Allah, aku, dan alam. Di bawah saya ada alam, di atas saya ada Allah, dan di dalam saya ada aku. Maka secara vertikal, saya berada di bawah Allah dan di atas alam, dan secara horisontal saya berada di antara Allah dan Iblis, antara baik dan jahat, antara hidup dan mati, antara firman dan interpretasi yang tidak bertanggung jawab. Di dalam keadaan seperti inilah, keberadaan krusial (crucial existence) menjadi status manusia. Bagi saya, sungguh suatu pilihan yang krusial untuk kita bisa mempelajari firman Tuhan secara saksama dan ketat. Waktu-waktu studi seperti ini merupakan momen-momen yang membentuk iman Kristen Saudara menjadi mahir di dalam mengerti prinsip total firman Tuhan.

Jikalau “aku” melampaui “alam” mengapa alam harus menjadi tujuan hidupku? Apakah saya akan hidup dan mati hanya untuk mencari uang? Apakah saya harus bekerja setengah mati hanya untuk mencari materi? Apakah saya harus mengusahakan segala sesuatu yang akhirnya tidak bisa saya bawa ke dalam kekekalan dengan penuh jerih payah, yang kemudian saya harus di kubur di bawah tanah? Apakah yang menjadi upah bagi pekerjaan yang dikerjakan manusia dengan penuh jerih payah? Pertanyaan-pertanyaan ini telah merangsang pikiran saya, sehingga menyebabkan saya berpikir terus-menerus. Apa gunanya kita berjerih payah sedemikian berat hanya untuk mendapatkan sebuah peti dan tanah 2 x 1 meter? Itukah akhir hidup?

Tetapi Allah menyatakan bahwa setelah semua selesai diciptakan, Allah memberi kekekalan di dalam hati manusia. Berarti di dalam diri manusia, ada sesuatu yang sama sekali berlainan daripada makhluk lainnya. Hal inilah yang menjadikan kita tidak habis-habisnya berpikir dan ini pula yang menjadikan kita tidak rela digeser oleh waktu dan sejarah. Kita mau melihat ke depan dan kita mau melihat ke belakang. Inilah kekekalan! Melihat ke depan, itulah pengharapan kita; melihat ke belakang, itulah ingatan kita.

Manusia mempunyai sejarah karena manusia tidak mau momen-momen yang penting dan bermakna digeser oleh proses waktu. Kita mempelajari sejarah karena kita mengetahui bahwa di dalam sejarah ada prinsip-prinsip pendidikan yang penting untuk kita melangsungkan hidup. Kita mempelajari kegagalan dan kesuksesan dari sejarah karena kita adalah makhluk yang berproses belajar. Saya pernah bertanya dalam hati, mengapa hanya ada manusia di dalam sejarah? Mengapa tidak ada ilmu sejarah domba atau sejarah kambing? Puji Tuhan kalau mereka tidak mempunyai sejarah. Kalau mereka pun punya sejarah yang harus kita pelajari, kita sulit lulus SD. Mereka berbeda dari manusia.

Manusia secara individu (indivicuality speaking) adalah makhluk yang sangat berharga, kita diberikan kekekalan sehingga kita adalah makhluk hidup yang berkekalan. Secara kolektif (collectively speaking), kita adalah satu satu kelompok makhluk yaitu manusia, yang mewakili Allah untuk mengurus seluruh alam semsta. Allah berkata kepada Adam dan Hawa untuk mengatur alam semesta dan menguasai seluruh binatang dan alam. Manusia mempunyai tugas yang sangat luar biasa: kita adalah pengelola alam semesta (manager of the universe). Maka, jika untuk kepentringan materi, orang membakar hutan yang mengakibatkan lebih dari 23 juta orang terancam penyakit paru-paru, orang-orang itu harus dihukum secara keras oleh Tuhan. Jangan pikir keuntungan yang didapat dari hutan itu dapat menutup kecelakaan yang dialami oleh jutaan manusia.

UJIAN DAN PENCOBAAN : KEHARUSAN DAN MAKSUDNYA

Adam dan Hawa ditempatkan di teman Eden. Dan berkenaan dengan hal ini, ada beberapa pertanyaan yang perlu kita pikirkan secara lebih tuntas.

1) Mengapa di taman Eden harus ada pohon terlarang?

Mengapa di taman Eden Tuhan menyediakan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat? Bukankah jika pohon tersebut tidak ada, kita tidak perlu repot? Pertanyaan dan kalimat seperti ini sering muncul dalam pikiran manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa. Inilah pertanyaan-pertanyaan yang menyatakan betapa bodohnya kita (bdk Roma 1:21-23). Manusia beranggapan bahwa jika pohon itu tidak ada, manusia tidak bisa berbuat dosa dan pasti akan tetap suci. Kalau tidak ada pencobaan tentunya manusia akan sempurna, sehingga sepertinya Tuhan begitu bodoh meletakkan pohon itu di sana.

2) Mengapa pintu sorga bisa kebobolan ular?

Mengapa Tuhan tidak membuat pintu yang rapat sehingga ular tidak bisa masuk untuk mencobai manusia? Mengapa Tuhan membiarkan Iblis bisa menyusup masuk ke dalam taman Eden? Bukankah kalau Iblis tidak bisa masuk, manusia tidak mungkin bisa jatuh ke dalam dosa karena pasti tidak ada pencobaan?

3) Mengapa Tuhan memberikan kebebasan memilih?

Mengapa Tuhan memberikan kebebasan kepada Adam, dan Hawa sehingga manusia harus membuat pilihan antara firman Tuhan dan perkataan Iblis? Seharusnya manusia jangan diberi kebebasan memilih. Kalau Tuhan tidak memberikan kebebasan memilih, tentunya tidak ada kemungkinan bagi Adam untuk salah pilih dan jatuh ke dalam dosa. Pasti semuanya akan beres.

Semua ini merupakan pikiran manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa. Kita akan melihat bahwa ketiga pokok di atas merupakan suatu keharusan mutlak! Harus ada pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat; harus ada ular yang dipakai oleh Iblis untuk menguji; dan harus ada kebebasan yang dimiliki Adam dan Hawa untuk memilih, karena semuanya itu adalah cara dan tujuan rencana Allah menciptakan manusia. Masalah ini adalah masalah kedaulatan Allah yang memang demikian, sehingga berada di luar kjebijaksanaan dan keputusan manusia. Tetapi apa maksud dari semua ini?

Maksud 1 : Kemenangan

Begitu banyak orang Kristen yang sok tahu dan merasa lebih pandai dari Tuhan, yang setelah menjadi Kristen dan menikah ingin membuat keluarganya menjadi taman Eden yang di dalamnya tidak ada pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat dan tidak ada ularnya. Banyak orang Kristen bodoh yang mau membesarkan anak-anaknya di dalam satu lingkungan yang paling sempurna, aman, tanpa kemungkinan adanya ujian dan pencobaan sama sekali. Tetapi anak Kristen yang dibesarkan di dalam lingkungan keluarga yang seperti ini justru berada di dalam situasi yang paling berbahaya! Sekali mereka terjun ke dalam masyarakat, langsung jatuh dan gagal.

Seorang kepala sekolah pernah berkata kepada saya sambil bercucuran air mata: “Anak saya begitu baik, saya mendidik dia dengan begitu baik. Kini setelah menikah saya baru tahu dia begitu mudah ditipu oleh istrinya. Istrinya justru anak orang Kristen yang tidak benar hidupnya.” Ketika saya tanya mengapa anak itu mau menikah dengan wanita seperti itu, ia menjawab bahwa anaknya tidak tahu kalau ada yang namanya Kristen tetapi hidupnya bobrok luar biasa. Ketika kita melihat orang senyum-senyum, kita anggap dia pasti orang baik. Itu bodoh! Saya menegur kepala sekolah itu, dan memberi tahu dia bahwa justru karena dia menciptakan satu lingkungan yang terlalu indah maka anaknya dapat menjadi begitu bodoh, menganggap semua orang itu begitu baik sehingga akhirnya tertipu. Ia mengatakan: “Ya mungkin begitu.” Saya katakan, “Bukan mungkin, tetapi pasti!”

Banyak keluarga Kristen yang karena memberikan lingkungan yang terlalu aman dan terlalu baik, tidak pernah memberikan wawasan yang lebih luas kepada anak-anak mereka sehingga ketika anak itu keluar langsung bisa di tipu, diperkosa, atau dijadikan korban oleh orang-orang jahat di luar. Mereka tidak pernah tahu bahwa ada ular dan ada pohon. Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk berdoa dan ikut kebaktian supaya dilihat orang luar bahwa keluarganya ini adalah keluarga Kristen yang baik. Akhirnya, ketika dewasa, anak ini menjadi sangat benci kepada Kekristenan. Banyak remaja dan pemuda yang anti-Kristen, karena dibesarkan di dalam keluarga Kristen yang memaksa mereka menjadi “sok-rohani”. Kita seringkali menciptakan satu lingkungan yang begitu indah, begitu aman, tetapi tanpa kerelaan dan kesadaran. Itu berarti tidak ada pohon, tidak ada ular dan tidak ada kebebasan pilihan. Keadaan sedemikian hanya merupakan suatu pemaksaan, menjadikannya satu tindakan mekanis yang palsu. Maka, saya melihat akan keharusan adanya pohon, ular, dan pilihan bebas manusia.

Ketika berusia 29 tahun, saya berkhotbah di Hongkong 65 kali dalam 27 hari, menyambung khotbah saya di Taiwan 226 kali selama 62 hari, saya berada di dalam keadaan yang sangat lelah. Seorang pendeta tua yang adalah pemimpin senior ingin berbicara dengan saya, sehingga saya tak mampu menolak. Kami berbicara selama dua jam, dalam keadaan saya yang sudah begitu lelah. Ia mulai menanyakan bagaimana prinsip mendidik anak menurut saya. Saya menjawab bahwa mendidik anak ya, apa adanya saja, tidak perlu berpura-pura agar anak-anak mengerti realitas yang sesungguhnya. Kalau saya berbeda pendapat dengan istri saya, anak-anak juga tahu, sehingga suatu saat kalau mereka menikah lalu ada perbedaan pendapat, mereka tidak terkejut dan sudah mengerti bahwa hal seperti itu adalah hal yang biasa. Tetapi yang penting adalah bagaimana setelah terjadi perbedaan pendapat itu kita bisa menyelesaikannya dengan cara Kristen.

Lalu ia mengatakan bahwa cara dia mendidik anak sangat berbeda. Saya bertanya, bagaimana cara dia mendidik, sehingga saya bisa belajar. Ia mengatakan bahwa dunia ini sudah sangat rusak, maka kita harus hati-hati agar anak kita tidak tercemar oleh diunia (sampai di sini saya setuju). Itu sebabnya demi kehati-hatian ini ia memiliki cara khusus lebih dahulu dan semua yang jelek digunting. Semua berita perkosaan, perzinahan, penipuan, perampokan dan yang sejenisnya dipotong. Hanya sisa yang baik saja yang ia berikan kepada anaknya. Jadi setelah surat kabar itu sudah penuh dengan lubang-lubang baru diberikan kepada anaknya. Bagi saya cara ini lucu sekali. Itu namanya Holy Paper (istilah ini bisa dimengerti sebagai “Koran Suci”, tetapi juga bisa dimengerti sebagai “Koran Penuh Lobang”) karena banyak lubangnya.

Bagi saya, kalau anak-anak setiap hari menemukan bahwa korannya penuh lobang, dan setiap hari lubangnya berbeda, pasti ia tertarik untuk pergi ke tetangga dan mau mengetahui apa yang ada di lubang itu. Anak itu akan terangsang untuk mencari dan memperhatikan berita-berita paling buruk yang tidak ada dirumahnya, dan dari tetangga ia baru tahu bahwa berita yang ada di lubang itu adalah berita-berita perkosaan, perzinahan, perampokan, dan lain-lain. Itulah yang menartik baginya! Akhirnya yang tidak lubang tidak dia baca, dan dia khusus hanya akan memperhatikan bagian-bnagian yang lubang saja.

Saya bukannya mendukung agar kita atau anak kita membeli buku porno, tetapi biarkanlah surat kabar yang ada itu dalam keadaan utuh. Biarkan mereka mengetahui apa yang menjadi fakta dunia. Inilah dunia kita yang riil. Kita memang tidak mau anak kita dicemarkan, tetapi jangan sampai kita menciptakan lingkungan yang terindah (steril) bagi anak kita, jangan sampai dia dimanja hingga menjadi lebih rusak daripada anak orang lain tanpa Saudara sendiri menyadarinya.

Tuhan tidak demikian. Setelah menciptakan Adam dan Hawa, ia menempatkan mereka di taman Eden dan langsung memperkenankan Iblis menguji mereka. Ujian, pencobaan dan kemenangan! Kemenanag baru bisa dicapai setelah adanya pencobaan dan ujian. Kemenangan sangatlah penting sehingga ujian dan pencobaan juga sangat diperlukan. Maka, ujian dan pencobaan adalah kebutuhan yang mutlak bagi keberadaan dan kemenangan manusia.

Ibu saya mengatakan, “Stephen, saya bukan hanya harus menjadi ibumu, tetapi juga harus menjadi ayahmu, karena ayahmu sudah meninggalkan kamu ketika kamu berusia tiga tahun. Itu sebabnya aku berusaha menanamkan iman yang kuat ke dalam dirimu, sehingga ketika engkau besar aku tidak perlu khawatir ke mana pun engkau pergi, karena aku tahu engkau sudah dibekali dengan iman yang menuntut engkau bertanggung jawab kepada Tuhan.”

Itulah yang sudah saya warisi dari ibu saya, demikian pula itulah yang saya wariskan kepada anak-anak saya. Saya tidak memaksakan iman kepada mereka. Kalau perlu, kami akan berdebat sampai kami bisa menemukan sesuatu yang di dalam kebenaran firman. Setelah dia beriman, saya tidak takut ke mana pun dia pergi. Saya hanya bisa berdoa untuk dia dan tidak merasa perlu lagi terlalu banyak mengatur. Biarlah dia bebas, kebebasan itu perlu, ujian itu perlu, pencobaan itu perlu. Namun demikian, tidak ada paksaan dan dia sendiri harus bertanggung jawab.

Terkadang saya melihat ibu-ibu memberikan kemanjaan kepada anaknya dengan anggapan itu adalah proteksi. Tetapi proteksi yang berlebihan akan menjadi kemanjaan yang menghancurkan. Terlalu memelihara anak akan mengakibatkan kejatuhan yang fatal. Ada orang tua yang ketika bayinya tidur, di depan kamarnya ditulisi: “Bayi sedang tidur. Harap tenang!” Akibatnya, bayi itu tidur begitu tenang, tidak ada gangguan, sampai satu kali ada anjing menggonggong keras dan dia langsung sakit jantung. Itulah pendidikan yang salah!

Saya dilahirkan di zaman perang Jepang. Ini merupakan satu latihan yang Tuhan berikan kepada saya, maka saya tidak mudah diganggu oleh berbagai situasi. Sejak usia tiga tahun saya sudah tidak memiliki ayah, dan sejak usia 15 tahun sudah tidak pernah minta uang satu rupiah pun dari ibu saya. Saya harus bekerja berat dan membanting tulang untuk mencukupi keperluan saya. Setiap minggu harus belajar sekitar 40 jam dan harus mengajar 80 jam. Setiap hari harus bekerja keras berjam-jam, diperas, ditindas, diuji oleh Tuhan, sebelum akhirnya bisa menjadi manusia seperti ini. Banyak orang yang begitu memperhatikan saya meminta saya untuk beristirahat karena mereka anggap saya terlalu lelah. Saya seringkali menganggap mereka terlalu memanjakan saya, karena saya terus-menerus diminta untuk tidur. Memang sekarang saya sudah semakin tua dan mulai perlu ada waktu untuk beristirahat, tetapi kalau mungkin saya masih ingin terus bekerja.

Seringkali Saudara ingin menjadi orang Kristen yang naik Limousine ke sorga, ingin menjadi orang Kristren yang doa apa saja dituruti oleh Tuhan. Itu bukan Tuhan. Itu adalah pembantu Saudara! Seringkali kita berdalih di belakang dia: “Allah, Engkau Mahakuasa, maka pasti Engkau mampu mengerjakan apa yang aku minta ini.” Itu adalah sifat memperalat kemahakuasaan Allah untuk menjadikan Allah pembantu Saudara. Itukah doa? Itu adalah manipulasi! Seringkali ketika Saudara mendengar pendeta-pendeta yang mengajar seperti itu, Saudara “amin, amin!” terus tidak lagi secara ketat memperhatikan apa yang diajarkan oleh firman Tuhan. Saat seperti itu Saudara sedang jauh dari firman Tuhan dan prinsip-prinsip yang ditegaskan oleh Alkitab secara keseluruhan. Sudah terlalu jauh Saudara salah mengerti Alkitab, dan salah pengertian itu telah menjauhkan Saudara dari firman. Saudara perlu kembali! Reformed berarti kembali, kembali kepada kebenaran Alkitab yang seketat mungkin.

Amin.
(Bersambung)
SUMBER :
Nama buku : Ujian, Pencobaan & Kemenangan
Sub Judul : Bab 3 : Ujian dan Pencobaan : Keharusan Proses yang Mutlak (1)
Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit : Momentum, 2014
Halaman : 41 – 54
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube