Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

BAB 4 :

KRISTUS DALAM PROSES KRUSIAL (1)

Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” Yesus berkata kepadanya: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.” (Matius 4:1-11)

Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya, dan Ia dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah, menurut peraturan Melkisedek.” (Ibrani 5:7-10)

————————————————–

Bagaimana cara Tuhan melatih anak-anak-Nya? Bagaimana cara Allah melatih gereja-Nya? Bagaimana kita bisa menjadi orang Kristen yang mahir? Tidak ada cara lain selain ujian dari Allah, dan sekaligus membiarkan Iblis mencobai manusia. Melalui semua itu Tuhan membentuk kita semakin lama semakin kuat.

Sekarang ini begitu banyak pendeta yang menyediakan limousine bagi anggotanya, Mereka mengatakan, “Mari ikut Tuhan. Tuhan pasti akan memberikan kelancaran kepadamu!” Inilah pengajaran yang terjadi saat ini, yang berbeda dengan pengajaran Tuhan. Tuhan mengajarkan bahwa setiap kita memerlukan proses; saya perlu proses, Saudara perlu proses, dan di dalam proses unsur yang terpenting adalah: taat. Tidak ada rahasia lain yang menjadikan Saudara disempurnakan oleh Tuhan dan tidak ada rahasia lain yang menjadikan Saudara sukses diproses, kecuali taat. Tuhan meminta kita taat seumur hidup untuk menyenangkan hati-Nya. Tidak ada jalan lain!

Ketika saya berkhotbah di Perth, ada seorang murid yang saya didik di Hongkong dalam sebuah kuliah intensif yang kemudian melanjutkan studi di Amerika dan sekarang menjadi rektor sekolah theologi di Perth, Australia. Ia bertanya kepada saya tentang rahasia konsistensi pelayanan saya selama berpuluh-puluh tahun. Saya menjawab bahwa saya tidak punya rahasia apa-apa, rahasia sejati hanya ada dalam Kitab Suci. Ia menjadi sedemikian ingin tahu. Saya katakan bahwa rahasia itu hanya satu kalimat saja, yaitu: “Selalu hanya menyenangkan Tuhan, dan tidak yang lain.” Ia terheran-heran dan merasa tidak puas. Tiga hari kemudian ketika mengantar saya ke bandara, ia mengatakan bahwa ia sudah memikirkan kalimat itu terus-menerus selama tiga hari, dan akhirnya manyadari bahwa memang tidak ada kalimat yang lebih penting dari kalimat itu. Kalau seumur hidup kita bisa menyenangkan Tuhan dan bukan menyenangkan manusia, kalau seumur hidup Tuhan senang kepada saya sekalipun banyak orang tidak senang kepada saya, itu sungguh merupakan kebahagiaan. Ia berterima kasih untuk apa yang saya katakan kepadanya.

KRISTUS : TELADAN SEGALA ZAMAN

Inkarnasi Kristus, merupakan contoh pendidikan Allah kepada manusia. Kita sudah mengetahui bahwa tujuan inkarnasi Kristus adalah untuk menyelamatkan manusia, dan kini kita mau melihat bagaimana Allah menjadikan Anak-Nya yang tunggal ketika berada di dunia ini sebagai contoh bagaimana perlakuan seorang ayah kepada anaknya, perlakuan pemerintah terhadap rakyatnya, dan perlakuan setiap pendidik terhadap anak didiknya.

Sekalipun Ia adalah Anak, Ia tetap harus mempelajari ketaatan melalui penderitaan sampai menjadi sempurna. Tidak ada hak istimewa bagi Anak Allah! Yesus juga harus mengalami segala penderitaan sama seperti Saudara dan saya. Oleh karena itu, ketika anak seorang kepala sekolah mendapatkan hak istimewa, anak ketua yayasan mendapatkan hak istimewa, anak raja atau presiden mendapatkan hak istimewa, itu adalah pelanggaran terhadap firman Tuhan. Ketika saya mempelajari ayat ini dan membandingkannya dengan semua pendidikan dan politik dunia, saya semakin kagum dan hormat kepada Allah. Saya berterima kasih kepada Tuhan yang sudah memberikan contoh kepada saya tentang bagaimana saya harus mendidik anak-anak saya.

Di dalam inkarnasi-Nya, Yesus mengalami dua kali “menjadi”. Pertama, Allah menjadi daging, yaitu ketika Yesus menjelma menjadi manusia; dan kedua, Yesus menjadi sempurna melalui proses. Yang pertama, inkarnasi adalah sebuah pembatasan diri yang merupakan sebuah pengorbanan yang sangat besar. Allah Pencipta langit dan bumi harus datang ke dalam dunia terbatas, hidup hanya di dalam beberapa puluh kilogram daging dan darah, dan berjalan dengan penuh kelelahan di Galilea. Setiap kali Natal tiba, saya selalu terangsang untuk memikirkan kalimat “Allah menjadi manusia.” Dan hal itu tidak kunjung habis sampai saat ini. Bagi saya, Natal adalah waktu untuk saya memberitakan Injil, bukan untuk berfoya-foya dan berpesta. Itulah kesempatan untuk kita bisa merenungkan inkarnasi Kristus. Inkarnasi adalah Kristus datang sebagai manusia, membatasi diri, sehingga tidak ada tempat bagi Dia, bahkan sekadar untuk meletakkan kepala.

Yang kedua, setelah menjadi manusia, Ia juga harus rela menderita lapar, berpuasa selama empat puluh hari dan empat puluh malam, diejek, dihina, difitnah, diadili, diumpat, dipecut dengan kait-kait yang tajam. Dia datang untuk memakai mahkota duri. Siapakah yang dapat mencintai Saudara lebih dari Yesus Kristus? Tidak ada! Siapakah yang bisa menjadi contoh yang baik bagi hidup Saudara lebih dari Yesus Kristus? Tidak ada!

Ketika Anak Allah datang ke dalam dunia, Ia tetap harus taat dan belajar taat melalui penderitaan. Jika demikian, bolehkah kita mengatakan: “Saya tidak mau penderitaan. Saya mau langsung menuju kesempurnaan, memiliki tubuh rohani yang tidak perlu ujian dan pencobaan. Saya mau langsung sempurna seperti malaikat yang di sorga.” Kita seringkali menyalahkan Tuhan karena menyediakan pohon, ular, dan kebebasan memilih. Kita lupa bahwa jikalau memang Tuhan tidak mau kita dicobai, diuji, dan tidak punya kemungkinan berbuat dosa, dengan mudah Ia bisa menciptakan kita dari batu. Tetapi Tuhan tidak ingin kita seperti itu. Tuhan menciptakan manusia bukan sebagai mesin atau komputer. Ia menciptakan kita menurut peta dan teladan-Nya, yang harus diuji dan harus dicobai. Tidak terkecuali Yesus!

Dunia menjadi kacau karena banyak orang yang meminta hak istimewa. Jika dunia mengerti Alkitab dan mengerti prinsip-prinsip yang kita pelajari di sini, maka dunia akan jauh lebih baik daripada yang terjadi sekarang ini. Prinsip ini harus berlaku untuk semua manusia. Kiranya manusia mau membuka telinga dan mendengar firman Allah. Tidak ada yang bisa membuat dunia lebih baik kecuali kembali kepada firman Tuhan. Tidak ada kesembuhan yang lebih baik kecuali apa yang dikatakan oleh Kitab Suci, yaitu taat kepada Roh Kudus.

Melalui teladan Kristus, kita bisa mempelajari bagaimana proses pengujian itu dilangsungkan. Apa sajakah proses yang harus Kristus alami untuk menuju konfirmasi?

Proses 1 : Penderitaan Kristus

Perlukah Yesus menderita? Perlu! Penderitaan adalah cara terbaik untuk menguji dan menguatkan seseorang untuk mendidik dan mengokohkan seseorang. Pohon yang selalu diterpa angin keras adalah pohon yang berakar dalam. Pohon yang tidak pernah mendapatkan angin ribut biasanya akarnya dangkal. Kalau Saudara berbicara dengan seseorang selama kira-kira setengah jam, maka segera Saudara bisa mengerti seberapa dalam dia mengerti makna kehidupan manusia. Jika Saudara berbicara dengan saya selama setengah jam, saya bisa menduga seberapa banyak kebenaran perenungan yang Saudara alami, seberapa banyak kebenaran perenungan yang Saudara kerjakan, dan seberapa banyak kebenaran yang sudah Saudara sadari. Dari pembicaraan beberapa kalimat saja, sudah langsung bocor kedangkalan atau kedalaman pengertian Saudara.

Proses 2 : Belajar Taat

Tuhan memproses seseorang, dan Yesus Kristus pun harus mengalaminya. Tuhan Yesus menegaskan bahwa Ia hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh Bapa. Berarti Ia sepenuhnya taat kepada Bapa. Jikalau orang Kristen tidak belajar dari Kristus, tidak mungkin ia bisa menjadi anak-anak Allah yang baik, seperti Yesus sebagai Anak Tunggal Bapa yang sempurna. Tuhan Yesus mengatakan bahwa “hendaklah engkau sempurna sama seperti Bapamu sempurna adanya.” Lalu Kristus mengatakan: “Datang dan ikutlah Aku.” Tidak ada tokoh dunia lain yang mengatakan hal seperti itu. Hanya Kristus yang berhak dan sah mengeluarkan kalimat seperti itu, karena Ia sendiri sudah menjalankan ketaatan mengikuti pimpinan Allah secara tuntas sepenuhnya. Kalau Yesus tidak taat sempurna, Ia tidak berhak untuk meminta kita taat kepada-Nya. Puji Tuhan! Yesus hadir dalam sejarah menjadi contoh pendidikan dunia.

Ketika saya mempelajari firman Tuhan dan mengerti prinsip-prinsipnya, maka saya juga tidak memberikan hak istimewa kepada anak-anak saya. Saya tidak pernah memperkenankan anak dan istri saya ikut menghitung uang persembahan atau terlibat di dalam kebendaharaan. Karena itu keluarga Stephen Tong bersih. Saya orang yang suka mengoleksi barang yang bermutu, maka saya tidak memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menuduh saya memakai uang gereja untuk membeli ini dan itu. Tetapi saya tahu ada pendeta yang “bisnis gereja,” yang mengambil persembahan perpuluhan untuk keperluan pribadi, sehingga tabungannya di bank sampai bermilliar rupiah. Itu bukan pendeta, itu perampok rohani! Kalau Saudara mengikuti satu gereja, jangan asal ikut saja, perhatikan akta atau tata gerejanya. Siapa yang akan mengelola uang gereja, dikemanakan dan dipakai untuk apa uang gereja tersebut? Kalau tidak, Saudara pikir Saudara sedang memberikan persembahan kepada Tuhan, padahal persembahan Saudara itu sedang dicuri oleh para perampok rohani itu, sehingga Saudara ikut berdosa bersama dengan dia. Akibat kecerobohan Saudara, uang yang seharusnya untuk pekerjaan Tuhan sekarang beralih ke tempat yang tidak seharusnya, bahkan dipakai untuk mendukung pengajaran yang tidak bertanggung jawab.

Seringkali mereka berdalih bahwa itu adalah prinsip Alkitab, konsep suku Lewi. Tetapi perhatikan, suku Lewi adalah satu suku, bukan satu orang, yang menerima perpuluhan dari sebelas suku, sehingga suku Lewi sendiri akan menerima 110 persen. Dari situ suku Lewi sendiri harus memberikan perpuluhan, sehingga penghasilan suku Lewi kira-kira sama dan setara dengan suku lainnya. Tetapi sekarang, perpuluhan ribuan orang untuk satu atau dua orang. Itu adalah persampokan dan sangat tidak alkitabiah! Cara mencomot Alkitab untuk membenarkan perbuatan-perbuatan yang tidak benar dosanya sangat besar. Kalau pendeta-pendeta seperti ini tidak bertobat, mereka pasti akan dihukum oleh Tuhan.

Proses 3 : Menjadi Sempurna

Ketika berada di dalam dunia, Tuhan Yesus mengatakan bahwa serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Yesus tidak meminta hak istimewa. Ia begitu taat kepada Bapa untuk diuji supaya menjadi sempurna di dalam proses. Untuk tujuan itu, Bapa mengizinkan Anak diuji oleh-Nya dan dicobai oleh Iblis.

MERENUNGKAN KEMENANGAN KRISTUS

Seperti yang telah kita singgung di depan, ujian dan pencobaan bisa terjadi pada satu peristiwa yang sama. Di bawah kedaulatan-Nya, Allah mengizinkan Iblis ikut campur mengacaukan, menggoda, dan mencobai manusia untuk berbuat dosa. Oleh karena itu, manusia berada di dalam keadaan yang sangat berbahaya. Kita melihat ini dari Matius 4:1-11. Yesus bukannya tersesat ke padang gurun untuk dicobai Iblis, tetapi Roh Allah yang memimpin Dia ke situ. Yesus bukannya tidak taat, berjalan sendiri semaunya, sehingga pada akhirnya tersesat ke padang gurun dan dicobai Iblkis. Yesus justru dicobai di padang gurun karena Roh Kudus yang memimpin-Nya ke sana, dan Roh Kudus adalah Roh yang diberikan kepada mereka yang taat kepada Allah (Kisah Para Rasul 5:32). Yesus taat pada pimpinan Roh Kudus, dan kebanyakan manusia tidak pernah menyangka adanya satu kemungkinan yang sedemikian mengherankan, yaitu Roh Allah memimpin Yesus untuk dicobai oleh Iblis.

Adegan ketika Yesus dibawa untuk bertemu Iblis merupakan satu adegan yang menarik sekali. Adegan ini dimulai dengan munculnya Iblis dan diakhiri dengan munculnya malaikat. Sebenarnya di padang gurun ini sudah ada “persiapan” dari dua macam roh, yaitu Iblis dan malaikat. Allah telah meletakkan Yesus di antara kedua roh itu. Hal yang sama dialami pula oleh Adam ketika ia berada di taman Eden, di mana di sana juga ada Iblis dan ada malaikat. Bedanya, kisah Adam dimulai dengan setan yang menggoda dan diakhiri oleh malaikat yang menutup pintu; kisah Yesus dimulai dengan Iblis yang menggoda dan diakhiri dengan malaikat yang melayani Dia. Ketika Iblis menggoda Adam, Adam gagal. Ketika Iblis menggoda Yesus, Yesus menang.

Dalam kedua peristiwa ini munculnya malaikat selalu di belakang. Di dalam setiap ujian atau pencobaan, sepertinya Tuhan melepaskan Saudara berjuang sendiri. Terkadang Saudara tidak mengerti mengapa Tuhan membiarkan Saudara mengalami kesulitan dan mengapa di dalam kesulitan-kesulitan seperti ini malaikat tidak datang membantu. Mengapa bukan Tuhan yang muncul tetapi justru Iblis yang muncul? Tetapi Tuhan akan menjawab bahwa cara Tuhan memberikan ujian dan membiarkan pencobaan kepada Saudara adalah berdasarkan kedaulatan dan bijaksana-Nya, dan baru pada akhirnya Saudara akan mengerti.

Jika Adam diuji dan dicobai di taman Eden yang indah, maka Tuhan Yesus justru diuji dan dicobai di padang belantara yang gersang. Adam dicobai sebelum dosa masuk ke dalam dunia, Yesus dicobai ketika dosa sudah masuk ke dalam dunia dan sedang terus-menerus merongrong dunia. Ketika Adam dicobai, ia sudah terlebih dahulu diberi peringatan oleh Allah, tetapi ketika Yesus dicobai Ia tidak diberi peringatan apa-apa, kecuali Ia sudah membaca Kitab Suci dengan begitu saksama. Yesus selalu menjadi contoh untuk bagaimana mengatasi pencobaan.

Jikalau Saudara belajar seperti Tuhan Yesus, menyimpan firman Tuhan secara teliti dan sempurna di dalam hati Saudara, Saudara bisa terhindar dan menang dari pencobaan. “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.” (Mazmur 119:9). Yesus menjadi contoh bagi para pemuda-pemudi. Mengapa Saudara tidak bisa mengalahkan pencobaan? Karena tidak ada firman yang Saudara simpan di dalam hati Saudara.

Amin.
(Bersambung)
SUMBER :
Nama buku : Ujian, Pencobaan & Kemenangan
Sub Judul : Bab 4 : Kristus Dalam Proses Krusial (1)
Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit : Momentum, 2014
Halaman : 81 – 89
Artikel Terkait :
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube