Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

BAB 7 :

PIMPINAN ROH KUDUS DALAM KEHIDUPAN PRAKTIS

Roh Kudus Memimpin Relasi Interpersonal

Roh Kudus yang memimpin seseorang akan membangun suatu relasi interpersonal (hubungan antar-pribadi). Masalah ini merupakan tema yang penting di dalam theologi, filsafat, bahkan psikologi, pada abad ke-20. Relasi interpersonal yang indah dan benar hanya dapat dibangun di antara manusia ciptaan dan Allah Pencipta. Kita yang sudah diperdamaikan kembali dengan Tuhan akan mempunyai relasi interpersonal yang indah antar pribadi. Roh Kudus adalah Pribadi yang memimpin pribadi. Pribadi Pencipta itu akan memimpin pribadi ciptaan sehingga pribadi ciptaan itu akan terus-menerus dipimpin semakin dekat dan menyerupai Pribadi Pencipta dan dapat berelasi dengan-Nya. Bukankah ini merupakan suatu keindahan yang besar?

Untuk melihat relasi antara pimpinan Roh Kudus dan pembentukan karakter dan kehidupan seseorang, kita perlu memperhatikan beberapa unsur terpenting di bawah ini:

  • 1. Hereditas membentuk unsur dasar karakter suatu pribadi;
  • 2. Lingkungan menjadi kuasa pengaruh yang paling menentukan bagi pembentukan seseorang;
  • 3. Tendensi dan penetapan diri melalui kebiasaan sangat menentukan arah pembentukan karakter.
  • 4. Kesengsaraan dan penderitaan menguji dan meneguhkan karakter seseorang;
  • 5. Agama mengontrol perkembangan karakter seseorang;
  • 6. Firman Tuhan memurnikan pembentukan karakter; dan
  • 7. Roh Kudus memimpin pribadi ke dalam perkembangan potensi yang paling indah dan sempurna.

Roh Kudus tidak mengontrol dalam arti memaksa, seperti agama yang melarang lalu memarahi dan mengancam, dan sebagainya. Agama menguasai karekter sehingga seseorang selalu ketakutan, tetapi Kekristenan berbeda. Orang Kristen dipimpin, disadarkan, dan dicerah-kan oleh Roh Kudus. Bagaimana caranya?

Roh Kudus Memimpin Temperamen

Setiap pribadi berbeda-beda. Jangan Saudara meminta semua orang menjadi seperti Saudara. Itu adalah tindakan yang terlalu kejam. Justru baik semua orang berbeda-beda. Jikalau semua orang sama, justru akan menakutkan. Orang yang keras jangan menikah dengan orang yang keras juga, nanti melahirkan besi. Yang lembut dengan yang lembut akan melahirkan tahu. Seringkali orang yang keras begitu tertarik kepada yang lembut, tetapi kemudian tidak sabar ketika harus menunggunya. Semua itu akan membentuk suatu harmoni melalui ketidak-harmonisan dan membentuk karakter kita. Yesus memilih murid yang berbeda-beda karakternya.

Ada satu pikiran Yunani, yang dikembangkan oleh Tim LaHaye, yaitu temperamen orang dibagi ke dalam empat bagian:

  • Sanguin, seorang yang mudah berkawan, yang perasaannya mudah berubah-ubah.
  • Melankolik, adalah orang yang selalu berpikiran negatif, sekalipun pemikirannya begitu melimpah, ia sulit mempercayai dan selalu mewaspadai segala sesuatu, yang mengakibatkan takut bertindak.
  • Kolerik, orang yang beraninya luar biasa, yang tidak pernah takut susah, tidak takut ancaman apapun, maju terus dengan kemauan keras. Ia juga orang yang sangat pendendam, sehingga yang bersalah kepadanya tidak akan dilepaskan; dan
  • Plegmatik, seorang yang begitu tenang, stabil, tidak banyak emosi.

Banyak orang yang hanya memiliki satu tipe saja, dan tidak seorang pun yang mutlak sama dengan yang lain. Tuhan Yesus juga memilih berbagai macam murid. Jangan Saudara pernah berkeinginan semua orang sama, apalagi semua pendeta sama. Jika di dalam gereja Saudara semua pendetanya bertemperamen kolerik, nanti semua yang namanya Markus akan diusir olehnya. Setiap orang berbeda. Tetapi setiap orang akan sama memiliki kebaikan asalkan ia dipimpin oleh Roh Kudus.

Seorang rektor sekolah theologi di Hongkong mengatakan kepada saya bahwa ia mengatur murid-murid yang sama temperamennya untuk tinggal di satu kamar yang sama agar menciptakan satu kebudayaan tersendiri. Tetapi saya justru tidak berpikiran sama. Saya katakan kepadanya bahwa saya akan mencampurkan mereka yang jorok dengan yang bersih, yang cerewet dengan yang pendiam. Kalau selama sekolah mereka hanya menemukan orang-orang yang sama dengan mereka, bagaimana nanti setelah lulus bisa melayani orang-orang yang berbeda-beda sifatnya? Biarlah Tuhan memimpin Saudara menemui berbagai macam orang sehingga Saudara bisa belajar untuk saling menyesuaikan diri satu dengan yang lainnya. Menyesuaikan diri adalah salib yang berat, tetapi perlu. Di situlah pertumbuhan rohani dimulai. Tuhan yang memimpin karakter.

Temperamen seseorang tidak perlu ditiadakan, karena masing-masing temperamen memiliki keindahanmya sendiri. Tidak perlu ganti temperamen, yang perlu hanyalah ganti arah. Orang yang keras, ketika bertobat tidak perlu jadi lembut. Silakan tetap keras, tetapi ketika Roh Kudus bekerja dan memimpin, dinamikanya muncul, sehingga arahnya berubah. Dulu ia keras melawan Roh Kudus sekarang ia keras melawan Iblis. Kerasnya tetap, tetapi arahnya telah berubah.

Roh Kudus tidak menguasai Saudara sehingga Saudara serupa dengan orang lain. Yang dulunya cerewet, memaki-maki orang atau bergunjing, sekarang “cerewet” memberitakan Injil. Pada saat Roh Kudus memimpin seseorang, Ia tidak akan mengoreksi arahnya. Itulah sebabnya kita tidak perlu mencontoh orang lain.

Roh Kudus memimpin sehingga temperamen kita mencapai keindahan yang tertinggi. Dengan cara seperti ini, Paulus yang kolerik, ketika ia berbicara tentang cinta kasih, ia bisa membicarakannya sama panjang dengan Yohanes. Yohanes yang bagaikan guntur bisa membicarakan ayat tentang kasih yang begitu mendalam di Yohanes 3:16.

Roh Kudus Memimpin Corak Hidup yang Berbeda

Setiap orang tidak perlu sama di dalam corak atau gaya hidupnya. Ada orang yang rohani, cara jalannya berubah. Ketika ia melihat cara jalan orang lain berbeda dengannya, ia menganggap orang itu kurang rohani. Hal itu tidak benar. Tidak ada satu ketentuan khusus bagaimana cara berjalan yang rohani.

John Sung, kalau berkhotbah menggunakan pakaian Shanghai, sisiran rambutnya menghadap ke bawah, dan ia selalu memakai saputangan putih. Lalu ada pendeta-pendeta muda yang coba-coba meniru dia tetapi tidak bisa memiliki kuasa yang sama seperti John Sung. Setiap orang dipanggil secara berbeda, jangan meniru orang lain. Saya sendiri berbeda dengan kakak saya. Kalau pendeta Caleb Tong naik ke mimbar, ia tersenyum manis sekali, tetapi saya tidak bisa mencontoh dia. Tuhan Yesus juga berbeda dari Yohanes Pembaptis. Sekalipun berita khotbahnya sama, “Bertobatlah, karena Kerajaan Sorga sudah dekat!” namun caranya berbeda. Tuhan Yesus memakai jubah, Yohanes Pembaptis memakai bulu unta. Setelah berkhotbah Tuhan Yesus makan malam dengan orang-orang yang diinjili, tetapi Yohanes Pembaptis masuk ke dalam hutan dan makan belalang serta madu hutan.

Setiap hamba Tuhan juga berbeda-beda, corak hidupnya tidak perlu sama. Jikalau saat itu Yohanes Pembaptis pakai bulu unta dan Tuhan Yesus juga memakai bulu unta, maka sejak saat itu semua pendeta harus memakai jubah bulu unta baru sah, atau harus makan madu hutan baru dipenuhi Roh Kudus. Kalau hal ini menjadi patokan, celaka sekali. Seperti yang terjadi di beberapa sekolah theologi, mereka menentukan kalau mau lulus harus memakai model tertentu, cara khotbah tertentu, dan cara berbicaranya tertentu. Tidak perlu! Corak hidup tiap orang boleh berbeda, asal doktrinnya sama. Orang yang terus meniru orang lain akan menghambat pertumbuhannya sendiri dan memenjarakan dirinya sendiri.

Di sekolah theologi Nanking ada tradisi jika orang berdoa, di tengah-tengah doa, berhenti sebentar, ia menyedot udara dengan mulutnya sehingga suaranya seperti bersiul. Ternyata tradisi ini berasal dari seorang dosen senior, salah seorang theolog besar di Cina, yaitu Dr. Chia Yu Ming. Setelah ditanyakan mengapa ia berdoa demikian, apakah itu merupakan tanda doa yang rohani? Ternyata ia menjawab bahwa ia sama sekali tidak bermaksud menurunkan tradisi seperti itu, ia berdoa demikian karena setiap kali berdoa, gigi palsunya mau lepas, jadi ia harus menyedotnya baru melanjutkan doanya. Karena ia seorang yang rohani, maka orang menganggap cara menyedot udara seperti itu adalah salah satu bagian dari kerohaniannya.

Saya menasihatkan Saudara untuk tidak meniru orang lain. Kalau Saudara terpengaruh orang secara bawah sadar tidak apa-apa, tidak perlu panik atau merasa bersalah. Tetapi tidak perlu sengaja meniru. Ketika Mozart menulis lagu, ia dipengaruhi oleh Haydn. Tetapi akhirnya Mozart tetap menjadi dirinya sendiri. Tidak perlu menegur orang yang memiliki kemiripan dengan orang lain, tetapi boleh menganjurkannya untuk maju setapak lagi. Demikian pula dengan simfoni pertama dan kedua Beethoven, masih sangat dipengaruhi oleh Mozart dan Haydn, tetapi sejak movement keempat dari simfoni kedua, jiwa Beethoven mulai keluar. Demikian pula ketika kita sebagai orang Kristen dipimpin oleh Roh Kudus, kita bisa menemukan diri kita sendiri, mengembangkan diri dan menyerahkan diri untuk terus dipimpin-Nya, dan Ia tidak akan membunuh kepribadian diri Saudara.

Perbedaan antara Iblis yang merasuki seseorang dan Roh Kudus yang memimpin seseorang adalah: Iblis berusaha untuk menudungi dan menguasai kepribadian Saudara, sedangkan Roh Kudus tidak membunuh kepribadian Saudara. Istilah yang dipakai untuk tindakan Roh Kudus begitu banyak, seperti : memimpin, mencerahkan, menggerakkan, membersihkan, mewahyukan, menginspirasikan, mengilhami, menyaksikan, memeteraikan, dan lain-lain; tetapi tidak pernah memakai istilah merasuki seseorang. Roh Kudus tidak pernah merasuki seseorang, tetapi Iblis merasuki seseorang. Roh Kudus memimpin seseorang tetapi Ia tidak memadamkan atau menindas kepribadian orang itu. Ia akan memimpinnya sampai menjadi satu kepribadian yang mulia sekali.

Apa yang dicapai oleh Billy Graham hanya bisa dicapai oleh Billy Graham; apa yang dicapai oleh Stephen Tong juga hanya bisa dicapai oleh Stephen Tong, karena Allah menciptakan kita dengan kepribadian yang tidak bisa ditiru, diulangi, atau dijiplak oleh orang lain. Setiap Saudara juga unik. Saudara mungkin melebihi Billy Graham atau Stephen Tong. Saudara harus rela dikembangkan oleh Roh Kudus secara maksimal untuk menjadi diri Saudara sendiri.

Roh Kudus Memimpin Pekerjaan

Setiap orang harus menemukan dimana tempat kerjanya yang tepat dan di mana tempatnya yang tepat di tengah masyarakat. Hal ini adalah realitas yang sangat penting dan harus direalisasikan. Kita tidak boleh hanya bingung mencari pimpinan Roh Kudus di dalam gereja dengan gejala yang aneh-aneh, tetapi kita harus mengetahui pimpinan Roh Kudus bagi sekolah, bidang pekerjaan, dan tempat pekerjaan kita, sehingga pimpinan itu sesuai dengan kehendak-Nya.

Banyak orang pergi studi keluar negeri hanya supaya bahasa Inggrisnya bagus. Kalau cuma itu, silahkan beli buku dan belajar bahasa Inggris di sini. Itu cukup. Kalau seseorang mau belajar ke luar negeri, paling tidak tiga hal ini harus dipenuhi terlebih dahulu: (1) apa yang ada pada diri Saudara yang telah ditanam oleh Tuhan di dalam diri Saudara? (2) apa yang dibutuhkan oleh masyarakat di mana Saudara bisa memberikan sumbangsihnya? Dan (3) di manakah tempat di luar negeri yang paling tepat untuk bisa memperkembangkan apa yang ada pada Saudara untuk Saudara bisa menjadi berkat dan memberikan sumbangsih yang terbaik? Ketempat itulah Saudara pergi. Kalau tidak, Saudara sedang memboroskan waktu dan uang pemberian Tuhan.

Orang yang miskin dan tidak bisa sekolah tinggi padahal ia mempunyai kemampuan merupakan pemborosan bakat. Sebaliknya, orang yang kaya tetapi bodoh dan tidak mampu sekolah tinggi, tetapi memaksa diri dengan segala cara untuk mendapatkan gelar, adalah pemborosan uang. Ada orang kaya yang memaksa anaknya untuk belajar musik, padahal anaknya sama sekali tidak berbakat untuk itu. Sebaliknya ada anak-anak yang berbakat, tetapi tidak ada uang untuk belajar. Hendaknya orang kaya itu menghentikan les anaknya dan mengalihkan dananya untuk anak-anak yang berbakat itu. Yang jadi tidak selalu harus anak Saudara! Saya hidup di dunia untuk Tuhan, bukan sekedar untuk keluarga.

Demikian pula di dalam hal pekerjaan. Jika Saudara melihat Tuhan memberikan bakat dan keterampilan kepada Saudara untuk merawat orang lain, silakah Saudara menjadi dokter. Pada zaman ini banyak orang belajar komputer, bukan karena berbakat dalam bidang itu tetapi karena keahlian ini menyebabkan lebih mudah mencari makan. Orang-orang belajar bisnis ke luar negeri karena itu akan menghasilkan gaji yang besar. Akibatnya, hidup Kekristenan kita tidak bisa berkembang dengan baik karena sudah dimatikan dengan motivasi yang menyeleweng. Demi uang kita mengarahkan seluruh bakat kita untuk uang yang ingin kita capai. Inilah yang disebut sebagai the economical animals (binatang-binatang ekonomi). Mereka kelihatan kaya sekali, tetapi sebenarnya mereka sedang merusak masyarakat dan merusak pimpinan Tuhan.

Saya tidak akan menghargai orang kaya lebih daripada orang miskin hanya karena persembahan mereka lebih banyak. Saya ingin setiap orang setia mengikuti pimpinan Tuhan menurut ukuran yang seharusnya. Banyak orang kaya belum memberikan persembahan yang sesuai dengan porsinya. Meskipun mereka memberi banyak, saya tetap menganggap mereka pencuri uang Tuhan. Ada orang miskin yang secara jumlah memberikan sedikit, tetapi itu sudah melebihi porsi yang seharusnya, maka mereka yang miskin itu lebih mencintai Tuhan daripada mereka yang kaya. Carilah pekerjaan yang sesuai dengan bakat yang ada pada Saudara dan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat, lalu Saudara dilatih di tempat yang tepat, sehingga Saudara bisa betul-betul menjadi berkat bagi masyarakat. Hendaklah setiap orang berpikir demikian, maka itulah tugas kita, di mana Tuhan akan menempatkan kita pada posisi-posisi yang cocok.

Sekitar 2.300 tahun yang lalu, Plato mengatakan satu kalimat, “Yang disebut adil adalah masing-masing bekerja menurut bakat yang ada padanya, sehingga ia mengembangkannya sebaik-baiknya.” Inilah wahyu umum di luar Alkitab, pemberian Tuhan bagi umat manusia. Jika kita sebagai orang Kristen tidak mengetahuinya, kita lebih celaka daripada mereka yang bukan Kristen. Saya seringkali bersimpati kepada mereka yang membenci orang Kristen, bukan karena saya setuju dengan mereka, tetapi karena saya mengerti bahwa mereka justru seringkali dihambat oleh orang-orang Kristen. Marilah kita mengoreksi diri kita sendiri, apakah hidup dan pekerjaan kita sudah sesuai dengan kehendak Tuhan atau belum. Biarlah setiap orang mencari pimpinan Tuhan untuk pekerjaan mereka masing-masing.

Roh Kudus Memimpin Pelayanan

Saudara memiliki keluarga, negara, pekerjaan, dan gereja. Paling sedikit ada empat kewajiban kita yang besar. Apakah kontribusi kita terhadap negara, keluarga, pekerjaan dan gereja kita? Setiap orang Kristen harus melayani. Tidak boleh ada orang Kristen yang tidak melayani. Tetapi pelayanan bukan berarti harus naik mimbar. Kalau Saudara harus naik mimbar baru merasa melayani, mungkin sampai mati Saudara tidak mempunyai kesempatan.

Di dalam pelayanan saya banyak mengalami pengalaman baik yang positif maupun negatif. Saya pernah tidur di pedalaman dengan seprei (alas tempat tidur) yang sudah satu tahun tidak dicuci sehingga ketika saya bangun, seprei itu lengket di punggung saya. Saya juga pernah tinggal di hotel bintang lima. Saya pernah pelayanan di pedalaman lebih dari satu bulan dengan hanya makan sayur mayur yang diambil dari hutan tempat itu. Banyak sekali pimpinan Tuhan yang negatif bagi saya. Tetapi pada saat saya berada di pedalaman seperti itu, saya ingat bahwa Tuhan Yesus pernah tidur di palungan. Ketika saya berada di hotel bintang lima, saya tidak perlu rendah diri karena saya adalah anak Raja di atas segala raja. Saudara bisa bertanya kepada mereka yang pernah menerima saya, apakah saya selalu menuntut macam-macam. Puji Tuhan! Tuhan memimpin setiap Saudara di dalam pelayanan Saudara. Yang penting bagaimana kita selalu taat di dalam pimpinan Tuhan bagi kita, sehingga kita bisa melakukan kehendak-Nya.

Billy Graham, ketika berusia dua puluhan, menyadari bahwa ia harus menjadi seorang penginjil. Maka ia keluar dari kedudukannya yang sudah sangat mapan sebagai rektor, lalu menggembalakan jemaat. Ia tetap melihat tempat tersebut bukan tempat yang tepat baginya, maka ia keluar dan mulai memberitakan Injil di Los Angeles. Dari sini Tuhan mulai memimpin dia semnakin besar.

Pelayanan juga perlu dipimpin oleh Roh Kudus. Ada orang-orang yang kalau disuruh berdoa di tempat umum, badannya gemetar dan berkeringat, mungkin ia bisa berdoa di kamarnya. Tetapi ada orang berbakat sekali berbicara di mimbar. Setiap orang berbeda. Ia harus melihat bagaimana Tuhan memimpin pelayanannya. Mungkin Saudara dipimpin oleh Tuhan melebihi Billy Graham yang bertalenta memimpin kebaktian-kebaktian kebangunan rohani, atau melebihi Karl Barth yang bertheologi begitu kuat, tetapi jangan ikut theologinya yang Neo-Ortodoks, atau melebihi Charles Wesley yang menulis begitu banyak syair untuk pujian Kristen, atau mungkin Saudara dipakai untuk memberitakan Injil hanya kepada satu orang seperti Filipus yang memberitakan Injil kepada seorang sida-sida. Kita harus tetap taat pada pimpinan Roh Kudus.

Maukah Saudara hidup dinamis menurut pimpinan Roh Kudus? Maukah Saudara mempelajari firman Tuhan untuk melihat jejak tapak kaki Roh Kudus yang memimpin Saudara?

Amin.

SUMBER :
Nama buku : Dinamika Hidup Dalam Pimpinan Roh Kudus
Sub Judul : Bab 7 : Pimpinan Roh Kudus Dalam Kehidupan Praktis
Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit : Momentum, 2014
Halaman : 109 – 119
Artikel Terkait :
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube