Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

PRAKATA

Teologi merupakan kristalisasi dan sistematisasi dari pengenalan terhadap Alkitab. Teologi orang Kristen merupakan ilmu Ketuhanan yang digali dari Kitab Suci yang diwahyukan Tuhan. Namun pengertian dan penafsiran Alkitab tidak lepas dari pra anggapan-pra anggapan yang kadang-kadang dipengaruhi oleh filsafat-filsafat, kebudayaan dan pengalaman pribadi. Itu sebabnya jika tidak terus-menerus setia kepada Alkitab, maka mungkin terjadi penyelewengan yang berbahaya serta merugikan iman orang Kristen.

Pada zaman Reformasi, gejala ini sangat menonjol, sehingga timbullah semangat mengembalikan iman orang Kristen yang murni dengan jalan satu-satunya : kembali kepada Alkitab. Para Reformator tidak pernah berusaha menegakkan dokrtrin yang baru atau berminat mendirikan gereja yang lain. Mereka semua berniat untuk kembali kepada kepercayaan mereka adalah betul-betul berasal dari Alkitab dan sesuai dengan Pengakuan Iman Rasuli dan Kredo-Kredo yang penting. Maka boleh dikatakan karya Reformator adalah menghidupkan kembali kepercayaan yang murni berdasarkan Alkitab.

Motivasi semacam ini sangat tinggi dan berharga, sehingga jarang terlihat di dalam sejarah, baik sebelum maupun sesudah Reformasi. Misalnya pada zaman Scholasticisme, Kekristenan berkompromi dengan Aristotelianisme. Sedangkan pada zaman Pencerahan (abad 17-18), teologi Kekristenan dipengaruhi oleh Rasionalisme, Kantianisme, atau abad 19 teologi Kekristenan tunduk kepada Skepticisme yang diwarnai oleh Anti Supranaturalisme dan Anti-metafisika, serta berkompromi dengan Aliran Baru, misalnya: Evolusi dan Naturalisme, sehingga Kekristenan disingkirkan dan Alkitab diabaikan.

Maka kami dengan tegas menghargai perjuangan Teologi Reformed di sepanjang sejarah yang harus mengalami peperangan yang sengit dan beban apologetika yang berat, supaya kebangunan iman Kristen boleh tetap dipertahankan, sampai Tuhan Yesus datang kembali. Dengan motivasi seperti inilah kami mencetak buku ini sebagai pedoman kecil bagi setiap orang untuk mengenal Teologi yang sudah tahan uji itu. Kiranya Tuhan dipermuliakan. Amin.

Jakarta, April 1991

Pdt. DR. Stephen Tong

————————————————————————

BAB I :

SEJARAH TEOLOGI REFORMED

Apakah Reformed itu dan mengapa harus Reformed?

Reformed Theology atau Teologi Reformed adalah salah satu teologi yang seringkali disalah-mengerti dan tidak diterima dengan baik atau diterima dengan pengertian yang sesungguhnya. Sehingga meng-akibatkan banyaknya serangan yang sebenarnya tidak perlu terjadi di dalam sejarah.

Bagian 1 :

Teologi Reformasi dan Teologi Reformed

Kita pertama-tama perlu membedakan Theology of Reformation (Teologi Reformasi) dan Reformed Theology (Teologi Reformed), di samping Theology of Reformed Tradition (Teologi dari Tradisi Reformed). Teologi Reformasi meletus di abad ke 16 dan letusannya terjadi di beberapa tempat yang berbeda. Pertama-tama terjadi di Jerman dengan Martin Luther sebagai pelopornya. Sedangkan yang terjadi di Switzerland dan Perancis dipelopori oleh Yohanes Calvin, dan Zwingli khususnya di Switzerland. Selain itu terjadi juga di beberapa tempat yang lain seperti Inggris. Sebelum terjadinya reformasi oleh Martin Luther dan Calvin yang merupakan suatu peristiwa yang teramat penting, telah terjadi banyak ketidakpuasan terhadap gereja-gereja yang telah menyeleweng atau tidak lagi sesuai dengan Alkitab. Ketidakpuasan ini terjadi di Bohemia, Inggris dan tempat-tempat yang lain, hingga terjadinya Reformasi yang dimulai oleh Martin Luther di Wittenberg, Jerman, barulah gerakan ini menjadi suatu gerakan yang bersifat global dan bersifat memisahkan sejarah menjadi dua era.

Bagian 2 :

Martin Luther

Martin Luther adalah seorang yang berasal dari rakyat biasa dan bukan seorang anak aristokrat. Bahkan dapat dikatakan berasal dari kelas pekerja. Meskipun demikian ia mewarisi pole kehidupan keluarga yangs angat berani, bersungguh-sungguh dan sangat tuntas. Semangat yang demikian membentuknya menjadi seorang yang berusaha melihat segala sesuatu dengan akurat, setia dan jujur/tulus. Suatu semangat yang agung. Di samping itu, berbagai peristiwa yang dialaminya seperti kematian orang-orang yang dekat dengannya dan musibah-musibah yang menimpa kehidupannjya, membuatnya menjadi seorang yang amat serius terhadap iman kepercayaan. Salah satu pertanyaan yang serius bagi hidupnya adalah: apa yang terjadi setelah kematian? Juga pertanyaan mengenai dosa menjadi sangat relevan. Bagaimana supaya kita dapat benar-benar beroleh anugerah Allah? Selain itu, Martin Luther juga dipengaruhi oleh teologi dari Williem of Ockham (1280-1`349), salah seorang teolog besar Medieval (Abad Pertengahan).

Bagian 3 :

Teologi Abad Pertengahan (Medieval Theology)

Apakah Medieval Theology (Teologi Abad Pertengahan)? Masa pertengahan dilatar-belakangi dengan pemikiran Agustinus (354-430) yang berpengaruh besar pada abad 4 dan 5. Kemudian dilanjutkan dengan pemikiran Anselm (1033-1109) yang mempengaruhi sampai abad 11. Setelah itu mulailah periode medieval sampai dengan abad 16. Periode medieval ditandai dengan Medieval Theology dan sekaligus Medieval Philosophy (Filsafat Abad Pertengahan) oleh karena waktu itu keduanya disatukan. Bagi mereka yang belajar secara akademis pada masa itu harus mempelajari keduanya.

Periode medieval juga ditandai dengan kebangunan filosafat Aristoteles pada abad 13. Sebelumnya filsafat Plato-lah yang mempengaruhi arus utama pemikiran filsafat. Kebangunan filsafat Aristoteles tampak dalam pemikiran Teologi Alamiah (Natural Theolopgy). Pemikiran sedemikian mencapai puncaknya dalam pemikiran Thomas Aquinas (1225-1274), yaitu lima jalan untuk membuktikan keberadaan Allah. Pandangan ini didasarkan pada pemikiran Aristoteles yang sekalipun bukan seorang Kristen dianggap memiliki sejenis iman kepercayaan yang dapat membuktikan keberadaan Allah yang dapat dikatakan sangat ortodoks. Hal ini hampir menimbulkan kepercayaan – apakah harus melalui Kitab Suci orang baru dapat percaya bahwa Allah itu adalah Allah yang Esa. Menurut pikiran ini: Tidak. Manusia tidak lagi memerlukan berkat khusus dan karunia dari Roh Kudus untuk meyakini dan memikirkan bahwa keberadaan Allah itu sesuatu yang logis. Filsafat Aristoteles bukan hanya mempengharuhi Kekristenan tetapi juga mempengaruhi Yudaisme dan Islam. Metode dan logika Aristoteles sangat dijunjung tinggi pada masa itu, bahkan dianggap sebagai satu-satunya filsuf dalam dunia akademis.

Pandangan filsafat dan teologi Abad Pertengahan dapat kita sarikan dalam beberapa arus pemikiran, yaitu arus yang mementingkan rasio menjurus ke bidang akademis dan arus yang tidak mementingkan rasio menjurus ke arah mistiksisme. Selain itu terdapat dua arus yang penting, yaitu realisme dan nominalisme.

Bagian 4 :

Awal Reformasi

William of Ockham, salah seorang teolog abad pertengahan mempengaruhi Martin Luther yang merangsang pemikiran teologinya. Sekaligus mendorongnya untuk memiliki kepercayaan yang sejati dan pengalaman pribadi yang benar dengan Tuhan Allah. Sebaliknya Martin Luther menyaksikan kemerosotan gereja pada waktu itu baik dalam hal kesucian hidup maupun iman.

Pada suatu kali ketika Luther sedang berjalan di bawah siraman hujan, maka tiba-tiba halilintar menyambar di depan dia. Ia begitu takut dan merasa seolah-olah murka Allah telah ditumpahkan kepadanya. Dan saat itu, ia memperoleh gerakan yang besar di dalam hatinya, untuk hidup dalam kesucian agar tidak ditimpa murka Allah dan memutuskan untuk masuk biara. Selama di dalam biara, Martin Luther tidak terpengaruh ajaran Aristoteles melainkan ajaran Agustinus, salah seorang bapa gereja yang memiliki kecenderungan tradisi Plato.

Sebagai seorang yang menganut ajaran Agustinus, Martin Luther memperoleh kesempatan diutus pergi ke Roma. Suatu kota tempat ziarah untuk menyucikan diri. Roma dianggap tempat yang suci oleh karena di sana terdapat kuburan Petrus yang merupakan Paus pertama sebagai utusan Kristus. Selama beberapa kali kunjungannya ke Roma, Martin Luther akhirnya makin menyadari suatu kesedihan di dalam jiwanya yang tidak dapat ditahannya lagi. Oleh karena ia menyaksikan kerusakan moral dan korupsi, serta sikap hidup munafik dan bertentangan dengan Kitab Suci dan orang-orang yang menjadi pemimpin-pemimpin gereja.

Bagian 5 :

Latar Balakang Pemikiran Luther

Pergolakan dalam jiwa Martin Luther tidak dapat dipisahkan dari keadaan yang terjadi pada waktu itu. Pada abad 15, Renaissance mencapai puncaknya sebagaimana yang pernah diuraikan dalam Seminar Pembinaan Iman Kristen mengenai “Iman Kristen dan Liberalisme.” Renaissance merupakan suatu pengembalian yang didorong oleh semangat manusia akibat keunggulan-keunggulan yang pernah dicapai manusia dalam Yunani kuno. Mereka berusaha menggali kembali potensi-potensi yang ada dan kemungkinan-kemungkinan yang pernah dicapai oleh manusia di dalam dirinya sendiri sebagai makhluk yang bebas. Manusia memang mempunyai hak asasi dan manusia mempunyai kehormatan alamiah. Periode renaissance mencapai puncaknya dalam high-renaissance dan hasil karya seni didominasi oleh Michelangelo, Leonardo da Vinci dan Raphael.

Pada masa itu, para pemimpin gereja juga sedang membangun suatu gedung gereja yang terbesar di dunia, yaitu Basilea Santo Petrus di Vatikan. Gedung itu dilengkapi dengan suatu kubah yang terbesar dan agung di dunia. Kubah itu dirancang oleh Michelangelo yang adalah seorang tokoh high-renaisance di Italia. Ketika gedung gereja tersebut sedang dibangun ternyata pihak gereja mengalami kekurangan dana. Dan untuk menutupi kekurangan dana inilah, maka pihak gereja mulai menjual surat pengampunan dosa sebagai jalan pengampunan atas dosa. Untuk itu pihak gereja juga berusaha menyadarkan umatnya akan banyaknya dosa mereka sehingga mereka lebih banyak membeli surat pengampunan dosa.

Keadaan ini membuat Martin Luther tidak dapat menunggu lagi untuk melawan kerusakan gereja yang telah melawan Kitab Suci. Hal ini membangkitkan suatu pertanyaan dalam diri kita. Dari mana timbulnya kerusakan gereja? Jika kita merasa gereja telah mengalami kerusakan, maka di mana letaknya kerusakan itu? Apakah orangnya yang rusak atau kelakuannya? Apakah sistemnya atau ajarannya? Jika yang rusak adalah sistemnya maka perbaiki sistemnya. Jika yang rusak adalah orangnya, maka perbaiki orangnya. Jikalau organisasinya rusak, maka perbaiki organisasinya. Tetapi kerusakan gereja telah mencapai puncaknya dan mencemari segala aspek kehidupannya.

Martin Luther memiliki penglihatan yang sangat berbeda. Ia tidak hanya melihat gejalanya saja, tetapi akar masalahnya, yaitu aspek doktrin. Aspek doktrin menjadi dasar bagi kehidupan gereja oleh karena dari situ mempengaruhi seluruh aspek kehidupan. Mengapa sekarang kita harus mementingkan doktrin yang benar? Oleh karena sejak zaman para rasul dan Reformasi abad 16, mereka melihat titik pusat permasalahan terdapat pada doktrin. Seperti halnya roda hanya dapat berfungsi dengan baik jika porosnya tepat di tengah. Martin Luther telah melihat apa yang menjadi dasar kerusakan itu, yaitu doktrin yang tidak sesuai dengan Alkitab. Doktrin atau ajaran yang tidak sesuai dengan Alkitab tidak mempunyai otoritas yang sejati. Tanpa otoritas yang sejati maka manusia kehilangan kriteria yang mutlak. Tanpa kriteria yang mutlak, manusia kehilangan jalur yang tepat untuk taat. Dan tanpa jalur untuk taat, manusia akan memiliki kebebasan yang palsu.

Selain Martin Luther, pada wakjtu itu banyak orang memiliki ketidakpuasan terhadap gereja. Hal ini telah menjadi suatu yang diketahui umum dan tidak dapat disembunyikan lagi. Rakyat menyaksikan kerusakan gereja bahkan kadang kala kerusakan itu melebihi kerusakan yang terjadi dalam kalangan orang biasa. Meskipun demikian para pimpinan selalu mengatakan, “Beginilah firman Tuhan….” Oleh karena mereka beranggapan bahwa para pemimpin adalah wakil Tuhan dan rakyat harus menaati mereka. Hal ini semakin menambah kejenuhan dan kebencian rakyat mendengarkan mereka.

Keadaan ini memperlihatkan kepada kita ketidak-adilan, para pemimpin berhak mengeritik rakyat dengan dukungan ayat-ayat Alkitab, sedangkan rakyat tidak berhak mengeritik pada pimpinan. Keadaan ini membuat orang-orang mulai meninggalkan gereja, namun mereka tetap terikat oleh gereja sebab keselamatan hanya terdapat di dalam gereja.

Pandangan ini berasal dari tradisi yang dimulai oleh Eusebius. Keselamatan hanya di dalam gereja berarti keselamatan berada di dalam Kristius, dan gereja adalah tubuh Kristus; maka melalui tubuh Kristus diberitakan Injil Yesus Kristus yang membuat manusia beroleh keselamatan. Sehingga jelaslah bahwa di luar agama Kristen dan gereja Kristus tidak ada keselamatan yang dapat diberitakan kepada manusia berdosa. Pernyataan ini benar. Namun pernyataan keselamatan hanya di dalam gereja kemudian dimengerti sebagai di dalam gereja saya baru mendapat keselamatan dan di luar gereja saya pasti binasa. Dan gereja yang dimaksud adalah gereja Roma.

Dalam keadaan sedemikian, apa yang harus dilakukan oleh Martin Luther? Martin Luther melihat bahwa poros tidak lagi berada pada posisinya yang benar sehingga mengakibatkan begitu banyak terjadinya kerusakan. Orang kebanyakan tidak melihat hal ini. Mereka tidak melihat akar permasalahannya, dan tidak memperdulikan doktrin, sama seperti orang Kristen masa kini yang mengabaikan doktrin. Tetapi sebaliknya Martin Luther melihat kepentingan doktrin dalam permasalahan yang dihadapinya.

Jikalau orang kebanyakan melihat luarnya, Martin Luther melihat dalamnya. Mereka kebanyakan adalah orang-orang humanis yang membela hak kehormatan, kebebasan dan potensi manusia. Mereka tidak sembarangan mau menaklukkan hak dan kehormatan manusia di bawah otoritas-otoritas yang mengikat dan menghina kehormatan manusia. Dan mereka berusaha menentang dan menghina gereja secara terpisah, sendiri-sendiri dan tidak terorganisir. Namun oleh karena gereja memiliki kekuatan yang kokoh, maka mereka hanya memaki-maki, mengejek dan setelah itu selesai.

Di antara orang-orang humanis ini terdapat pula orang-orang terpelajar yang luar biasa. Mereka menentang gereja namun tidak berarti mereka menghina dan mengabaikan Alkitab. Mereka melihat kitab begitu suci dan melihar gereja begitu najis. Alkitab begitu tinggi dan gereja begitu rendah. Para humanis ini dapat kita bagi dalam dua bagian, yaitu humanis yang memiliki iman Kristen dan humanis yang ateis. Para humanis Kristen ini selain mementingkan kehormatan manusia, mereka juga menaklukkan diri di bawah kuasa Kristus; sedangkan humanis ateis sama sekali tidak mempedulikan iman atau agama, sebaliknya mereka menekankan otonomi manusia tanpa ikatan agama.

Selain martin Luther yang adalah seorang biarawan yang mempelajari skolastiksisme menurut tradisi Agustinus, maka kebanyakan reformator lainnya mempunyai latar belakang humanis seperti John Calvin, Ulrich Zwingli dan Guillaume Farel. Luther sendiri memiliki seorang kawan baik yang bernama Philip Melanchthon. Melanchthon adalah seorang jenius yang menjadi profesor pada usia 17 tahun.

Martin Luther menyadari kerusakan gereja hanya dapat diperbaiki jikalau doktrin dikembalikan kepada Alkitab; sebalinya Desiderius Erasmus, seorang humanis, berpendapat bahwa perbaikan hanya perlu dalam hal moral tanpa mengganggu gugat doktrin. Untuk itu ia menulis sebuah buku, “Memuji Orang Bodoh”, yang membongkar semua dosa-dosa para biarawan dan biarawati, dan para pimpinan gereja, namun ia tidak berusaha memperbaiki doktrin oleh karena menurutnya manusia masih memiliki kebebasan netral. Kemudian ia menulis sebuah buku, “Diatribe on Free Will” (Kehendak Bebas – 1524). Martin Lurther menyadari bahwa Erasmus belum melihat akar permasalahannya. Itulah sebabnya ia menulis sebuah buku, “The Bondage of The Will” (Perbudakan Atas Kehendak – 1525). Martin Luther tidak menyangkal kalau manusia memiliki kehendak tetapi kehendaknya sudah tidak netral lagi, oleh karena kehendak manusia telah dibelenggu oleh dosa.

Bagian 6 :

Gerakan Reformasi

Maka tibalah kita pada pertanyaan: Apakah gerakan Reformasi itu? Apakah gerakan reformasi adalah suatu gerakan untuk mengubah sistem masyarakat, kebudayaan, politik atau ekonomi? Jawabannya adalah tidak! Apakah gerakan reformasi mempunyai akibat terhadap kebudayaan, politik, ekonomi? Jawabannya: Ya!

Gerakan Reformasi, pertama-tama, bukan bertujuan merombak sistem politik, kebudayaan, atau masyarakat sekalipun berdampak ke dalam seluruh aspek kehidupan manusia.

Kedua. Apakah reformasi adalah suatu gerakan yang hanya menyerang dan berusaha untuk membereskan dosa-dosa yang diperbuat oleh para ulama dan hirarki gereja Roma saja? Jawabannya: Tidak! Apakah gerakan reformasi adalah suatu gerakan yang akhirnya berdampak menghantam dosa-dosa yang diperbuat oleh para ulama dan pemimpin gereja Roma waktu itu? Jawabannya: Ya! Reformasi pertama-tama tidak bertujuan membereskan dosa kemudian selesai dan berhenti.

Ketiga. Apalkah reformasi adalah suatu gerakan yang bertujuan mendobrak segala wibawa yang diturunkan dalam tradisi dan otoritas pemimpin sehingga manusia boleh mencapai kebebasan dan kehormatan sebesar mungkin? Jawabannya; Tidak. Tetapi apakah gerakan reformasi mengakibatkan banyak tradisi dan banyak oitoritas yang harus dibongkar dan kebebasan manusia dipulihkan kembali? Jawabanya: Ya. Bukan tujuan reformasi untuk membongkar semua tradisi, semua otoritas dan semua kewibawaan-kewibawaan yang ada dalam hirarki agama. Tetapi akibatnya tidak dapat dibendung lagi bahwa banyak tradisi dan otoritas yang tidak sesuai Alkitab harus diturunkan, sehingga manusia memperoleh kebebasan-kebebasan kembali. Semua ini merupakan akibat sampingan (side-effect).

Keempat. Apakah gerekan reformasi bertujuan untuk menghentikan segala macam upacara dan adat-adat gereja yang tidak sesuai dengan Alkitab? Jawabannya tetap tidak! Tetapi, apakah gerakan reformasi mengakibatkan terjadinya pengoreksian terhadap segala macam upacara, adat dan warisan-warisan tradisi gereja? Jawabannya: Ya! Kita perlu memiliki kejelasan apakah sebenarnya gerakan reformasi itu. Setelah itu kita baru dapat menyelami teologinya.

PENGERTIAN GERAKAN REFORMASI

Apakah Gerakan Reformasi ini?

Reformasi adalah satu gerakan yang hendak mengembalikan Kekristenan kepada otoritas Alkitab, dengan iman kepercayaan yang sesuai dengan prinsip-prinsip Wahyu Allah. Dan mempertahankan kebenaran serta pelaksanaan kebenaran. Ini merupakan suatu gerakan yang begitu murni dan memiliki tempat yang begitu penting dalam sejarah gereja. Begitu bermakna, begitu penting, begitu unik oleh karena motivasinya begitu jujur dan murni, yaitu ingin mengembalikan Kekristenan kepada Kitab Suci saja.

Peristiwa dan gerakan reformasi tidak boleh kita abaikan, oleh karena Luther melihat bahwa hanya dengan doktrin atau ajaran yang berotoritaskan Alkitab baru kita dapat mengatur segala sesuatu, ini adalah porosnya. Pada waktu itu begitu banyak otoritas yang berusaha mengontrol manusia dan manusia bersandar padanya sehingga manusia kehilangan porosnya. Jikalau para pemimpin gereja Roma menyatakan pengampunan dosa, maka umat merasa memperoleh penghiburan, tetapi lebih besar lagi jikalau memiliki surat pengampunan dosa yang berasal dari Paus, apalagi memiliki benda peninggalan para rasul atau Yesus, semua itu dianggap suci dan menjadi tempat sandaran yang kuat dan meneguhkan iman.

Martin Luther menyadari bahwa otoritas hanya terdapat pada Alkitab. Oleh karena dari Alkitab kita beroleh pengharapan iman. Iman pengharapan berdasarkan Alkiutab, otoritas tertinggi oleh karena diwahyukan oleh Allah. Jikalau bukan Allah yang mewahyukan Alkitab maka tidak ada Firman Tuhan di dalam dunia. Jikalau tidak ada Firman Tuhan maka kita akan kehilangan otoritas yang sejati. Itulah sebabnya kita harus kembali kepada otoritas Alkitab.

Pada saat kita kembali kepada Alkitab, barulah kita menyadari di mana letaknya penyelewengan itu terjadi, baik di dalam organisasi, upacara, tradisi, individu, administrasi, kuasa politik, sosial, ekonomi, kebudayaan, maupun dalam bidang-bidang yang lain. Hanya dengan tolok ukur pengajaran Alkitab, kita dapat menilai segala sesuatu. Jelaslah bahwa doktrin itu adalah suatu hal yang penting dan tidak dapat diabaikan. Surat Efesus memberikan contoh yang jelas mengenai hal ini. Dalam susunan ke-enam pasalnya, surat Efesus dimulai dengan pasal pertama yang menjelaskan mengenai predestinasi, yaitu sebelum dunia dijadikan Allah telah memilih kita di dalam Kristus untuk memperoleh warisan yang mulia sesuai dengan janji-Nya. Dilanjutkan dengan pasal ke-dua yang menguraikan bagaimana kita yang telah mati dalam dosa dapat beroleh keselamatan di dalam Kristus. Kemudian pasal ke-tiga menjelaskan mengenai rahasia yangmelampau sejarah di sepanjang zaman, dan yang sekarang kita beroleh karunia untuk mengertinya, dan dipersatukan menjadi satu tubuh dalam Kristus.

Kita beroleh warisan bersama dengan Kristus dan dengan iman, kita menerima kasih Kristus yang begitu tinggi, dalam, lebar dan panjang. Setelah itu dalam pasal ke-empat dijelaskan mengenai kesatuan tubuh Kristus yang dibentuk dalam satu Roh, satu baptisan, satu tubuh, satu pengharapan, dan satu iman. Semuanya ini menjadi dasar kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan keluarga sebagaimana diuraikan dalam pasal ke-lima, dan kehidupan dalam hubungan antara tuan dan hamba dalam pasal ke-enam. Paulus memberikan kerangka yang begitu jelas bahwa doktrin yang benar menjadi dasar kehidupan yang benar, baik dalam kehidupan gereja dan masyarakat. Dari vertikal ke arah horisontal. Kita tidak dapat mengabaikan aspek vertikal hanya oleh karena ingin segera terlihat sukses dan berkembang.

Reformasi melihat permasalahan dengan tepat berdasarkan doktrin yang diajarkan Alkitab. Seorang rohani adalah seorang yang melihat segala sesuatu dengan jelas dan menerobos. Sebaliknya orang yang tidak rohani tidak dapat melihat dengan jelas akar permasalahannya, dan hanya melihat carang-carangnya. Seorang dokter yang pandai akan segera melihat sumber penyakit, bukan hanya melihat gejalanya saja.

Bagian 7 :

95 Tesis Reformasi

Martin Luther dengan penuh keberanian memakukan 95 pernyataan mengenai iman kepercayaan Kristen pada pintu gereja di Wittenberg, Jerman. Martin Luther memberanikan diri melawan yang salah dan menyatakan yang benar. Namun sayang sekali, kota Wittenberg sekarang ini tidak lagi menampakkan pengaruh dari gerakan reformasi.

Berikut ini kita akan mempelajari beberapa tesis dari 95 pernyataan Martin Luther untuk mengerti apa yang diperjuangkannya.

  • Tesis yang pertama, Tuhan Yesus Kristus dan Guru kita mengatakan, “Bertobatlah kamu”, ini berarti seluruh hidup kaum beriman adalah hidup pertobatan.
  • Tesis kedua, penyesalan dan pengakuan dosa, tidak dapat dimengerti sebagai suatu upacara pertobatan dan tidak berarti, mengaku dosa supaya diampuni di hadapan pastor.
  • Tesis ke-lima, Paus tidak ada hak untuk meniadakan hukuman apa pun.
  • Tesis ke-enam, Paus tidak berhak meniadakan dosa, paling tidak dia hanya bisa meniadakan kasus-kasus yang dia pelihara.
  • Tesis ke-duapuluh satu, semua karcis penebusan dosa dan pemberitaan pengampunan seperti ini adalah salah.
  • Tesis ke-tigapuluh, jikalau manusia tidak ada pegangan untuk pertobatan diri yang sejati, maka lebih lagi tidak mungkin berpegangan pada janji Paus yang memberikan pengampunan dosa secara total.
  • Tesis ke-tigapuluh dua, jikalau ada orang percaya setelah memiliki dokumen pengampunan dosa, maka keselamatannya sudah ada pegangan. Sudah dipastikan, dia harus dijatuhi hukuman beserta orang yang mengajar demikian.
  • Tesis ke-tigapuluh enam, setiap orang Kristen meskipun tidak memiliki dokumen pengampunan dosa, tetapi dengan sungguh-sungguh bertobat, maka ia berhak mendapat pengampunan atas seluruh dosa dan kesengsaraannya.
  • Tesia ke-empatpuluh tiga, orang Kristen harus mengetahui menolong orang miskin, dan menjalankan sedekah adalah jauh lebih penting daripada membeli karcis pengampunan dosa.
  • Tesis ke-lima-puluh, orang Kristen harus mengetahui, jikalau Paus menyadari adanya pemaksaan (Kalau tidak beli, nanti saya marah) dan jikalau Paus menyadari paksaan-paksaan dan korupsi-korupsi yang dijalankan oleh bawahannya, dia lebih baik menghancurkan gereja Petrus menjadi abu dan jangan membangunnya dengan mengorbankan kehormatan darah Anak Domba Allah.
  • Tesis ke-enampuluh dua, pusaka gereja yang sejati adalah Injil yang memiliki kemuliaan dan anugerah Allah.
  • Tesis ke-tujuhpuluh sembilan, jikalau dikatakan: “Salib yang digantung di atas tubuh Paus mempunyai kuasa sama dengan salib Kristus”, maka ini merupakan penghujatan.
  • Tesis ke-delapanpuluh tujuh, jikalau manusia bertobat dengan sempurna berarti dia sudah mendapatkan hak pengampunan yang sempurna, dia tidak perlu lagi pengampunan dari Paus.

Demikian beberapa pernyataan dari 95 pernyataan Martin Luther.

Menyusul penempelan 95 tesis tersebut yang menimbulkan kemarahan besar, Martin Luther akhirnya harus disembunyikan oleh orang yang bersimpati kepadanya. Martin Luther telah memberikan sumbangsih yang besar bagi pemulihan gereja. Ia menyerukan agar setiap orang Kristen kembali kepada Alkitab. Untuk itu ia menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jerman yang sampai sekarang terjemahan tersebut masih dianggap salah satu versi yang paling baik. Tidak saja demikian, terjemahan bahasa Jerman yang dikerjakan oleh Luther menjadi satu dasar bahasa Jerman modern. Ia adalah seorang intelektual yang mempersembahkan dirinya untuk pekerjaan Tuhan.

Bagian 8 :

Perlawanan dengan Gereja Roma Katolik

Bagi seorang biasa yang berada di bawah kuasa gereja Roma Katolik waktu itu, jika ingin diselamatkan, menerima anugerah, dan mau beriman, maka dia harus dikasihani oleh pastornya. Pastor memiliki kuasa yang lebih tinggi daripada dia, dan paling tinggi adalah Paus. Darimana Paus mempunyai kuasa seperti itu? Oleh karena Paus adalah utusan Allah, yang diangkat oleh Paus sebelumnya dan Paus yang pertama adalah Petrus, dan Petrus diangkat oleh Kristus. Kekuasaan itu merupakan tradisi yang diturunkan terus-menerus ke generasi selanjutnya. Kristus memberikan kunci itu kepada Petrus, lalu Petrus menurunkannya ke generasi yang lain dengan penumpangan tangan.

Setiap pastor diyakini memiliki tanda Petrus. Jadi kalau sekarang saya mengampuni dosamu maka dosamu diampuni, kalau tidak maka tidak terhapuskan. Sedangkan para pendeta Protestan tidak memiliki tanda itu, sehingga jika sekarang mengikuti gereja tersebut, padahal gereja yang sah adalah gereja Roma Katolik, maka mereka tidak akan memperoleh pengampunan. Sekarang bagaimana? Pada waktu itu, orang-orang Kristen yang telah memutuskan hubungan dengan gereja Roma dan menerima ajaran reformator dikucilkan. Namun mereka tetap setia oleh karena mereka percaya bahwa otoritas tertinggi adalah Alkitab, bukan hirarki atau tradisi.

Dalam keadaan seperti itu, ajaran Predestinasi sangat memberikan kekuatan kepada mereka. Mereka menyadari bahwa mereka menjadi orang Kristen bukan kareena ditumpangi tangan oleh pemimpin gereja, atau karena diakui oleh Paus, melainkan karena dipilih oleh Allah sebelum dunia dijadikan. Mereka memperoleh identitas yang kokoh lebih daripada segala sesuatu yang ada di sekitar mereka. Mereka memiliki kepastian sebagai milik Tuhan sekalipun dunia ini hancur.

Ajaran Alkitab mengenai Predestinasi yang diajarkan oleh reformator memberikan kekuatan yang luar biasa. Jikalau bukan rencana Allah dalam kekekalan, tidak mungkin terdapat sesuatu yang baik dalam kesementaraan ini. Dari kekekalan, ketetapan Allah yang kekal (eternal decree of God) diterapkan dalam proses dinamis sejarah (dynamic process of history) sehingga terjadi sesuatu yang nyata dalam sejarah. Itulah sebabnya pengucilan, hukuman mati ataupun pengadilan agama tidak dapat membelenggu orang yang sudah menaruh iman kepercayaan di dalam otoritas Kitab Suci.

Amin.
SUMBER :
Nama Buku : Reformasi & Teologi Reformed
Sub Judul : Prakata – Bab I : Sejarah Teologi Reformed
Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit : LRII, 1994
Halaman : 1 – 16
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube