Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

PENDAHULUAN

Baik di Timur maupun di Barat, baik dahulu maupun sekarang, kita menyaksikan Kekristenan selalu berayun di antara dua ekstrem. Yang satu menjurus ke arah rasional. Berpusat pada kebudayaan dunia dan manusia. Gereja dikelilingi oleh lapisan-lapisan organisasi, ekonomi, administrasi dan tradisi, sehingga iman yang murni tidak lagi dijadikan fokus. Ekstrem yang kedua terjadi ketika sebagian orang yang merasa tidak puas terhadap gereja yang terlalu menitik-beratkan liturgi, berbalik kepada cara-cara pengobralan emosi, meninggalkan pemikiran Theologi dan pengajaran Alkitab yang ketat, dan akibatnya menitik-beratkan kepuasan pengalaman individual saja. Kedua kondisi ini makin menggerogoti Kekristenan dewasa ini, bagaikan akar beracun yang telah menjalar dalam tubuh Kristus.

Di antara dua ekstrem itu, kita harus menemukan jalan yang ketiga, yaitu pemikiran Theologi yang sesuai dengan aksioma Alkitab, dan menggabungkan esensi dari semua aliran Kekristenan. Meneliti kebenaran secara serius perlu ditambah dengan menaati Amanat Agung Yesus Kristus. Aksi penginjilan yang dinamis merupakan penggabungan antara Theologi dan penginjilan. Penggabungan kedua hal ini pasti akan menghasilkan kebangunan gereja.

Kita menyaksikan banyak penginjil melalaikan Theologi, dan sebaliknya banyak theolog tidak mengabarkan Injil. Allah bukan saja Allah kebenaran, tetapi juga Allah yang bertindak. Allah bukan saja Allah yang memberi wahyu, tetapi juga Allah yang menyelamatklan dunia. Dalam kebenaran yang diwahyukan, kita melihat tindakan penyelamatan Allah, dan di dalam tindakan penyelamatan tersebut kita memahami sumber wahyu dan makna keselamatan. Gereja yang menyinkronkan antara wahyu dengan tindakan penebusan pastilah merupakan gereja yang sehat dan teguh, dapat melaksanakan amanat Allah dengan penuh potensi dan efisien di tengah-tengah dunia yang penuh dengan kubu-kubu buatan manusia dan ideologi filsafat.

Jika mereka yang menangani penginjilan tidak tahu apa itu penginjilan dan mereka yang meneliti Theologi tidak mengetahui apa itu Theologi, bukankah orang Kristen menjadi lebih ceroboh dari orang dunia? Hal ini sudah menjadi fakta yang sangat disesalkan. Ada banyak orang yang belajar theologi, tetapi theolog-theolog yang sejati, yang berpegang pada theologi yang ketat dan sesuai dengan firman Tuhan tidak banyak jumlahnya. Ada banyak orang yang menginjil, tetapi berapa banyak yang sudah mengenal makna penginjilan sesungguhnya, yang sesuai dengan Alkitab? Sebab itu kita perlu mengkaji ulang makna penginjilan dan theologi, serta hubungan antara keduanya.

Kata “theologi” dalam bahasa Yunani terbentuk dari dua kata, yaitu “theos” dan “logos”, yang berarti “Allah” dan “Firman”. Mengenal firman Allah secara sistematis, itulah theologi. Siapa dapat menolak untuk mengenal Allah? Mengenal Allah adalah kewajiban iman yang harus ditunaikan oleh setiap orang Kristen karena pengetahuan secara sistematis inilah yang akan membawa kita lebih mengenal Allah, dan lebih memahami hubungan kita dengan-Nya.

Apakah penginjilan itu? Penginjilan adalah proklamasi dinamis tentang Injil penebusan sebagai titik pusat iman kita kepada umat manusia. Bolehkah orang Kristen menginjili tanpa mengetahui apa yang ia beritakan? Bolehkah orang Kristen yang sudah mengenal Allah tidak membagikan pengalamannya dan pengenalannya kepada orang lain? Orang yang mengetahui theologi tidak boleh tidak pergi menginjili, dan orang yang menginjili tidak boleh tidak memiliki dasar theologi. Adalah suatu kejanggalan yang besar bagi orang yang hanya ingin menjadi theolog dan tidak melakukan penginjilan, demikian juga seorang penginjil yang tidak mau meneliti theologi.

Apakah theologi penginjilan itu? Theologi Penginjilan adalah teori dasar dari memberitakan Injil. Theologi adalah esensinya, sedangkan penginjilan adalah perluasannya. Yesus Kristus adalah teladan penginjilan bagi kita. Dia adalah titik permulaan dan esensi dari Injil itu sendiri. Dia, Firman yang telah menjadi manusia, membawa kabar baik bagi manusia.

Membicarakan soal esensi, saya akan memberikan sedikit penjelasan. Segala sesuatu yang kita ketahui adalah fenomena, sedangkan esensi yang berada di luar fenomena sulit kita jangkau dengan rasio. Mengenai esensi Firman (logos) yang kita renungkan, apakah yang kita kenal itu hanya fenomena atau esensi? Ketika Firman datang ke dunia, Dia menembus dan masuk ke dalam dunia manusia untuk menyatakan wahyu Allah yang tertinggi dan yang paling benar, yaitu isi hati Allah. Jadi, meskipun kata-kata yang kita pakai dalam penginjilan sekarang sangat terbatas, namun kita memiliki keinginan yang tidak terhingga untuk menyatakan esensi Firman.

Dengan demikian, baik kita meneliti doktrin Kristus (Kristologi), doktrin manusia, doktrin dosa, doktrin kosmos, semuanya tidak dapat terlepas dari Injil; memberitakan Injil pun harus didasarkan pada wahyu Allah di dalam Alkitab. Saya tidak mengatakan bahwa kita harus meneliti theologi dengan sangat mendalam baru kita dapat memberitakan Injil. Setiap orang yang sudah mengalami keselamatan dari Allah seharusnya menceritakan bagian yang sudah dia ketahui kepada orang lain. Memberitakan Injil dan melengkapi diri harus berjalan seiring, sama seperti mengajar harus diimbangi dengan belajar, supaya baik pengetahuan diri maupun mutu pengajaran semakin meningkat.

Mari kita lihat Paulus sebagai contoh. Siapakah Paulus? Dia seorang penginjil atau seorang theolog? Konsep umum yang mendualismekan theologi dan penginjilan di antara orang Kristen masa kini hendaknya berhenti dalam pengertian akan kasus Paulus. Setelah Paulus menerima wahyu, dia meneliti kebenaran dengan serius. Ia juga mengenal Kristus dengan sempurna.Dengan demikian, sudah tentu doktrin dasarnya amat kokoh. Bersamaan dengan itu, Paulus juga menginjili dengan dinamis, dengan cara yang fleksibel, dengan tekad yang kuat, dan dengan jangkauan yang cukup luas serta menyeluruh. Kita bukan saja perlu mengembalikan fungsi gereja yang bercorak Paulus, tetapi juga memerlukan pemuda-pemudi yang seperti Paulus. Paulus berkata, “Saudara-saudara, ikutlah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu.” (Filipi 3:17). Di sini terlihat bahwa penginjilan dan theologi bertahan begitu erat, bagaikan saudara kandung yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya harus sama-sama berbobot, baik dalam kualitas maupun kuantitasnya.

Jadi, penginjilan harus didasarkan pada theologi, dan theologi harus didasarkan pada wahyu Allah dalam Alkitab. Tetapi, dua ratus tahun terakhir ini, theolog-theolog besar yang berpengaruh terhadap Kekristenan justru mendasarkan theologi mereka pada filsafat manusia, bukan pada wahyu Allah dalam Alkitab. Sebagai contoh, Scheiermacher bertitik tolak dari Romantisme. Nilai iman Albreecht Ritschi didasarkan pada pengajaran etika Immanuel Kant. Theologi Karl Barth didasarkan pada transcendental philosophy Soren Aabye Kierkegaard. Teori Demitologisasi Rudolf Buitmann didasarkan pada esksistensialisme dari Martin Heidegger; dan teori Encounter dari Emil Brunner didasarkan pada pemikiran Martin Buber.

Rasio manusia yang sudah bejat tidak mungkin menemukan kebenaran yang tertinggi (the ultimate thruth), kecuali ia kembali kepada wahyu, barulah ia dapat menemukan jalan keluar.

———————————————-

BAB I :

INJIL DI DALAM WAHYU

Alkitab adalah Firman Allah, wahyu Allah yang berbentuk tulisan. Jika orang ingin memisahkan secara paksa wahyu Allah dari bentuk tertulisnya, maka akan timbul krisis sifat subyektivitas dan sifat misterius yang sangat merugikan orang Kristen. Yesus berkata, “….tidakkah kamu baca apa yang difirmankan Allah?” (Matius 22:31).

Kitab Kejadian mencatat bahwa setelah Adam diciptakan dan berbuat dosa, Allah mulai memberikan wahyu kepada manusia. Sebelum manusia jatuh dalam dosa, rencana keselamatan sudah tersembunyi di dalam diri Allah, sehingga ketika manusia berdosa, wahyu mengenai keselamatan segera datang. Dalam Perjanjian Lama, kita menyaksikan persiapan Allah untuk menyelamatkan, sampai di Perjanjian Baru Yesus Kristus sendiri datang ke dunia untuk menggenapkannya. Setelah Yesus Kristus naik ke sorga, Roh Kudus melaksanakannya.

WAHYU ALLAH DI DALAM KASUS ADAM DAN HAWA

Setelah Adam dan Hawa berdosa, apakah perasaan mereka yang pertama? Dingin! Mengapa manusia harus memakai pakaian? Selain takut dingin, masih ada penyebab lain, yaitu dosa. Perasaan kedua adalah takut. Dalam Kejadian 3 tercatat, “….pada waktu hari sejuk….aku menjadi takut.” Tindakan apa yang mereka ambil setelah merasa takut? Bersembunyi! Setelah manusia berdosa, perkataan pertama yang Allah ucapkan kepada mereka adalah, “Di manakah engkau?” Suatu panggilan yang begitu hangat, biarpun mungkin nadanya sedikit menegur, namun panggilan itu mengandung kadar kasih yang teramat banyak. Bukankah Allah sudah tahu di mana manusia itu berada, mengapakah Dia masih bertanya demikian? Jawabnya, karena Dia mau berinisiatif mencari mereka. Dalam hal ini kita melihat beberapa hal yang diwahyukan kepada Adam. Yang pertama, sifat Allah yang mengambil inisiatif. Yang kedua, fakta terpisahnya status manusia yang semula dengan status yang sekarang. Yang ketiga, ketidak-berdayaan manusia dan janji Allah yang Mahakuasa.

Adam sudah jatuh ke dalam dosa. Dia telah meninggalkan status yang semula; statusnya yang semula itu bukanlah keadaannya yang sekarang. Bagaimanakah Adam, ketika berada di hadapan Allah dan melihat status semulanya yang indah serta statusnya sekarang yang memalukan? Dia tidak dapat mengelakkan diri dari keewajiban yang harus dipertanggungjawabkannya. Adam hanya dapat menerima fakta. Meskipun merasa takut terhadap eksistensi Allah namun ia tidak berdaya menolak fakta ini.

Selain memberikan wahyu, Allah juga bernubuat. Dia sendirilah yang memproklamasikan rencana Injil keselamatan. Dalam Kejadian 3:15 tertulis, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Allah menyebutkan tentang musuh dan peperangan sebagai sifat dasar Injil. Jadi manusia tidak semata-marta diberi anugerah penebusan. Di sini kita melihat adanya wahyu Allah tentang suatu peperangan. Namun akhirnya, kemenangan ada di pihak keturunan perempuan.

Allah terus-menerus, menganugerahkan pengharapan bagi manusia yang sudah jatuh dalam dosa. Meskipun manusia memiliki kewajiban yang harus ditunaikannya, hal ini tetap tidak dapat di bandingkan dengan harga yang telah dibayar Allah. Dia telah meremukkan ular dan berperang itulah yang telah membayar dan menggenapkan semuanya.

Allah bukan saja bernubuat, tetapi juga memberikan suatu lambang yang amat penting, yaitu kematian yang pertama. Dosa Adam adalah dosa yang pertama di dalam seluruh Alkitab, tetapi kematian Adam bukanlah kematian yang pertama, karena ada makhluk lain yang telah mati untuk menggantikannya. Makhluk itu bukan mati karena tua, tetapi mati karena Allah sendirilah yang telah menyembelihnya. “Tuhan Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk istrinya.” (Kejadian 3:21). Dari manakah datangnya kulit? Demi menyelamatkan mereka, haruslah ada penumpahan darah dan pengorbanan. Allah menyembelih makhluk ciptaan-Nya, dan dengan kematian menggantikan dosa. Ia melambangkan keselamatan yang berdasarkan substitusi (penggantian).

Di dalam Kejadian pasal 3, theologi penginjilan sangat kuat dinyatakan, termasuk inisiatif Allah memberikan wahyu kepada manusia, yaitu tentang status mereka yang semula, status yang sekarang, kewajiban dan ketidak-berdayaan manusia. Semuanya itu terkandung di dalam janji Allah, nubuat Allah, dan lambang-lambang yang digunakan Allah.

WAHYU ALLAH DI DALAM KASUS KAIN DAN HABEL

Kain dan Habel adalah dua orang bersaudara, tetapi kemudian Kain membunuh Habel. Itulah “perang dunia” yang pertama, yang angka kematiannya mencapai seperempat dari jumlah penduduk bumi. Jadi, perang dunia yang pertama seharusnya bukan yang terjadi pada tahun 1914-1918. Setelah “perang dunia” itu reda, Allah sendiri keluar untuk meminta pertanggungjawaban Kain. Kalau sebelumnya Adam menanggung malapetaka dan Allah berfirman. “Di manakah engkau?”, kali ini Allah berfirman, “Di manakah Habil adikmu itu?”

Dalam kasus ini Allah telah berinisiatif, dan kuncinya adalah pada pertanyaan “Mengapa engkau membunuh Habel?” Karena iri hati. Iri hati timbul karena Adam sudah jatuh ke dalam dosa. Sikap ini merupakan salah satu corak dosa setelah kejatuhan. Adapun penyebab timbulnya iri hati adalah karena seseorang melihat orang lain lebih baik daripada dirinya. Jika bukan karena dosa yang berdiam di dalam diri seseorang, maka apabila ia melihat orang lain lebih baik daripada dirinya, seharusnya ia dapat menjadikannya sebagai teladan, dapat dijadikan pendorong untuk menuntut kebenaran. Tetapi setelah dosa hadir, untung rugi menjadi hal yang lebih diprioritaskan, dalam mempertimbangkan benar atau tidak benar.

Kain iri hati karena persembahan Habiel diindahkan dan diperkenan Allah. Hal ini mengakibatkan banyak orang ingin tahu mengapa persembahan Habel yang diperkenan oleh Allah. Ada orang yang mengatakan bahwa karena yang dipersembahkan Kain tidak mengandung darah, maka Allah tidak berkenan. Allah berkenan pada anak domba sulung yang dipersembahkan Habel karena ada unsur darah, berarti juga ada keselamatan. Tetapi secara tegas, kedua saudara itu sudah menunaikan kewajiban mereka. Habel adalah penggembala ternak, sebab itu ia mempersembahkan hewan. Kain bercocok tanam dan mempersembahkan hasil ladangnya kepada Allah. Jika demikian, di manakah letak kesalahannya? Bukankah di dalam 2 Korintus 8:12 tertulis, “Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.” Dan Kain memang tidak memiliki domba!

Menuntut untuk tahu memang memerlukan penyelidikan sampai ke akarnya. Marilah kita sejenak membuat hipotesis tentang keadaan pada saat itu. Adam dan Hawa, menyaksikan Allah menyembelih binatang dan mengulitinya untuk dijadikan pakaian yang kemudian dikenakan pada mereka. Hati mereka sedih bukan kepalang karena binatang yang disembelih adalah sahabat baik yang biasa bermain bersama-sama mereka. Dengan demikian, maka konsep “mati untuk menggantikan” telah terukir dalam hati mereka.

Dalam gereja pertama yang ada di dunia, yaitu keluarga Adam dan Hawa sebagai asistennya, kebaktian keluarga dimulai. Adam berkata, “Papa dan Mama sudah berdosa, seharusnya mati dan tidak ada lagi di sini, tetapi ternyata tidak mati, karena ada binatang yang sudah disembelih yang telah menggantikan kami.” Di antara murid Sekolah Minggu” itu, ada seorang yang mendengarkan dengan penuh pengertian, dan setelah memahaminya, timbullah iman dalam dirinya. Mungkin sekali pada waktu dia mempersembahkan korban, dia sekaligus menyatakan konsep “mati untuk menggantikan yang berdosa” dan konsep keselamatan. Inilah pandangan pribadi saya.

Allah berfirman kepada Kain, “Apakah mukamu tidak akan berseri jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu.” Dari orang yang tidak diterima oleh Allah, yang dituntut Allah adalah perilakunya. Sedangkan bagi orang yang diterima oleh Allah, ia diterima karena imannya.

Dari pembahasan di atas dapatlah diketahui bahwa iman dan perbuatan tidak dapat dicampuradukkan. Ada orang yang memberi dalih bahwa Abraham diperkenan karena imannya dan Kain tidak diperkenan karena tidak beriman. Tetapi karena iman adalah anugerah Allah, bagaimana kita dapat mempersalahkan Kain? Pertanyaan ini sering timbul pada saat kita memberitakan Injil. Allah sudah mengetahui akan timbulnya pertanyaan tersebut, maka sejak dini Ia pun sudah memberikan pengertian di dalam wahyu-Nya dengan jelas, “Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik?”

Perbuatan orang berdosa di hadapan Allah sudah tidak mungkin baik, Mereka sama sekali tidak mempunyai kehendak yang bebas untuk berbuat baik, tetapi sebaliknya mempunyai kehendak yang bebas mutlak untuk berbuat jahat. Dengan demikian, manusia yang telah dipredestinasikan untuk diselamatkan tidak dapat membanggakan jasa-jasa dan perbuatan baiknya. Manusia yang menerima hukuman kebinasaan pun tidak mempunyai alasan untuk mengelak dari pertanggungjawaban atas perbuatan jahatnya. Adapun dasar dari penghukuman adalah perbuatan. Firman Tuhan mengatakan, “Bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya. Dan apakah sebabnya ia membunuhnya? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar.” (1 Yohanes 3:12).

Karena iri hati maka hati Kain menjadi sangat panas dan mukanya menjadi muram. Tuhan Allah segera memperingatkan dia, namun dia bukan saja tidak menyadarinya, malahan turun tangan untuk membuktikan kebiasannya dalam berbuat dosa. Kain sama sekali tidak mempedulikan wahyu Allah, dan ia lebih suka memilih kejahatan yang mengundang malapetaka bagi dirinya sendiri.

Dalam kasus ini kita dapat melihat dengan jelas bahwa manusia dapat beriman oleh karena anugerah Allah. Mereka yang tidak percaya kepada Yesus tidak akan dihukum karena tidak memiliki iman, melainkan karena perbuatannya yang jahat. Dengan demikian keselamatan berkaitan dengan iman, sedangkan hukuman berkaitan dengan perbuatan. Itulah aksioma Allah yang selaras dari awal sampai akhir. Janganlah kita mengacaukannya pada saat memberitakan Injil. Bagi orang yang percaya, Allah telah memakai darah sebagai tanda untuk mewakili substitusi bagi hidup; dan di dalam proses wahyu yang bersifat progresif, Allah telah merealisasikan arti yang terkandung di dalamnya.

WAHYU ALLAH DI DALAM KASUS ABRAHAM

Melalui Abraham, Allah telah mewahyukan beberapa hal kepada kita. Panggilan dan pilihan dapat pada Abraham. Ia menghendaki Abraham segera meninggalkan negerinya, sanak saudaranya, dan rumah bapanya. Di dalam panggilan ini, tetap masih Allah yang berinisiatif. Selamanya bukan manusia yang mencari Allah, melainkan Allah yang mencari manusia; selamanya bukan manusia yang memanggil Allah, melainkan Allah yang memanggil manusia; selamanya bukan manusia yang terlebih dahulu memilih Allah, melainkan Allah yang terlebih dahulu memilih manusia.

Mengapa Abraham disebut sebagai “Bapa orang beriman”? Salah satu sebab adalah karena dia telah menguasai titik iman yang paling penting dalam dua hal: pertama, Allah adalah Pencipta; kedua, Allah adalah Juruselamat. Hubungannya dengan Allah bukan sekadar antara Pencipta dan ciptaan. Jika hanya demikian, apa bedanya dengan hewan dan tumbuhan? Tindakan menciptakan berarti menjadikan sesuatu dari tidak ada menjadi ada, sedangkan tindakan penebusan adalah membangkitkan kembali seseorang yang sudah mati. Roma 4:17-18 mengatakan, “Seperti ada tertulis: “Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa” –di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada. Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.”

Bukankah benar bahwa Allah menciptakan terlebih dahulu kemudian menyelamatkan? Tetapi di sini tertulis, “Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.” Dengan demikian, iman Abraham yang utama adalah pada penebusan, dan kedua, pada penciptaan. Hal ini memberitahu kita bahwa Abraham beriman Injil, karena kepercayaan Injili yang paling penting adalah kematian Yesus Kristus yang sanggup membuat kita diselamatkan dan dilahirkan kembali; lain dengan kaum Liberal yang menitik-beratkan pada karya penciptaan Allah dan moral manusia.

Setiap orang mengetahui dari dalam hatinya bahwa ada Pencipta, tetapi hanya sebagian kecil yang mengetahui kebenaran tentang keselamatan di dalam Yesus dan kebenaran tentang Allah yang membangkitkan orang mati. Iman seperti ini sudah ada pada Abraham sebagai bapa orang beriman. Dia mengerti bahwa Allah memegang dengan teguh setiap kata, setiap kalimat dan setiap huruf dari Firman Allah, sedemikian juga setiap janji Allah. Inilah keunikannya.

Empat ratus tiga puluh tahun setelah Abraham dibenarkan, barulah hukum Taurat diproklamasikan; demikian juga sunat dilaksanakan setelah dia dibenarkan. Dari sini terlihat bahwa iman Abraham melampaui Taurat dan segala syaratnya. Di dalam Roma 4:9b-10 tertulis dengan jelas, “Sebab telah kami katakan bahwa kepada Abraham, iman diperhitungkan sebagai kebenaran. Dalam keadaan manakah hal itu diperhitungkan? Sebelum atau sesudah ia di sunat? Bukan sesudah disunat, tetapi sebelumnya.” Orang Farisi dan bangsa Israel telah menyimpang dari iman yang fundamental ini. Mereka menafsirkan Perjanjian Lama dengan Taurat sebagai pusat dan beranggapan bahwa hal menaati hukum Taurat adalah cara untuk dibenarkan. Demikian pula dengan sunat yang dipandang sebagai tanda untuk menerima janji Allah.

SUMBER :
Nama Buku : Theologi Penginjilan
Sub Judul : Pendahuluan – Bab I : Injil Di Dalam Wahyu
Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit : Momentum, 2013
Halaman : 3 – 31
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube