Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
BAB VI :
BERSUKACITA KARENA TUHAN

2 Raja-raja :

19:14 Hizkia menerima surat itu dari tangan para utusan, lalu membacanya; kemudian pergilah ia ke rumah TUHAN dan membentangkan surat itu di hadapan TUHAN.

19:15 Hizkia berdoa di hadapan TUHAN dengan berkata: “Ya TUHAN, Allah Israel, yang bertakhta di atas kerubim! Hanya Engkau sendirilah Allah segala kerajaan di bumi; Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi.

19:16 Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, dan dengarlah; bukalah mata-Mu, ya TUHAN, dan lihatlah; dengarlah perkataan Sanherib yang telah dikirimnya untuk mengaibkan Allah yang hidup.

19:17 Ya TUHAN, memang raja-raja Asyur telah memusnahkan bangsa-bangsa dan negeri-negeri mereka

19:18 dan menaruh para allah mereka ke dalam api, sebab mereka bukanlah Allah, hanya buatan tangan manusia, kayu dan batu; sebab itu dapat dibinasakan orang.

19:19 Maka sekarang, ya TUHAN, Allah kami, selamatkanlah kiranya kami dari tangannya, supaya segala kerajaan di bumi mengetahui, bahwa hanya Engkau sendirilah Allah, ya TUHAN.”

—————————————————————————————-

Pada bagian Akitab yang kita baca ini kita melihat raja Asyur menulis surat untuk menakut-nakuti raja Hizkia. Raja Asyur mengancam akan mengepung dan menghancurkan Yerusalem serta memusnahkan bangsa Israel. Hizkia tidak bisa berbuat apa-apa. Maka setelah membaca surat ancaman itu dia minta Tuhan juga membacanya, lalu ia berdoa.

“Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau dan engkau akan memuliakan Aku.” (Mazmur 50:15)

Itulah ajakan Tuhan Allah untuk berseru pada nama-Nya. “Pada waktu engkau berada dalam kesulitan, berdoalah dan beritahukanlah kepada-Ku, maka Aku akan menolongmu dan meluputkanmu dari kesulitan itu. Tetapi hendaklah engkau memuliakan Aku.”

Waktu kita berada di dalam kesulitan, kemanakah kita akan lari? Kepada orang yang lebih kaya-kah? Mereka mempunyai hutang yang lebih banyak daripada kita. Kepada mereka yang mempunyai kuasa militer-kah? Mereka pun berada di dalam kesulitan. Di dalam dunia ini, adakah orang-orang yang bisa menolong kita dan membawa kita kembali kepada hidup yang penuh dengan sejahtera? Tuhan berkata, “Datanglah kepada-Ku, berdoalah kepada-Ku, dan saksikanlah apakah Aku adalah Tuhan yang menolongmu.”

Pada waktu raja Hizkia menerima surat dari musuh dan membacanya, saya percaya dia merasa gentar. Hizkia tahu sebelumnya raja Asyur sudah memusnahkan begitu banyak kota-kota. Kemana pun dia pergi, dia selalu menang. Sekarang ia mengirim jendralnya untuk mengepung kota Yerusalem dan mengirim surat kepada raja Hizkia. Sesudah membaca surat itu Hizkia menjadi tenang. Dia tidak banyak bicara. Dia membawa surat itu ke Bait Allah dan berlutut di hadapan Tuhan. Dia memaparkan surat itu kepada Tuhan dan berkata,“Tuhan, kalau hanya saya yang membaca, masih belum cukup. Saya minta Tuhan juga membacanya.” Inilah cara yang terbaik untuk mengatasi kesulitan. Janganlah kita menghadapi kesulitan dengan bersandar kepada kepintaran, kepada pengalaman, kepada penganalisaan, dan kepada segala sesuatu yang bisa kita banggakan. Jika Tuhan memang mengizinkan sesuatu terjadi menimpa diri kita, maka kita perlu meminta Tuhan memberi kekuatan, pengertian dan kesadaran kepada kita bahwa segala sesuatu yang Tuhan izinkan menimpa diri kita itu tidak pernah salah. Jika kita merasa tidak sanggup menghadapinya, Tuhan pasti tahu dan tidak akan lupa kepada kita. Bawalah kesulitan itu kepada-Nya karena Ia melihat-Nya.

Pada waktu saya masih muda, ada seorang pendeta dari Irlandia berkata, “Beritahukan kesulitanmu kepada Yesus. Janganlah engkau tanggung sendiri. Dia akan memberi pengertian dan kekuatan kepadamu. The government should be on His shoulder, not on your shoulder.” Pada waktu itu saya merasa bahwa ini adalah hal yang sangat penting. Saya adalah seorang yang sangat melankolis, selalu menyendiri, selalu minder, selalu merasa diri tidak mampu berbuat apa-apa. Tetapi setelah saya menganalisa semua kemungkinan, saya tetap tidak mempunyai iman. Jika Anda sekarang melihat saya tidak melankolis lagi, itu karena Tuhan telah mengubah saya dan memberi saya kekuatan untuk terus maju di dalam anugerah-Nya.

Ayah saya meninggal di saat saya berusia 3 tahun. Meskipun kami mempunyai kekayaan cukup banyak, tetapi perang Jepang telah menyulitkan hidup kami. Ibu saya membesarkan kami dengan susah payah dengan menerima jahitan. Tetapi dia bersandar kepada Tuhan. Waktu saya kecil, saya amat tertutup, tak mudah berkomunikasi dengan orang lain. Saya minder dan perasa. Puji Tuhan, saat mendengar khotbah pendeta itu saya mulai sadar bahwa saya tak perlu menanggung segala kesulitan di atas bahu sendiri. Kita bisa menyerahkannya kepada Tuhan. Dari sanalah saya mulai belajar untuk terbuka terhadap Tuhan dan mendapatkan kekuatan.

Pertanyaan pertama yang tertulis di dalam Westminster Confession adalah: Apakah tujuan yang terbesar di dalam hidup manusia? Jawabnya: Untuk memuliakan Tuhan dan bersuka cita karena Dia. Karena kita mempunyai Tuhan yang begitu agung, maka kita mempunyai pengharapan, sukacita, dan kekuatan sehingga kita tidak akan dijatuhkan oleh apapun, bahkan oleh kesulitan-kesulitan yang berusaha memusnahkan kita.

Pada waktu saya berusia 21 tahun, pertama kali saya berkesempatan memimpin Kebangunan Rohani selama beberapa hari di GKI Stadion Semarang. Gereja itu penuh sesak. Orang-orang rindu untuk mendengar khotbah. Suatu hari tiba-tiba saya kehabisan khotbah. Setengah jam lagi saya harus berkhotbah tapi saya masih belum tahu apa yang harus saya khotbahkan. Saya merasa begitu gelisah. Setengah jam itu serasa saya mau mati. Itulah pertama kali saya mengalami apa yang dirasakan oleh Hizkia. Sepuluh menit lagi, dengan bercucuran airmata saya minta Tuhan menolong. Akhirnya Tuhan betul-betul memberikan pertolongan beberapa menit sebelum berkhotbah. Nyatanya Tuhan memimpin kebaktian malam itu berjalan lebih daripada kebaktian-kebaktian sebelumnya.

Hidup ini adalah perjuangan, pergumulan, dan tantangan. Tidak ada seorang Kristen yang hidup tanpa mengalami pergumulan. Tidak ada seorang Kristen yang kerohaniannya tidak mengalami kesulitan apapun dan mengalami kelancaran di dalam segala hal. Jika setiap hari kita diperbolehkan melalui hidup yang lancar dan tak ada kesulitan, sebetulnya hidup kita tidak mempunyai arti lagi. Sebaliknya setelah engkau mempunyai banyak pengalaman, Tuhan mengatakan engkau adalah seorang yang tidak punya apa-apa. Dalam surat kepada jemaat Korintus, Paulus menulis bahwa ia tidak mempunyai apa-apa, tetapi Tuhan telah memanggil ia yang bodoh, yang lemah, dan yang tidak layak ini untuk melayani Tuhan. Itulah sebabnya seumur hidup janganlah kita congkak, jangan sombong dan jangan bersandar kepada pengalaman atau kepintaran diri kita sendiri, melainkan senantiasa bersandar kepada Tuhan.

Walau kesulitan yang lebih besar daripada apa yang sanggup kita tanggung itu menimpa diri kita, waktu kesulitan yang lebih berat daripada apa yang sanggup kita tanggung itu menimpa diri kita, belajarlah seperti Hizkia. Datanglah kepada Tuhan dan paparkan “surat” itu kepada Tuhan.“Tuhan, bacalah surat ini. Jika Engkau melihat musuh-Mu menentang-Mu dengan berteriak-teriak. Jika Engkau melihat raja Asyur telah mengutus jendral untuk memusnahkan umat-Mu yang Kau pilih, yang Kau pimpin, yang Kau cintai dan yang Kau pelihara sampai hari ini, bagaimanakah perasaan-Mu ya Tuhan?” Pada waktu seseorang menyelaraskan hatinya dengan hati Tuhan, pada waktu doa kita sesuai dengan apa yang ingin Tuhan kerjakan, saat itulah kita melihat kemuliaan Tuhan dikirimkan untuk kita.

Apa yang terjadi setelah Hizkia menyerahkan kesulitannya kepada Tuhan? Malam itu juga Malaikat Tuhan memusnahkan 185.000 orang tentara. Paginya Hizkia menyaksikan mayat-mayat bergempangan disana-sini. Hizkia menyaksikan Tuhan sanggup melakukan perkara yang jauh lebih besar daripada apa yang kita pikirkan. Inilah catatan pemusnahan yang terbesar dimana dalam satu malam malaikat memusnahkan sejumlah besar orang. Setelah kita menyaksikan hal itu kita tahu bahwa malaikat itu sangat berkuasa. Padahal kita sering menggambarkan kepada anak-anak Sekolah Minggu bahwa malaikat itu lembut sekali seperti perempuan. Ini gambaran yang tidak benar. Yesus juga sering digambarkan begitu feminim, seperti wanita yang berjenggot dan begitu lembut. Padahal kalau Yesus sanggup berkhotbah kepada ribuan orang tanpa bantuan pengeras suara, ini membuktikan betapa maskulin, betapa jantan, dan betapa berkuasanya Dia. Mazmur 103 melukiskan malaikat begitu perkasa dan mempunyai kuasa yang amat besar. Tuhan Yesus pernah mengatakan, bahwa Ia bisa saja meminta kepada Bapa untuk mengirimkan 12 legion malaikat untuk menolong-Nya saat Ia hendak ditangkap di Getsemani. Kalau satu malaikat saja bisa membinasakan185.000 orang, berapa banyak orang yang bisa dimusnahkan oleh 12 legion malaikat?

Di zaman Rennaissance, ada seorang pelukis bernama Tintoretto, melukis tentang Perjamuan Terakhir Tuhan Yesus bersama murid-murid-Nya. Di sana samar-samar dilukiskan beberapa malaikat mengelilingi mereka. Malaikat-malaikat itu ingin menyaksikan apa yang akan terjadi pada diri Anak Allah. Mereka menanti kalau-kalau ada perintah khusus yang diberikan bagi mereka untuk melindungi Yesus dan membasmi musuh-musuh-Nya. Saya percaya setelah menunggu sekian lama, justru setelah Yesus disalib, dari atas kayu salib yang keluar bukanlah kata-kata perintah untuk membasmi musuh, sebaliknya mereka mendengar Yesus mengucapkan, “Bapa, ampunilah mereka….” Maka pedang para malaikat itu kembali disarungkan. Mereka merasa malu dan menyadari bahwa Anak Allah yang tunggal mempunyai jiwa yang penuh dengan cinta kasih, rela berdoa syafaat bagi musuh, dan memintakan pengampunan bagi mereka.

Sejak Yesus disalib dan mengucapkan kalimat itu, maka seluruh sejarah etika berubah. Sebelum itu tidak pernah ada satu orang pun di dalam sejarah yang masih memberkati musuhnya setelah mereka disiksa. Dalam “4 virtue” yang menjadi tiang bagi moralitas orang Yunani, yakni kebijaksanaan, keberanian, keadilan, dan tahan nafsu, tidak terdapat Cinta kasih. Waktu Yesus Kristus datang kedunia, Dia telah memberikan sumbangsih yang sangat berbeda dengan apa pun yang pernah ada di dalam sejarah, yakni Kasih. Kasih yang terbesar adalah kasih yang menyerahkan nyawa bagi sahabat-sahabat-Nya. Bahkan Dia berdoa bagi musuh-musuh-Nya. Di dalam terang cahaya Kristus di atas bukit Golgotha, kita menemukan semua filsafat dari Socrates, Plato, Aristoteles menjadi suram karena tak ada etika yang lebih tinggi daripada apa yang Yesus nyatakan.

Bagaimana kita menghadap Tuhan di dalam kesulitan?

Pertama, kita yakin bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang jujur dan setia.

Kesetiaan-Nya itulah yang menarik kita datang kepada-Nya. Tuhan yang tidak pernah berubah. Tuhan yang tidak pernah berdusta. Tuhan yang tidak pernah memberikan janji kosong, adalah Tuhan yang patut kita hampiri. Mengapa kita datang kepada Tuhan? Karena Ia adalah Tuhan yang setia. He is faithful. The faithful God ia worth to receive our worship.

Kita berbakti, berdoa dan beriman kepada-Nya karena Dia adalah Tuhan yang setia. Tuhan tidak bermain-main dengan umat-Nya. Sifat kesetiaan Tuhan telah membedakan Dia daripada ilah-ilah lain. Salah satu sifat ilahi yang hakiki adalah bahwa Dia adalah Allah yang jujur dan setia. Kesetiaan Tuhan menyatakan Dia adalah Allah yang tidak berubah. Hanya Allah yang tidak berubah. Di dalam Dia tidak ada sedikit pun bayang-bayang perubahan. Allah itu setia adanya, maka kita datang kepada-Nya.

Setiap orang yang berdoa kepada Tuhan, biarlah dia berdoa dengan teologi yang benar, bukan dengan nafsu agama yang duniawi. Apa beda doa yang menurut nafsu agama duniawi dengan doa yang menurut iman kepercayaan yang sesuai dengan teologi yang sejati? Dalam Roma 10:14 dikatakan, “Bagaimana kita dapat berseru kepada-Nya jika kita tidak percaya kepada Dia?” Bagi saya itulah kunci untuk mengerti bagaimana doa yang benar. Bukan doa dengan ngotot, bukan berteriak dengan emosional, bukan penuh nafsu dan ambisi yang menyebabkan Allah harus mendengar doamu.

Doa yang paling emosional yang dicatat dalam Kitab Suci justru adalah doa dari para nabi palsu. Doa dari nabi yang sejati adalah doa yang tertib dan doa yang dinaikkan dengan sungguh-sungguh di hadapan Tuhan. Tanpa iman yang sejati dan tanpa pengertian yang sesuai dengan wahyuTuhan serta tanpa menyadari siapa itu Tuhan yang setia, maka kita tidak bisa berdoa. Maka kalau kita tidak beriman, bagaimana kita bisa berdoa kepada-Nya? Kalau kita tidak mempunyai pengertian yang benar, bagaimana kita bisa menyeru nama Tuhan? Ini adalah dasar dari teologi doa, yaitu doa yang didasari dengan iman yang sejati.

Kita datang kepada Tuhan karena Dia Tuhan yang tidak berubah. Dia adalah Allah yang setia, Allah yang jujur. Alah yang telah menyatakan diri di dalam firman sesuai dengan apa yang ada di dalam diri-Nya. Tidak ada jarak antara apa yang dinyatakan dengan apa yang ada pada diri-Nya. Karena kesetiaan itulah kita datang kepada-Nya. Berbeda dengan alah-allah yang lain, Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak berubah.

Kedua, Kita sadar bahwa diri kita mempunyai hak yang resmi untuk berdoa kepada-Nya

Siapakah kita? Kita adalah anak-anak Allah. Sebagai anak, kita bisa datang untuk memberitahukan kesulitan, untuk meminta pertolongan dan pertimbangan serta nasehat kepada Bapa. Itu adalah hak kita. We should realized our authority, our privilege to be the children of God, to come to our Father to pray to Him. Kita harus sadar bahwa kita bukan anak tiri atau anak angkat. Kita adalah anak yang diperanakkan oleh Roh Allah sendiri. Di dalam diri kita ada Roh Tuhan. Itulah yang membuat kita mempunyai hak istimewa untuk datang kepada-Nya. Sebab itu di dalam Roma 8:14 ditulis bahwa Roh Kudus memimpin semua anak-anak Allah. Barang siapa dipimpin oleh Roh Kudus, dia adalah Anak Allah. Yang dikaruniakan kepada kita bukanlah roh budak melainkan roh anak, sehingga kita bisa menyebut Allah sebagai Abba, Bapa kita.

Paulus dengan tegas mengatakan inilah hak kita karena roh yang diberikan kepada kita adalah roh anak. Roh anak yaitu Roh Kudus berada di dalam diri kita sehingga kita mempunyai hak sebagai anak. Karena kita adalah anak, kita boleh datang kepada Bapa. Jangan takut untuk berdoa, jangan memaksa Tuhan. Untuk itu kita perlu mengerti bagaimana keseimbangan antara keduanya: di satu pihak sebagai anak Tuhan kita mempunyai hak untuk berdoa, tetapi kita tidak boleh mempermainkan Bapa. Di satu pihak kita menyadari diri kita mempunyai hak, tapi di lain pihak kita juga perlu menahan diri dan sadar bahwa sebagai anak kita harus taat kepada-Nya.

Berdoa adalah hak kita. Alkitab mengajar kita waktu di dalam kesulitan, berdoalah kepada Tuhan. Ini adalah ajakan Tuhan Allah: pray to Me when you are in the trouble. Saat engkau mengalami kemalangan, kesesakan, krisis, kemiskinan dan kepicikan, berdoalah kepada-Ku. Mintalah kepada-Ku karena Akulah Bapamu. Kadang-kadang waktu kita lancar dan kaya, kita sama sekali melupakan Tuhan sampai kita mengalami kesulitan barulah kita datang kepada-Nya. Sayangnya, waktu kita datang kepada-Nya kita datang dengan ambisi agama. Kita datang dengan nafsu dan emosi dari agama lain, bukan datang dengan teologi dan iman yang benar. Kita harus datang kepada-Nya berdasarkan apa yang diajarkan oleh Kitab Suci, sehingga kita bisa berdoa sesuai dengan jalur yang telah ditetapkan bagi kita.

Ketiga, Kita harus yakin akan janji Allah kepada kita

Doa, permintaan, dan permohonan apa pun yang dinaikkan dengan tidak mengenal janji Tuhan atau berada di luar janji Tuhan adalah doa orang kafir. Orang kafir berpikir kalau doanya panjang pasti akan diterima oleh allah mereka. Tetapi Alkitab justru mengatakan terbalik, “Allah ada di sorga, kamu ada di bumi, jadi jangan banyak bicara.” (Pengkhotbah 5:1). Artinya, kalau engkau berdoa, berdoalah dengan kalimat-kalimat yang pasti, tidak dibarengi dengan embel-embel yang menuruti kesukaan hatimu. Jangan kira doamu yang panjang itu akan diterima. Karena permintaan seperti itu didasarkan atas ambisi agama, atas ketamakan emosi yang tidak mau dikontrol. Jangan berdoa seperti itu. Waktu berdoa, berdoalah sesuai dengan apa yang dijanjikan Allah di dalam Alkitab. Maka waktu kita berdoa, kita harus mengaitkannya dengan seluruh ajaran Alkitab dan menjadikannya sebagai dasar doa kita.

Saya melihat banyak orang yang tidak mau membaca Alkitab, tidak mau mengerti firman, tidak mau mendengar khotbah, tetapi hanya mementingkan pengalaman pribadi dan doa belaka. Kita harus kembali kepada prinsip Alkitab. Jika kita tidak beriman, bagaimana kita bisa berdoa? Jika tidak mendengar firman, kita tidak mungkin beriman. Maka iman datang dari pendengaran, mendengar firman dengan sungguh, mengerti firman selimpah mungkin, barulah kita mengerti bagaimana berdoa kepada Tuhan. Tuhan bukanlah penolong yang bisa dipermainkan. Waktu engkau mengalami kesulitan, engkau minta pertolongan dari-Nya, baru Ia datang. Tetapi setelah itu engkau meninggalkan-Nya, tidak menjalankan perintah-Nya, tidak mendengar firman-Nya.

Hendaklah Gereja selalu mendengar perintah Tuhan, selain mempelajari firmanTuhan sehingga waktu berada di dalam kesulitan, prinsip Tuhan yang sudah kita mengerti itulah yang kita jadikan sebagai dasar dan dengan hak sebagai anak kita datang kepada-Nya, kita berdoa kepada-Nya. Doa kita akan dikabulkan jika doa itu sesuai dengan janji yang telah diberikan di dalam Kitab Suci. Tuhan tidak berjanji untuk memberikan segala sesuatu menurut kemauanmu, tetapi Tuhan berjanji memberi kekuatan kepadamu. Waktu engkau dalam kesulitan, Tuhan berjanji akan menyertai orang yang berjalan di dalam kehendak-Nya. Tuhan berjanji akan berdiri di sisimu, akan menyertai, Ia akan menolongmu memberi jawab pada semua pertanyaan yang sangat mengancam nyawamu pada saat engkau memberitakan Injil. Di dalam kesulitan yang bagaimana pun janji-janji Tuhan menyatakan bahwa anugerah-Nya cukup bagi kita. God’s grace is sufficient for you. Paulus pernah berdoa minta Tuhan mengangkat duri yang berada di tubuhnya. Banyak orang menafsirkan bahwa duri itu adalah penyakit yang dideritanya, entah penyakit mata atau penyakit lain. Maka dia meminta Tuhan untuk mengangkat duri itu. Sebagai manusia kalau kita mempunyai kelemahan, kita cenderung minta Tuhan mengangkatnya agar kita bisa melayani Tuhan dengan lebih baik. Tetapi Tuhan menjawab, “Tidak. Justru kadang-kadang Aku mengizinkan duri itu tetap berada di dalam dirimu, supaya engkau tidak selalu bersandar kepada diri sendiri, melainkan sadar bahwa engkau manusia yang tidak ada apa-apanya dan perlu berdoa kepada-Ku serta bersandar kepada-Ku.”

Kadang-kadang Tuhan mempunyai cara yang tidak kita mengerti. Paulus berseru minta Tuhan mengangkat durinya, padahal dia bukan orang Kristen biasa. Dia adalah orang Kristen yang besar sekali imannya. Tetapi Tuhan menjawab, “Sudahlah, jangan minta hal itu lagi, karena anugerah-Ku cukup bagimu.” Artinya, tidak semua doa permohonan kita dikabulkan oleh Tuhan. Namun meskipun Dia tidak menjawab doa kita, Dia telah memberikan anugerah yang cukup bagi kita. Janji Tuhan dan lingkaran dari intisari janji itu lebih penting dibandingkan dengan apa yang kita minta di luar janji itu. Kita harus mengerti dan kita harus percaya dengan tegas bahwa Tuhan adalah Tuhan yang memberikan janji. Apa pun yang sudah dijanjikan tidak pernah Dia ingkari.

Keempat, Kita juga boleh berjanji kepada Tuhan di dalam doa kita

“Jika Engkau menolong aku, aku akan menjadi orang yang mencintai Engkau.” Banyak orang yang hanya tahu meminta saja, tapi tidak mau menyatakan pengorbanan apa yang akan dia berikan kepada Tuhan. Ingatkah janji apa yang pernah kau ikrarkan kepada Tuhan? Janji bukanlah tukar kado. “Kalau Tuhan sembuhkan saya, maka saya akan mengerjakan sesuatu untuk Tuhan. Tapi kalau Tuhan tidak menyembuhkan saya, saya juga tidak akan lakukan sesuatu untuk Tuhan.” Itu kurang ajar sekali. Jangan memberikan janji yang bersyarat kepada Tuhan karena berarti engkau sedang mempermainkan Tuhan atau memaksa Tuhan. Sebab itu waktu kita berdoa dengan berjanji kepadaTuhan, ada prinsip-prinsip penting yang perlu kita perhatikan. “Janganlah terburu-buru dengan mulutmu dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah di sorga dan engkau di bumi. Oleh sebab itu biarlah perkataanmu sedikit.” (Pengkhotbah 5:1). Allah berada di sorga dan kita berada di bumi. Diilhami ayat ini, Soren Aahye Kierkegaard menemukan 3 macam qualitative difference yang tidak mungkin dijembatani: the qualitative different between heaven and earth; between God and men; between time and eternity. Langit sama sekali berbeda daripada bumi. Allah sama sekali berbeda dengan manusia. Waktu sama sekali berbeda dengan kekekalan.Tidak ada jembatan untuk ketiga macam perbedaan itu. Pemikiran inilah yang mempengaruhi Karl Barth dalam teori “God is the wholly other.” Allah sama sekali berlainan dengan apa yang kau pikirkan, kau kenal. Tetapi kita tidak bisa menerima statement itu, karena statement itu akan memberikan lowongan bagi Gnotiksisme dan Agnostiksisme. Allah menyatakan diri, mewahyukan diri-Nya kepada kita, maka kita harus sebisa mungkin mempelajari wahyu Tuhan dengan hati yang sungguh-sungguh dan kapasitas yang ada pada diri kita. Waktu kita datang kepada Tuhan, janganlah kita buru-buru berbicara, jangan terlalu cepat berbicara. Janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Tuhan Allah. Buat apa gelisah? Mari kita pikirkan dengan baik. Alkitab selalu mengajak manusia untuk menjadi manusia yang rasional, yang rasionya ditaklukkan di bawah kuasa Roh Kudus. Tetapi orang yang berambisi agama tidak mau dikontrol, dia terlalu cepat dan terlalu banyak berbicara, tidak mengontrol lidahnya.

Dikatakan di sini, Allah tidak menginginkan kita gelisah, terburu-buru, terlalu banyak bicara. Karena itulah cara orang kafir berdoa, tapi bukan demikian dengan kita. Kita datang kepada Tuhan, karena Dia di sorga dan kita di bumi. Oleh sebab itu, hendaklah perkataanmu sedikit. Karena sama seperti mimpi dikarenakan terlalu banyak kesibukan, demikian juga perkataan bodoh yang disebabkan oleh banyak bicara. Karena dalam perkataan yang banyak, kau menyatakan kebodohanmu.

Peribahasa Tionghoa mengatakan, orang yang banyak bicara sulit luput dari mengucapkan perkataan yang salah. Jika kita mengucapkan perkataan yang salah, kita perlu melihat, siapa dia orangnya. Kalau kau mengucapkan perkataan yang salah kepada orang yang biasa tidak apa-apa. Tetapi kalau kau mengucapkan perkataan yang salah kepada presiden atau kepada atasanmu, mungkin akan mengancam keamanan dirimu. Tetapi kalau memang presiden memang salah, dan semakin orang mempersalahkan dia, maka kedua belah pihak perlu saling mengoreksi diri.

Bagaimana kalau kita mengucapkan perkataan yang salah terhadap Tuhan Allah? Di sini dikatakan, jangan kita sembarangan berkata-kata, karena Dia di sorga dan kita di bumi, perkataanmu harus sedikit. Setelah itu, baru disambung dengan nazar. Apa itu nazar? Berjanji. Lebih baik tidak berjanji daripada berjanji tapi tidak dilaksanakan. Lebih baik berjanji dan siap melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Waktu kita katang berdoa kepada Tuhan, janganlah mengucapkan janji-janji kosong untuk menipu Tuhan, jangan tergesa-gesa memaksa Tuhan, jangan berjanji hanya untuk bermain-main, karena kau tidak tahu tanggung jawab yang ada dibaliknya. What you pray you should pay. Apa yang kau doakan, haruslah kau jalankan.

Setiap doa diikuti oleh tanggung jawab. “Tuhan, tolonglah orang miskin.” Tuhan akan bertanya, apakah tanggung jawabmu, yang sudah mengucapkan doa seperti itu? Doa adalah cetusan keinginan hati kita yang sedalam-dalamnya, yang kita tujukan kepada Allah, Penguasa langit dan bumi. What you pray, you should pay. Bukan berdoa semaunya sendiri sesudah itu kita tinggalkan begitu saja dan melupakan semua perkataan yang kita ucapkan kepada Tuhan.

Biarlah doa kita keluar dari kesadaran dan pengertian yang sungguh, didasarkan atas pendengaran wahyu yang sejati, yaitu Kitab Suci. Dengan pengertian seperti itu, kita melihat lingkaran yang beres di dalam hidup kerohanian kita, mendengar, berpikir, mengerti, beriman, berdoa, menjalankan, mendengar lagi, berdoa, menjalankan. Laksanakanlah apa yang telah engkau janjikan dan nazarkan, karena doa bukan hanya sekedar membicarakan sesuatu yang kosong, sebaliknya, doa adalah suatu keinginan untuk menjalankan kehendak Tuhan yang diutarakan melalui permohonan, nazar atau janji.

Kelima, Kita menyaksikan bagaimana Tuhan bekerja

Banyak orang setelah berdoa mereka ingin Tuhan segera menyatakan kehebatan-Nya, kuasa-Nya, padahal kita perlu menunggu, to wait upon the Lord. Wait patently before Him. Setelah berdoa, tunggulah dengan sabar. Jangan mengharapkan Tuhan melakukan sesuatu sesuai dengan jadwal waktumu. Tuhan mempunyai jadwal-Nya sendiri, karena Dia adalah Allah. Sebab itu, kita perlu tenang.

Felix Mendellsohn Bartholdy, adalah satu-satunya komponis yang berasal dari keluarga kaya. Ayahnya, Abraham Mendellsohn adalah seorang banker yang besar di Jerman. Sebagai anak tunggal sejak kecil hidup Felix enak luar biasa. Tetapi dia berjuang mati-matian hingga akhirnya menjadi salah seorang komponis terbesar dalam sejarah. Dia menulis dua lagu rohani yang sangat menyentuh hati saya, yaitu Hear my prayer,” dan yang satu lagi adalah I waited for the Lord, salah satu lagu dengan melody yang terindah. Aku menantikan Engkau, Tuhan, karena Engkau menyendengkan telinga, mendengar dan menjawab doaku. Aku menanti Tuhanku dengan jiwa yang tenang.

Di saat-saat yang sulit, seringkali kita ingin cepat-cepat keluar dari sana, tetapi Tuhan berkata, “Tidak. Aku mempunyai jadwal-Ku sendiri.” Apakah politik berubah? Ada jadwalnya. Kau ingin cepat-cepat menikmati demokrasi? Ada jadwalnya. Demokrasi selalu dilahirkan melalui suatu proses yang panjang dan sulit. Sebelum demokrasi diberlakukan, perlu adanya pendidikan yang jujur dan merata, agar mereka tahu bagaimana memilih. Sebab itu perlu waktu yang panjang agar manusia belajar melalui pengalaman-pengalaman yang salah. Segala sesuatu ada waktunya. Kau mengharapkan rupiah cepat-cepat menguat, tetapi harus tunggu, karena segala kesulitan yang muncul harus dibereskan terlebih dahulu. Belajar tenang dan belajar taat. Kalau menemui kesulitan lalu melarikan diri, itu yang paling gampang. Kalau menemui kesulitan lalu marah, itu juga gampang.

“Lihatlah, Allahmu bekerja,” berulang kali Alkitab mengatakan seperti itu. Maka di dalam pengalaman saya, saya berkata kepada Tuhan, “Tuhan, sebenarnya seumur hidup ini saya bukan bekerja bagimu, tetapi terus menerus menunggu, bagaimana Kau bekerja.” Cara Tuhan bekerja begitu berlainan dengan cara kita. Cara Tuhan adalah di luar cara-cara yang mungkin kita pikirkan. Dia juga bekerja pada waktu-Nya.

Dalam peristiwa Lazarus, orang-orang berkata,“Oh, Yesus, orang yang Kau cintai sudah mati.” Apakah Yesus lalu segera pergi? Yesus menanti empat hari, barulah Dia pergi ke kubur Lazarus. Mengapa harus menanti sampai 4 hari? Karena Allah mempunyai jadwal-Nya sendiri. Kalau Yesus datang sebelum Lazarus mati, Dia hanya menumpangkan tangan-Nya, lalu sembuhlah Lazarus, maka kuasa kebangkitan Yesus tidak nyata. Jadi, tunggu hingga Lazarus mati. Kalau Lazarus baru mati setengah hari, lalu Yesus datang dan membangkitkan dia, mungkin orang akan berkata, bahwa dia mati suri. Tetapi, setelah dia mati empat hari, mayatnya sudah busuk, barulah Tuhan berkata, “Lazarus, keluarlah!” Maka keluarlah Lazarus. Kuasa Tuhan, waktu Tuhan, tidak bisa diatur oleh manusia. Kesulitan-kesulitan yang tiba pada kita, marilah kita berkata dengan iman, “Tuhan, aku menantikan waktu-Mu bekerja, aku taat kepada-Mu, karena Engkau adalah Tuhan yang tidak pernah bersalah.

Keenam. Setelah kita berdoa, dan menantikan saat-Nya bekerja, kita harus langsung melaksanakan tugas kita.

Jika ada seorang berdoa, sesudah itu dia pergi tidur, itu tidak benar. Karena sesudah berdoa, dia harus melakukan apa yang bisa dia lakukan. Ini penting sekali. Kalau kamu minta Tuhan membasmi kemiskinan, maka setelah berdoa, kau harus segera menolong orang miskin yang berasa di sekitarmu. Kalau kau berdoa minta pertolongan kepada Tuhan untuk memberikan demokrasi kepada negara ini, mulailah belajar bagaimana menghargai orang lain. Kalau kau tidak bertindak, hanya berdoa saja, kau tidak akan melihat anugerah Tuhan yang limpah itu datang atas dirimu.

Saya tidak tahu, apa yang kau doakan di masa krisis ini, karena doa setiap orang berbeda. Orang-orang yang mengalami kesulitan, doanya juga berbeda-beda. Kau harus belajar untuk menyelaraskan doamu dan tindakanmu. Hidup doa orang Kristen bukan hanya memukul angin, bukan hanya berteriak-teriak terhadap angkasa, melainkan suatu cetusan dari hati untuk mengerti siapa itu Tuhan, apa hak kita sebagai anak, apa yang dijanjikan-Nya, apa yang harus kita doakan, waktu dan jadwal Tuhan yang harus kita tunggu, tugas dan tanggungjawab yang harus kita kerjakan.

Ketujuh. Setelah Tuhan memimpin, jangan lupa untuk memuliakan Dia

Dalam Mazmur 50:15 Tuhan mengatakan, “Aku akan menolong engkau, dan engkau juga harus memuliakan Aku.” Kalimat terakhir dari ayat ini, merupakan tuntutan dan peringatan Tuhan kepada kita karena kita selalu melupakannya.

Peribahasa Tionghoa: wang en fu yi, orang yang lupa budi harus dihina. Yesus menyembuhkan sepuluh orang yang berpenyakit kusta, seorang di antara mereka berkata, “Aku sudah disembuhkan, tetapi mengapa aku lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada-Nya?” Maka dia kembali dan berkata kepada-Nya, “Puji Tuhan, kemuliaan bagi Allah. Yesus, aku berterima kasih kepada-Mu karena Kau telah menyembuhkan aku.” Yesus angkat bicara, “Bukankah ada sepuluh orang yangmendapatkan kesembuhan? Mengapa selain orang Samaria ini kembali memuliakan Tuhan, yang lain diam saja?” Sepuluh orang kusta disembuhkan, tetapi hanya orang Samaria, seorang diri yang kembali. Di manakah orang-orang Yahudi? Di manakah umat Tuhan?

Seringkali umat Tuhanlah yang paling kurang ajar. Kita menerima anugerah Tuhan, tapi kita melupakan-Nya. Kita berjanjij kepada Tuhan, tetapi kita melupakan-Nya. Tuhan berkata, “Waktu kau berada didalam kepicikan datanglah kepada-Ku, berdoalah kepada-Ku, berserulah di dalam nama-Ku, maka Aku akan menolongmu. Tetapi setelah itu, janganlah lupa untukmemuliakan Aku.”

Mana yang lebih banyak kita lakukan di dalam doa kita, memohon atau bersyukur? Apa arti doa? Doa adalah berbicara kepada Tuhan. Bagaikan kawan yang baik datang mengunjungimu. Kalau ditanya, untuk apa kau datang? Kesulitan apa yang kau alami? Jawabmu, tidak, hanya berkunjung sebagai seorang kawan. Yang sering datang pada saat tidak terjadi apa-apa adalah orang baik. Tapi orang yang kalau terjadi apa-apa baru datang, itu repot.

Tuhan berkata, Kalau kau mengalami kesulitan, kepicikan, datanglah kepada-Ku. Banyak hal tak pernah kau bawakan di dalam doamu, tunggu sampai kesulitan menimpa, barulah kau berdoa. Tuhan berkata, silahkan. Tapi kata-Nya, setelah kau berdoa dan Aku menolongmu, jangan lupa memuliakan nama-Ku. Adakah hidupmu mengalami perubahan? Adakah kau melalui hidup yang suci? Adakah kau membantu orang lain? Kalau Tuhan sudah menolongmu, adakah kau menolong orang lain? Kalau Tuhan sudah melepaskanmu dari kesulitan, adakah kau memberikan simpati kepada orang lain? Adakah kau memuliakan nama Tuhan? Adakah orang kafir memuliakan Tuhan karena tingkah laku dan tindakanmu? Do not take it for granted. Banyak orang beranggapan, kalau Tuhan baik terhadapku, itu sudah seharusnya. Tetapi ia sendiri tidak pernah mengingat Tuhan dan selalu melupakan anugerah Tuhan. Kiranya Tuhan memberikan kekuatan kepada kita, agar kita bisa menjadi orang Kristen yang bertanggungjawab, yang bisa berdoa kepada-Nya, menikmati sukacita daripada-Nya.

Setelah kita berdoa, marilah kita berkata, hatiku tenang, karena dengan iman aku melihat Tuhan akan menyatakan lengan-Nya yang berkuasa melakukan pekerjaan-Nya. Bersandarlah kepada Tuhan dengan iman yang sungguh.

Saya akan memberikan satu cerita pendek: suatu hari seorang stunt man yang sangat berani membuat sebuah menara besi di sisi sebuah air terjun yang besar dan menghubungkan dengan kabel. Lalu dia mengundang banyak orang untuk menyaksikannya berjalan di atas kabel yang sangat kecil itu. Semua orang yang melihat hampir berhenti bernafas, karena apa yang dilakukannya begitu bahaya. Setelah dia menyelesaikan perjalanan itu, suara tepuk tangan menggelegar. Tapi sesudah itu dia bertanya, “Sekarang, siapa yang mau ikut saya ke seberang?” Setelah menunggu lama sekali, ada satu orang yang mau ikut. Semua memandang orang itu dengan heran. Orang itu dipegang dan mereka berjalan perlahan-lahan sampai di tempat tujuan. Siapakah orang yang mau ikut berjalan di atas kabel? Ternyata dia orang yang sering berlatih bersama dia. Dia tahu dengan pasti, orang itu sanggup membawanya menyeberang ke sana.

Demikian juga di dalam kesulitan kita, mari kita memandang kepada Tuhan seraya berkata, I trust in God. Ada orang bertanya, mengapa mata uang dollar begitu kuat? Karena satu-satunya mata uang di dunia yang tercetak tulisan “In God we trust” adalah dollar. Kapankah mata uang rupiah dibubuhi tulisan “bersandar kepada Allah?” Bila seluruh rakyat hingga presiden pun perlu “trust in God” baru dunia ini menjadi aman.

Kiranya Tuhan memberkati kita.

Amin.
SUMBER :
Nama buku : Iman Dalam Masa Krisis
Sub Judul : Bab VI : Bersukacita Karena Tuhan
Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit : Momentum, 2010
Halaman : 99 – 118
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube