Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

… Sebelumnya

Menguji roh lebih penting, mengerti roh yang benar dan salah lebih penting daripada mempunyai pengalaman yang kelihatan begitu supranatural, tetapi tanpa dasar Kitab Suci. Yesus berkata, “…Jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu…. Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Yoh. 16:7b; Kis. 1:8). Kuasa Roh Kudus tidak dapat dipalsukan, harus dibubuhi dan disejajarkan dengan kesucian dan kebenaran.

Roh yang berkuasa adalah Roh yang Suci (Roh Kudus) dan Roh yang Benar (Roh Kebenaran), sehingga ketika disertai dan memiliki kesucian dan kebenaran, kuasa itu barulah kuasa yang sah. Jika ia mempunyai kuasa melakukan hal aneh, mujizat, kesembuhan, atau mengusir setan, yang kelihatan hebat sekali secara rohani, tetapi hidupnya tidak suci, semua itu perlu diragukan. Roh yang Suci adalah Roh yang Benar; Roh yang Benar adalah Roh yang Berkuasa. Kekuasaan yang tidak didukung dengan kesucian janganlah dipercaya. Kekuasaan yang tanpa inti kebenaran firman Tuhan, janganlah dipercaya. Kuasa besar haruslah disejajarkan, berlandaskan, dan bercirikan kesucian dan kebenaran, karena Roh Kudus yang menjalankan kuasa itu adalah Roh yang Suci, Roh yang Benar, Roh Kuasa, dan Roh Tuhan sendiri.

Di dalam Perjanjian Lama, gejala orang yang dipenuhi Roh Kudus memiliki dua hal yang penting. Pertama, dia adalah orang yang penuh rasa takut akan Tuhan. Roh takut akan Tuhan adalah gejala yang penting sekali. Orang yang dipenuhi Roh Kudus tetapi tidak takut akan Tuhan janganlah dipercaya, karena Roh Tuhan adalah Roh yang menyebabkan manusia takut akan Tuhan. Roh Kudus memberkati siapa, maka orang itu juga diberkati dengan penuh perasaan takut akan Tuhan. Jika Roh Kudus ada pada seseorang, orang tersebut tidak berani sembarangan melakukan sesuatu, tidak berani sembarangan berbicara, tidak berani sembarangan melayani, serta tidak berani sombong dan membanggakan semua kehebatan dirinya. Jikalau ia penuh Roh Kudus, dalam segala pelayanannya pasti akan terlihat gejala bagaimana dia penuh perasaan takut akan Tuhan.

Kedua, dia adalah orang yang akan bekerja secara beres, teliti, setia, dan konsisten. Kita bisa melihat hal ini dari banyak contoh di Perjanjian Lama, seperti pada Yusuf dan Daniel. Kita melihat Yusuf di Mesir dan Daniel di Babel. Dua orang ini mewakili pemuda yang dipenuhi Roh Kudus. Mereka hidup suci, penuh rasa takut akan Tuhan, bekerja dengan sungguh-sungguh secara teliti, konsisten, dan semua pekerjaannya beres. Yusuf dipenuhi Roh Kudus, sehingga ia bekerja lebih beres dari para pemuda lainnya, dan semua yang dikerjakannya bisa dikerjakan dengan tepat. Meskipun Yusuf—sebagai anak Tuhan—melayani di dalam pemerintahan Mesir yang tidak takut akan Tuhan, di mana orang Mesir biasa berzinah, bisa berbohong, bisa berbuat segala kejahatan, di mana mereka tidak memiliki Roh yang Suci itu, Yusuf dapat hidup dan bekerja dengan sama sekali berbeda. Ia penuh takut akan Tuhan dan bekerja dengan sungguh-sungguh patuh kepada Tuhan. Dia berbeda dari semua pemuda yang lain, semua dikerjakannya dengan beres. Ada orang yang katanya dipenuhi Roh Kudus, kejang-kejang, tetapi di kantor menipu, berdagang dengan curang, tidak jujur. Orang-orang seperti ini jangan dipercaya bahwa mereka dipimpin dan dipenuhi Roh Kudus. Setiap orang harus bekerja sebaik mungkin untuk memuliakan Tuhan, tetapi tidak ada orang yang mempunyai hak untuk memperalat orang yang sungguh-sungguh setia dan jujur kepada Tuhan untuk kepentingan dan keuntungannya sendiri. Daniel di Babel kerjanya beres, setia, konsisten, dan jujur.

Mereka menjadi faedah besar mengubah dunia, tetapi mereka sendiri tidak mendapatkan keuntungan yang banyak. Manusia suka memperalat orang baik, perusahaan besar suka memperalat semua pegawai yang paling jujur untuk menguntungkan dia sendiri. Namun, dalam hal ini, dia sendiri harus tetap bisa bertanggung jawab kepada Tuhan. Jika Roh Kudus turun atas seseorang, pastilah orang tersebut hidup suci, setia kepada Tuhan, dan tidak berkompromi dengan dosa. Semua orang di Perjanjian Lama yang gejalanya dipenuhi Roh Kudus, kerjanya beres, jujur, dan bertanggung jawab.

Di dalam Perjanjian Baru, orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang mencintai Injil dan berkobar-kobar dengan hati yang hangat memberitakan firman Tuhan. Di dalam Perjanjian Baru, engkau melihat Roh Kudus turun. Setelah Roh Kudus turun di Yerusalem kepada seratus dua puluh orang, mereka semua berdiri dan memberitakan Injil, berani mengabarkan Kerajaan Sorga, dan semuanya sehati. Sebaliknya, kita melihat Simon orang Zelot, Yudas Iskariot, dan Matius pemungut cukai, pada awalnya mereka mempunyai program sendiri, ambisi sendiri. Selain Yudas yang membunuh diri, yang lain akhirnya membuang ambisi dan segala program mereka, disesuaikan dengan rencana Tuhan di dalam mengabarkan Injil. Dan kita melihat orang yang dipenuhi oleh Roh Tuhan, oleh Roh Kudus, adalah orang yang dipenuhi oleh cinta kasih terhadap Injil Kristus. Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang dipenuhi semangat memberitakan Injil, membawa orang lain untuk kembali kepada Tuhan.

Gejala ini begitu khusus, begitu nyata, bahwa di dalam Perjanjian Baru semangat penginjilan menjadi ciri dari semua yang dipenuhi Roh Kudus; sedangkan di dalam Perjanjian Lama cirinya adalah orang yang dipenuhi dengan semangat dan etos kerja yang suci, teliti, setia, konsisten, dan kerja yang beres. Orang yang dipenuhi Roh Kudus berani mati untuk Kristus, rela menjadi martir dan mati syahid demi Kristus.

“Aku percaya kepada Roh Kudus.” Benarkah iman Saudara dan saya? Benarkah gejala dan ciri rohanimu? Benarkah itu merupakan pengakuan yang jujur dan suci dari hatimu? Jika engkau memang adalah orang yang dipenuhi Roh Kudus, biarlah engkau akan senantiasa hidup jujur dan hidup sesuai kebenaran Tuhan, serta setia memberitakan Injil Kristus.

Ketika Yusuf digoda oleh istri Potifar, perempuan yang tidak tahu malu itu, di mana ketika suaminya sedang tidak ada di rumah, dia mau buka baju dan minta Yusuf tidur dengannya, Yusuf tidak berpikir, “Wah, kesempatan luar biasa, nyonya cantik, suami tidak ada, kesempatan untuk tidur dengan kamu.” Tidak! Yusuf tidak demikian. Ia menjawab, “Bolehkah aku melakukan dosa besar ini dan bersalah kepada Tuhan?” Dia tidak mengatakan bahwa jika ia tidur dengan istri Potifar, ia bersalah kepada suaminya. Dia justru berkata, “Kalau saya berzinah, engkau dan saya sudah bersalah dan berdosa kepada Tuhan, dan ini adalah dosa besar.” Di zaman Yusuf, tidak ada konsep dan pemikiran di tengah orang Mesir bahwa jika seseorang tidur dengan perempuan cantik yang bukan istrinya adalah sebuah dosa besar. Pada zaman itu tidak ada konsep dalam masyarakat Mesir bahwa tidur dengan perempuan seperti itu adalah dosa besar kepada Tuhan. Di sini kita melihat Tuhan mengirim seorang pemuda yang konsepnya masih begitu murni, suci, setia, dan tekun di negara yang penuh dengan perzinahan. Ia dapat mengatakan kalimat yang agung, “Bolehkah aku melakukan dosa besar ini dan bersalah di hadapan Tuhan?” Inilah orang yang sungguh-sungguh takut akan Tuhan dan sungguh anak Tuhan yang setia. Ini artinya dipenuhi Roh Kudus.

Pada zaman ini banyak pemimpin gereja, khususnya dari aliran tertentu, yang berzinah, mencari pelacur, dan tidak setia dengan istrinya. Apakah ini gejala dan ciri dipenuhi Roh Kudus? Tetapi justru merekalah yang paling banyak berbicara tentang Roh Kudus, tetapi dengan hidup yang tidak kudus. Orang yang betul-betul dipenuhi Roh Kudus, hidupnya penuh pimpinan Roh Kudus, dan mereka tidak akan melawan kesucian Tuhan, tidak akan melanggar dan melakukan hidup yang tidak senonoh di hadapan Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati kita untuk bisa memelihara hidup kita berjalan sesuai dengan rencana Tuhan, berjalan dalam pimpinan Roh Kudus, dan hidup bekerja seteliti mungkin, setekun mungkin, sehingga semua yang kita kerjakan bisa beres, jujur, dan benar sesuai dengan kebenaran. Dengan demikian Tuhan tidak meninggalkan kita. Orang-orang seperti inilah yang boleh disebut sebagai anak-anak Tuhan, yang mempunyai sifat seperti Bapanya, anak-anak Tuhan yang mempunyai keberanian seperti yang dituliskan dalam Kitab Suci, anak-anak Tuhan yang mempunyai keberanian memberitakan firman Tuhan, memberi kesaksian tentang kebenaran Yesus Kristus dan Injil-Nya.

Allah memberikan Anak-Nya yang tunggal menjadi pemberian terbesar untuk seluruh umat manusia. Hadiah Allah yang paling besar untuk keturunan Adam adalah memberikan Adam kedua, yaitu Yesus Kristus yang mati menggantikan kita. Dialah Pemimpin dan Kepala Gereja. Roh Kudus datang bukan untuk membuat kita malas, santai, dan tidur. Sebaliknya, Roh Kudus datang untuk memberi kita semangat, ingatan, ketaatan yang setia, dan hati yang sungguh-sungguh mencintai Tuhan dan memberitakan Injil. Kiranya Gereja mencintai Roh Kudus dan Gereja sungguh-sungguh mengalami Roh Kudus, penuh hormat kepada Roh Suci, penuh kerinduan menyelidiki rencana Roh Suci, dan mengerti bagaimana cara Roh Kudus bekerja. Calvin adalah satu-satunya theolog yang menggabungkan Roh Kudus dengan seluruh soteriologi (doktrin keselamatan) dari Yesus Kristus. Melalui Calvin, kita mengetahui Roh melaksanakan keselamatan Tuhan yang berada di dalam Yesus Kristus, selangkah demi selangkah sampai orang berdosa diubah oleh Roh Kudus menjadi orang yang suci. Orang berdosa diperanakkan oleh Roh Kudus menjadi anak Tuhan yang hidup dalam kesucian.

Karya Roh Kudus begitu besar, mengubah kita dari orang berdosa menjadi orang suci. Semua orang berdosa yang diperanakkan oleh Tuhan dijadikan orang yang mempunyai hidup kekal. Semua orang yang diberikan hidup kekal oleh Tuhan menjadi anak-anak Allah. Jadi kita semua yang sudah diselamatkan, dipertobatkan, dan diubah, kita sekarang bukan anak setan, bukan anak durhaka, bukan anak pemberontak, melainkan kini kita adalah anak Allah yang sudah dikuduskan oleh Roh Suci, yang sudah dibersihkan dengan darah Yesus, yang sudah diperanakkan, dan diberikan hidup yang baru. Kita mempunyai hidup kekal dan tidak lagi binasa. Semua orang kudus yang sudah diselamatkan, dijadikan kelompok yang kudus, persekutuan yang kudus, dan umat yang kudus, yang disebut Gereja yang kudus dan am. Tuhan memberkati kita. Amin.

Sumber : https://www.buletinpillar.org/artikel/pengakuan-iman-rasuli-bagian-39-butir-ketiga-9-aku-percaya-kepada-roh-kudus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube