Ciri Khas Pelayan Tuhan Yang Baik

Dan tentang malaikat-malaikat Ia berkata: “Yang membuat malaikat-malaikat-Nya menjadi badai dan pelayan-pelayan-Nya menjadi nyala api.” Ibrani 1:7

Ayat 6 membahas perbedaan antara Anak Allah yang kekal dengan malaikat-malaikat yang dicipta adalah perbedaan yang bersifat kualitatif. Malaikat-malaikat dicipta untuk melayani Tuhan, sedangkan Kristus adalah Allah Pencipta turun ke dalam dunia untuk melayani. Malaikat-malaikat diutus untuk melayani siapa? Melayani Allah di tempat yang tertinggi dan juga melayani mereka yang akan menerima keselamatan.

Jika ada satu orang bertobat, menjadi anak Allah, malaikatlah yang melayani ikut bersorak-sorai. Dia menjadi pelayan sama seperti malaikat (di dalam bahasa Ibrani messenger). Lalu apa bedanya dengan malaikat-malaikat? Malaikat-malaikat bersembah sujud di hadapan tahta Allah, tapi Kristus, oknum kedua dari Allah Tritunggal menerima sembah sujud malaikat. Waktu Kristus yang tadinya menerima sembah sujud malaikat itu datang ke dunia, Dia bersalut dengan tubuh orang berdosa yang sangat terbatas, hanya saja Dia tidak berdosa.

Saat itulah, malaikat yang tidak mau taat kepadaNya malah berbalik minta Yesus menyembahnya. Bukankah ini merupakan tindakan yang paling kurang ajar di dalam drama kosmos yang begitu agung? Lucifer yang dicipta oleh Tuhan justru menentang dan menghambat kehendak Allah yang kekal itu untuk terlaksana. Bahkan berani merayu Yesus: asal Kau mau menyembah aku barang satu kali saja, maka seluruh dunia dan kekayaannya akan menjadi milikMu.

Apa jadinya kalau hari itu Kristus mau tunduk kepada setan? Seluruh dunia akan secara otomatis menjadi milik Kristus dan kita tidak usah bersusah payah memberitakan Injil. Tetapi permisi tanya, Kristen macam apa itu? Kristen yang menyembah Kristus yang menyembah setan. Artinya, orang Kristen memiliki pemimpin yang menjual imanNya, menjual prinsip Alkitab. Dan itu adalah suatu kegagalan. Jawab Yesus kepada setan, enyahlah engkau, karena manusia hanya menyembah Allah, hanya melayani Dia saja.

Paulus berkata, anything I do is for the Gospel sake. Maksudnya, apapun yang saya lakukan, baik relevan maupun tidak relevan dengan Injil secara atmosfir, superfisial maupun fenomena, saya akan lakukan demi Injil. Suatu konsep yang didasarkan atas prinsip: All truth is God’s truth. Kalau saya percaya Allah adalah Pencipta, maka saya studi fisika, karena saya bisa memakainya untuk memuliakan Tuhan yang telah menciptakan dunia dengan begitu ajaib. Jadi apapun yang saya lakukan, hanya ada satu tujuan, mengembalikan segala kemuliaan pada Tuhan, orang lain pun akan memperoleh faedah Injil bersama dengan kita.

Apakah seorang yang melayani Tuhan tidak perlu melayani sesamanya? Tidak. Baca Matius 20:28. Jadi, adakah Yesus melayani manusia? Ada. Kalau Dia melayani manusia, mengapa Dia berkata, hanya melayani Tuhan saja? Dia melayani Tuhan demi melayani manusia. Kalau seorang berkata, “Saya hanya mau melayani Tuhan tetapi tidak perduli orang lain,” itu adalah omong kosong! Untuk itulah Yesus memberikan perumpamaan tentang seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho dan jatuh di dalam tangan perampok yang merampas segala miliknya, memukulinya, lalu meninggalkannya begitu saja. Seorang imam lewat di sana, melihat keadaannya lalu pergi. Seorang Lewi juga lewat di sana dan pergi.

Kemudian datanglah orang Samaria, yang secara ras tidak cocok, secara agama sedikit berbeda dan secara keturunan dihina oleh orang Yahudi. Tetapi dia justru berbeda dengan para rohaniwan yang tidak mempunyai cinta kasih. Dia membopong dan menaikan orang itu ke atas keledainya dan membawanya ke losmen, membayar semua biaya yang dibutuhkan untuk merawatnya.

Apakah kalau kita melayani manusia berarti kita tidak melayani Tuhan? Justru terbalik. Kita melayani Tuhan melalui melayani orang yang butuh bantuan. Yesus berkata, suatu hari nanti Aku akan berkata kepadamu, waktu Aku dipenjarakan, kamu tidak menengokKu, waktu Aku telanjang, kamu tidak memberiku pakaian, waktu Aku lapar, kamu tidak memberiKu makanan. Kamu akan bertanya, Tuhan, kapan hal itu terjadi, bukankah Kau tidak pernah dipenjara atau telanjang? JawabNya, barangsiapa melakukan hal-hal itu kepada salah seorang yang paling kecil, dia melakukannya atas diriKu.

Ayat 7. Para malaikat dan para hamba Tuhan mempunyai dua lambang yang sekaligus menjadi ciri khas mereka, badai dan angin. Mari kita merenungkan tentang angin.

  1. Angin memiliki eksistansi, berfungsi namun tidak nampak. Mungkin kau berkata, lihat bendera itu, berkibar-kibar, tandanya ada angin. Yang kau saksikan bukanlah angin melainkan bendera yang berkibar. Karena angin adalah suatu eksistansi yang tidak nampak. Invisible existance. Demikian juga hamba Tuhan yang sungguh-sungguh, di mana dia berada dia bukan mau menonjolkan diri melainkan mau menyatakan tahta dan kemuliaan Allah.
  2. Angin mempunyai kekuatan yang sulit ditahan. Siapa yang sanggup menahan angin? Ketika badai menerpa, pohon yang sudah ratusan tahunpun akan tercabut sampai akarnya.
  3. Angin adalah pembersih udara yang paling ampuh. Menyapu lantai adalah mudah, tapi menyapu langit yang terkena polusi seperti kota Jakarta bukanlah hal yang mudah. Kapan udara menjadi bersih? Setelah turun hujan atau setelah angin kencang, langit di kota Jakarta nampak biru bukan abu-abu.
  4. Angin adalah arah yang tidak mudah diprediksi. Sekarang dengan alat metereologi yang canggih kita bisa mengetahui arah angin, tapi Alkitab mengatakan, Roh Kudus bekerja bagaikan angin, tidak diketahui dari mana dia berasal dan akan menuju ke mana. Hamba Tuhan seperti angin. Apa maksudnya? Hamba Tuhan yang taat pada pimpinan Roh Kudus tidak menentukan arah bagi dirinya sendiri.
  5. Angin adalah pengatur temperatur. Di mana ada angin di situ terjadi perubahan temperatur. Kalau suhu di rumahmu adalah 30 derajat, kau memasang kipas angin, suhunya seperti berubah menjadi 20 derajat. Padahal suhunya tetap sama, tapi angin membuat perataan suhu. Begitu juga dengan hamba Tuhan yang sejati, di mana dia berada, dia akan meredakan emosi yang berlebihan, meredakan kemarahan yang tidak mempunyai cinta kasih. Bukan maksud saya mengatakan orang Kristen tidak boleh marah. Justru sebaliknya, karena orang Kristen tidak berani marah, maka masih ada banyak dosa di dunia ini. Mengapa orang Kristen tidak berani marah? Karena dia sendiri mempunyai begitu banyak dosa. Tapi bila orang Kristen melalui hidup yang suci, yang benar, yang memuliakan Tuhan, maka dia bukan saja bisa marah sesuai dengan marah Ilahi, tetapi juga bisa menciptakan perdamaian.

Sekarang kita merenungkan tentang api. Allah menjadikan hambaNya api yang menyala-nyala, karena Allah sendiri bagaikan api yang menghanguskan. Apa itu api?

  1. Berbeda dengan angin yang bereksistansi tapi tidak nampak, api adalah sumber cahaya yang nampak. Di mana ada api, di situ ada cahaya. Api berada pada lokasi yang tetap namun memberikan cahaya pada area yang lebih besar dari pada wilayah dirinya.
  2. Api berkekuatan dinamis yang tidak menentu. Bila sebuah lilin yang sedang menyala kau foto berkali-kali, lalu menjejerkan semua hasil fotomu, kau tidak akan menemukan ada dua nyala api yang bentuknya persis sama. Karena api itu dinamis, sehingga api menjadi suatu kekuatan yang kelihatannya tidak menentu tapi memberi pengaruh yang besar sekali. Allah menjadikan hambaNya api. Pada waktu kita mengamati Musa, kita menemukan api di dalam dirinya. Waktu dia dengan susah-payah membawa dua loh batu yang berisi sepuluh hukum Tuhan itu turun ke bawah gunung, dia menemukan orang Israel sedang menyembah patung lembu emas yang dibuat oleh tangan mereka sendiri sambil menyebutnya Yehohua, Tuhan yang telah memimpin mereka keluar dari Mesir. Meski perbuatan itu dikepalai oleh Harun, kakak kandungnya sendiri, adakah dia berkompromi? Tidak. Dia melempar kedua loh batu itu dengan amarah yang besar. Apakah Tuhan marah karenanya? Tidak. Mengapa? Karena kemaharannya adalah kemarahan yang seratus persen kemarahan Tuhan Allah. Lalu perintahnya, orang yang mau setia kepada Tuhan, bunuhlah saudaramu yang menyembah patung! Pada hari itu ada tiga ribu orang yang mati.Perhatikan: Di Perjanjian Lama (PL), waktu Taurat diturunkan, ada tiga ribu orang mati. Di Perjanjian Baru (PB), waktu Roh Kudus turun ada tiga ribu orang dibaptiskan. Apa artinya? PL adalah perjanjian yang ditegakkan di atas penghakiman Tuhan yang kudus. PB ditegakkan di atas pengampunan dan keselamatan yang digenapkan oleh Yesus yang sudah diadili menggantikan kau dan saya. Sebab itu kita jangan hanya mengerti Tuhan sebagai Tuhan yang penuh cinta kasih dan penuh pengampunan, tetapi mengertilah bahwa Dia juga sebagai api yang menghanguskan, agar kita melalui hidup yang suci, takut dan gentar kepadaNya.
  3. Api adalah sumber energi dan kehangatan. Di mana ada api, di situ ada kehangatan. Permisi tanya, waktu kau melayani adakah orang yang dekat denganmu merasakan kehangatanNya atau malah merasa dingin luar biasa? Biasakanlah setiap kali kau mendekati orang, orang merasa ada kehangatan, friendship, encouragement, and fire.
  4. Api adalah penunjuk arah bagi orang lain. Sekarang kita menggunakan lampu-lampu untuk menggantikan api. Tapi beberapa puluh tahun yang lalu, di pedesaan Indonesia, orang masih memakai lilin kecil sebagai penunjuk jalan. Mengapa pada waktu siang, kita mampu berjalan dengan cepat, tetapi ketika malam kita tidak berani berjalan dengan cepat? Karena tanpa penerangan kita tidak tahu persis mana tempat-tempat yang berbahaya. Biarlah kita menjadi orang Kristen yang bersifat api, dimanapun kita berada, kita menunjukkan arah pada orang lain.
  5. Api adalah pembersih yang paling ampuh. Pada tahun 1666 terjadi wabah penyakit yang terbesar di London. Ribuan orang tergeletak dan mati di tengah jalan. Pada saat orang mengira tidak ada harapan lagi, terjadi kebakaran besar yang menghanguskan sepertiga kota London. Ternyata setelah bencana api itu, penyakit menularpun ikut lenyap. Hamba Tuhan dijadikan api oleh Tuhan, di mana hamba Tuhan berada, di sana dia akan melakukan pembersihan, membersihkan wabah yang merusak pekerjaan Tuhan di dalam gereja.

Kiranya Tuhan memberkati kita, menjadikan gereja kita sebagai Gereja yang dipakai sebagai api dan angin di dalam tangan Tuhan. Setelah hamba Tuhan yang berapi seperti Elia menyelesaikan pelayanannya, dia dibawa pulang oleh Tuhan dengan kereta yang berapi, dalam angin yang besar. Kiranya Tuhan memberkati hidup kita yang hanya beberapa puluh tahun saja di dunia ini menjadi hidup yang suci, yang mempunyai api dan angin dari Tuhan.

(Ringkasan khotbah ini belum dikoreksi oleh Pengkhotbah, W.H.)

 

Pengkhotbah : Pdt. Dr. Stephen Tong

 

Sumber : http://www.mriila.org/pustaka/eksposisi-ibrani/ciri-khas-pelayan-tuhan-yang-baik/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
(No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...
This entry was posted in Dr. Stephen Tong. Bookmark the permalink. (1,078 views)