Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.” Keluaran 20 : 17

Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Matius 5 : 5-6 “

Kita telah membahas tema “ Iri Hati”. Emosi ini adalah emosi yang sangat aneh. Emosi yang secara logika tidak pernah kita perlukan, tetapi secara fakta tidak mudah kita kalahkan. Melalui iri, perang dunia pertama kali terjadi, yaitu ketika Kain membunuh Habel. Perang  dunia pertama bukan 1914 – 1918, perang tersebut hanya mematikan tujuh juta manusia di antara populasi total ratusan juta manusia, sehingga persentasinya hanya kecil sekali. Tetapi saat Kain membunuh Habel, dunia hanya ada empat orang; Adam, Hawa, Kain, dan Habel. Ketika Kain membunuh Habel, persentase yang meninggal adalah 25% dari seluruh populasi manusia. Itulah perang dunia pertama. Karena apa? Karena iri. Karena iri pula, Tuhan Yesus harus dipakukan di kayu salib. Karena iri, begitu banyak dosa terjadi. Iri dan semua perbuatan yang diakibatkan oleh iri hati tidak pernah mengubah situasi. Itulah sebabnya iri hati secara logika tidak perlu ada, tapi secara fakta, iri hati tidak mudah kita singkirkan dari dalam hati. Itulah sebabnya dosa merupakan realitas yang harus kita terima dan sebagai doktrin yang harus kita pahami. Dosa adalah sebuah fakta sejarah. Demikian juga, kejatuhan Adam adalah fakta sejarah, karena dosa menjadi realitas dalam dunia.

Manusia Memiliki Keinginan Dan Kerinduan

Kini kita akan memasuki tema yang baru, yaitu “Kerinduan” atau “Keinginan.” Di dalam kedua ayat di atas Yesus berbicara tentang rindu, lapar, dan haus akan kebenaran. Di dalam Perjanjian Lama ditekankan agar jangan mengingini istri orang lain, pegawai orang lain, pembantu orang lain, hewan orang lain, dan segala sesuatu yang dimiliki orang lain. Di sini Alkitab menuliskan bahwa manusia mempunyai keinginan, kerinduan, kemauan, dan kehausan hingga menjadi suatu dorongan di dalam emosi kita sehingga kita mati-matian berusaha mencari dan mendapatkannya. Keinginan, kerinduan, dan kemauan seperti itu adalah emosi yang normal.

Setiap orang mempunyai suatu keinginan yang menjadi fungsi kemauannya. Keinginan itu menjadi semacam kerinduan yang mengakibatkan kita siang malam memikirkan dan bertekad untuk memperolehnya. Siapa yang tidak pernah mempunyai pengalaman ini? Sebelum kamu menikah, kamu jatuh cinta kepada seseorang. Kamu belum mengenal dia, tetapi ketika kamu melihatnya, kamu terpesona, kamu terpengaruh, kamu menginginkannya lalu merindukannya dan terus memikirkannya, selanjutnya munculah keinginan untuk mendapatkannya. Kemudian kamu mulai dengan segala cara cara berusaha mengejar dia. Atau kamu ingin studi di luar negeri dan ingin menjadi mahasiswa di bawah seorang profesor yang baik. Hal ini menyebabkan kamu siang malam mengumpulkan uang, bekerja setengah mati untuk bisa belajar dan mendapatkan pengertian dari profesor itu. Kamu menginginkan sesuatu kesuksesan yang kamu lihat terdapat pada orang lain, mengapa dia mempunyai rumah dan mobil? Kamu juga ingin memiliki sama seperti yang dimilikinya, maka kamu bekerja mati-matian, membanting tulang tanpa memedulikan waktu, tanpa tahu siang dan malam. Semua ini merupakan suatu ekspresi emosi kemauan yang begitu keras, yang begitu dasyat, yang ada di dalam hidup setiap orang. Sejak masa kanak-kanak orang sudah menginginkan sesuatu, ketika beranjak dewasa menginginkan pernikahan, lalu menginginkan kesuksesan, sampai tua menginginkan kebahagiaan bagi anak cucu dan keturunannya. Hal-hal  sedemikian merupakan emosi yang normal dari diri seseorang.

Keinginan-keinginan itulah yang mengakibatkan manusia dapat maju. Tanpa adanya keinginan, manusia akan dipuaskan oleh keadaan yang ada, sehingga dia tidak bisa melepaskan diri dari keterbatasan dan kelemahan yang selama ini mengikat dia. Kalau tidak ada rangsangan keinginan, tidak mungkin manusia memiliki perubahan hidup. Begitu banyak orang yang hanya puas dengan keadaan diri, sehingga dia tidak pernah bisa mencapai hasil yang terbaik dalam hidupnya. Kepuasan memang diperlukan dan Alkitab juga mengatakan bahwa kita harus puas (Contentment). Tetapi dalam hal-hal tertentu, kita tidak boleh puas.  Dalam hal-hal tertentu, kita harus cepat puas, tetapi dalam hal lain kita tidak boleh cepat puas. Ini keseimbangan mengatur diri supaya keinginan kita, emosi kita, tidak meluap keluar jalur. Kemampuan untuk menata keseimbangan ini merupakan tanda kematangan kerohanian seseorang. Jika di dalam hal yang kita seharusnya puas kita tidak pernah puas, atau di dalam hal yang kita tidak seharunya puas kita terlalu cepat puas, maka kita akan menjadi orang tidak seimbang dan tidak pernah maju.

Bangsa-bangsa yang maju adalah bangsa-bangsa yang berkeinginan besar, tidak pernah mau diikat oleh keadaan sebelumnya. Manusia yang sukses adalah manusia yang tidak pernah mau dipuaskan oleh keadaan sebelumnya. Ia menginginkan sesuatu yang melebihi dan melampaui apa yang telah ia capai, sehingga ia dapat menerobos apa yang sudah pernah ia miliki untuk masuk ke dalam sesuatu yang belum ia miliki.

Kita membutuhkan keinginan. Keinginan itu baik karena akan membangun ambisi atau aspirasi. Mungkin lebih baik kita memakai istilah “aspirasi” daripada “ambisi” karena di dalam kata “ambisi” akan muncul konotasi nafsu diri yang berpusat pada kebutuhan diri sendiri saja. Sebenarnya istilah “ambisi” tidak harus mutlak dipersempit dengan pengertian. Aspirasi menjadi keinginan yang menerobos, keluar dari batas untuk mendapatkan yang lebih. Manusia mempunyai keinginan dan Alkitab mencatat bahwa ada keinginan yang baik, ada keinginan yang buruk. Kalau keinginan itu sudah dikaitkan dengan nafsu, dengan berahi, dengan keegoisan diri, akibatnya akan mengacaukan masyarakat. Kalau keinginan itu tidak berhubungan dengan nafsu atau birahi atau ego tetapi berada pada jalur yang baik, maka itu mendorong manusia untuk maju luar biasa.

Semua pemuda pemudi harus belajar untuk tahu membedakan dan mengontrol keinginan, supaya tetap berada di dalam jalur kebenaran. Tidak ada orang yang tidak mempunyai keinginan, dan keinginan itu bisa menjadi jahat luar biasa. Keinginan-keinginan yang baik adalah keinginan-keinginan yang dipimpin oleh Roh Kudus akan menampakan buah Roh Kudus, yaitu penguasaan diri. Di dalam terjemahan bahasa inggris adalah self control (kontrol diri) atau temperance, yang berarti di dalam suatu keterbatasan, kita bisa membatasi diri, sehingga tidak melebihi batasan yang seharusnya. Keinginan juga demikian. Kita sangat memerlukan keinginan yang berada  dalam jalur yang benar, berprinsip, berpondasi, dan berpengaturan pimpinan Tuhan.

Alkitab berkata, ada orang yang mempunyai keinginan buruk, sehingga akhirnya jatuh di dalam kesusahan- kesusahan yang besar. Paulus berkata bahwa tamak akan uang adalah akar dari segala kejahatan. Cepat-cepat ingin menjadi kaya membuat orang berani melanggar norma dan etika. Cepat-cepat ingin menjadi kaya membuat dirimu melupakan apa yang menjadi kewajiban diri dalam aspek moral. Inilah keinginan yang merusak (destruktif), keinginan yang menghancurkan masyarakat, karena ada pribadi yang ingin mengambil alih semua hak yang bukan miliknya. Itulah sebabnya, untuk menjaga hak milik sebagai sesuatu yang terjamin dan terproteksi kesejahteraannya, diberikanlah perintah yang kesepuluh.

Jangan Menginginkan Milik Orang Lain

Perintahj kesepuluh dari sepuluh Perintah Allah menjadi patokan atau dasar bagi manusia untuk boleh memiliki harta pribadi.  Komunisme pasti akan gagal, karena melawan hukum kesepuluh yang diberikan oleh Tuhan ini. Jangan menginginkan harta orang lain, jangan menginginkan istri orang lain, jangan menginginkan budak orang lain, jangan menginginkan pegawai orang lain untuk dimiliki secara tidak sah. Di dalam dunia perdagangan, kadang ada hukum rimba yang tidak tertulis, dimana orang menghalalkan segala cara untuk mencapai apa yang diinginkan.

Alkitab mengatakan, jangan menginginkan milik orang lain. Mengapa kamu masih merindukan perempuan yang sudah dimiliki laki-laki lain? Mengapa siang malam kamu memikirkan dia, memikirkan alangkah baiknya jika bisa memeluk atau bersetubuh dengannya? Jangan menginginkan istri sesamamu. Jangan menginginkan budak-budak laki-laki atau perempuan dari tetanggamu. Jangan menginginkan rumah, ladang, atau hewan yang dimilikinya. Semua itu dijamin sebagai hak pribadi. Hak pribadi dijaga dan dilindungi oleh hukum, sehingga setiap orang berhak mempunyai milik pribadi. Kalau sesuatu sudah sah menjadi milik seseorang, maka orang lain harus berhenti menginginkannya. Tidak lagi memikirkannya, tidak lagi merindukannya, tidak lagi berusaha untuk memperolehnya.

Tetapi di dalam hal lain, Alkitab berkata, dahagalah, hauslah, laparlah dalam mengejar kebenaran, maka kamu akan dipuaskan. Di sini ada suatu dalil, kalau kita mengarahkan keinginan kita kepada hal-hal yang penting, yang baik, maka itu bukan saja diperbolehkan, tapi juga didorong oleh Tuhan dan diberikan janji bahwa hal itu akan diberikan kepada kita. Inilah kebenaran yang dinyatakan Kitab Suci. Sepintas Alkitab terlihat sederhana, sepertinya ayat-ayat yang kita baca tidak membuat kita sampai harus membuka kamus, karena begitu sederhana. Tapi di sini tersimpan rahasia bijaksana tertinggi untuk mengatur kehidupan manusia, baik pribadi maupun kolektif masyarakat. Kalau setiap pribadi manusia seluruh masyarakat menjalankan apa yang diperintahkan oleh Alkitab, maka pasti manusia akan berbahagia dan masyarakat akan mengalami sejahtera.

Kita menginginkan sesuatu sampai kita begitu rindu, dahaga, haus, siang dan malam memikirkannya. Emosi semacam ini bukan hanya ada pada orang biasa, tetapi juga pada orang yang suci. Paulus berkata, “Aku siang malam ingin bertemu denganmu, mendoakanmu, aku rindu kepadamu,” karena dia begitu sayang kepada Timotius. Di situ Paulus menyatakan suatu semangat, emosi yang sangat mengasihi seorang hamba Tuhan yang masih muda yang akan dijadikan penerusnya. Untuk keinginan dan kerinduan ini, kita melihat, Alkitab mengajak kita mempunyai arah yang benar. Ketika keinginan itu mengandung unsur dosa, khususnya dalam hubungan manusia dengan manusia, kerinduan itu akhirnya bisa menjadi hubungan berahi atau seks, menjadi sesuatu yang keji dan sangat merusak kerukunan masyarakat.

Emosi untuk menginginkan sesuatu dapat dibagi menjadi dua :

  1. menginginkan sesuatu yang tidak mengganggu orang lain, menginginkan sesuatu yang sama-sama boleh dimiliki semua orang, ini diperbolehkan.
  2. menginginkan sesuatu yang bukan hak kita, karena sudah menjadi milik orang lain, Ini tidak diperbolehkan.

Maksudnya, ketika kamu menginginkan kebenaran, hal ini tidak menyebabkan orang lain tidak dimungkinkan lagi untuk memiliki kebenaran. Atau ketika kamu menginginkan kebajikan, maka tidak mungkin kebajikan itu kamu monopoli dan orang lain tidak mendapatkan kebajikan itu. Keinginan yang demikian diizinkan oleh Alkitab. Karena kebenaran tidak terbatas. Kebajikan tidak terbatas. Keadilan tidak terbatas. Maka untuk hal-hal ini Alkitab dengan jelas berkata “Mari kita mengejar.” Mari kita dengan haus, lapar, dan dahaga mengejar semua itu dengan sekuat tenaga. Keinginan dan semangat seperti ini tidak salah, karena hal-hal yang tidak terbatas ini memang dibagikan Tuhan, diberikan Tuhan, dikaruniakan Tuhan, menjadi miliki seluruh umat manusia.

Semua orang boleh memiliki kasih yang tidak terbatas. Semua orang boleh memiliki kebenaran secara tidak terbatas. Yang tidak terbatas itu berasal dari Tuhan Allah sendiri, karena Allah tidak terbatas. Maka kita tidak mungkin kehabisan keadilan karena dimiliki oleh sekelompok orang. Kita tidak mungkin kehabisan cinta kasih karena hanya dimiliki oleh sekelompok orang. Allah itu tidak terbatas, maka Dia mau kita menuntut sesuatu yang boleh dimiliki oleh seluruh umat manusia. Dia mau kita mencari dan mengejarnya dengan sekuat tenaga. Berbahagialah orang yang haus dan lapar akan kebenaran. Istilah “kebenaran” di dini adalah “dikaiosume,” yaitu keadilan (Righteousness); kebenaran di dalam bentuk yang bukan hanya pengertian statis, tapi di dalam kelakuan. Kebenaran yang kita mengerti di dalam pengertian kognitif, teori dan sebagainya itu adalah “aletheia.” Tapi keadilan berarti di dalam kelakuan, di dalam menghadapi orang, di dalam cara yang benar.

 
 
 
.
Nama Buku           :  Pengudusan Emosi
Sub Judul              :  Keinginan Orang Kristen
Penulis                  :  Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit               :  Momentum, 2011
Halaman            :  185 s.d 192
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube