Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Sebelumnya….

KEBENARAN YANG BERSIFAT KEADILAN

Jika kita mempelajari Roma 3:2-26, kita akan menemukan bahwa kata “kebenaran” yang dipakai di sini bukan terjemahan dari kata Yunani, aletheia (Inggris: truth) melainkan dua kata Yunani, dikaios, dikaiosune (Inggris: righteous, righteousness). Istilah kebenaran di sini bukan yang disebut kebenaran sebagai isi dari hal-hal yang benar dan merupakan suatu ketegasan untuk menghadapi segala dosa. Kebenaran ini adalah kebenaran yang bersifat positif dari Allah yang diberikan di dalam Kristus kepada semua orang yang percaya. Ayat 26 dapat juga diterjemahkan “untuk menunjukkan kebenaran-Nya yang adil itu untuk zaman ini, supaya jelas bahwa Ia adalah yang benar dan adil serta memberikan pembenaran kepada orang yang percaya kepada Yesus Kristus.”

Kita telah membahas tentang keadilan dan kebenaran Allah yang sebenarnya merupakan suatu atribut atau sifat mutlak dari Allah itu sendiri. Tetapi apa yang ada dalam hidup Allah itu sendiri, yang harus menjadi suatu standar moral, ditujukan kepada manusia yang diciptakan menurut peta dan teladan Allah.

Bukan saja demikian, setelah manusia jatuh dalam dosa, kebenaran serta keadilan Allah itu sekali lagi dinyatakan melalui wahyu khusus, yaitu Taurat yang didalamnya menampung sifat-sifat ilahi, yaitu sifat kekudusan, sifat keadilan, dan sifat kebajikan. Maka melalui pemberian Taurat, manusia bisa melihat bahwa kekurangan itu sudah terjadi, karena dengan adanya Taurat, maka kita diberitahukan dan dinyatakan sebagai seorang yang kurang suci, kurang adil, dan kurang bajik adanya.

Karena Taurat menyatakan sifat ilahi, maka kita mengetahui bahwa kita sudah menyimpang atau kurang dari apa yang dituntut Allah di dalam Taurat. Dengan demikian, Taurat mempunyai fungsi khusus untuk menyatakan kesempurnaan Allah di dalam keadilan dan kebenaran, dan sekaligus menyatakan kepada diri kita akan adanya kekurangan kita, yaitu tidak memenuhi syarat yang sudah ditentukan oleh Tuhan Allah. Tetapi penyataan kebenaran dan keadilan yang paling konkret dan paling sempurna adalah di dalam Firman Tuhan yang berinkarnasi ke dalam dunia, yaitu Yesus Kristus.

Maka Roh Kudus mengerjakan dua hal yang paling besar. Kedua-duanya bersangkut paut dengan menurunkan Firman dari sorga ke dalam dunia. Pertama, Roh Kudus mewahyukan firman yang kekal di dalam bentuk tulisan melalui ilham yang diberikan kepada para nabi dan rasul, sehingga di dunia ini ada Kitab Suci yang kita pegang sebagai Firman Tuhan. Kedua, Roh Kudus menurunkan Firman itu dengan cara menaungi Maria, anak dara yang belum mengenal atau belum bersetubuh dengan seorang pria, yang dipimpin oleh Tuhan menjadi tempat di mana Firman menjadi daging melalui proses inkarnasi. Dengan demikian, kelahiran Kristus menjadi suatu perwujudan Imanuel, yaitu Allah menyertai kita.

Di dalam Kristus terwujud segala kelimpahan dan kesempurnaan, kemutlakan dan kekekalan dari kekayaan kemuliaan Allah itu sendiri. Di dalam Kristus kita melihat bagaimana sebenarnya kebenaran dan keadilan Allah yang sejati, yang menjadi tuntutan terhadap orang berdosa. Dan di dalam Kristus kita juga melihat bagaimana seharusnya keadilan dan kebenaran asli, yang sudah hilang dari manusia sejak Adam berdosa. Bukan saja demikian. Kristus sendiri menjadi satu standar atau menjadi satu kriteria yang baru, sehingga manusia yang berdosa, kalau mau menuju hidup yang lebih bajik, mengetahui bahwa ia harus meneladani Yesus Kristus, Dan di dalam butir ini kita melihat manusia baru sadar bahwa itu merupakan suatu hal yang mustahil.

Manusia tidak mungkin hidup seperti Kristus, karena hidup seperti Kristus itu tidak dapat dicapai dengan sekadar melalui atau melakukan imitasi sampai pada taraf yang ada pada Yesus, tetapi diperlukan suatu pertumbuhan spontan menjadi suatu hidup yang baru. Itu sebabnya, mengapa Alkitab mengatakan, di dalam Kristus kita menjadi ciptaan baru, menjadi manusia baru (the new creation, the new being). Ini berarti tanpa Roh Kudus memperanakkan, tidak mungkin seseorang dengan menjalankan tuntutan agama dan melakukan imitasi (meniru) bisa hidup seperti Kristus.

Meskipun Kristus adalah standar yang Tuhan berikan kepada manusia, meskipun Kristus adalah teladan yang harus kita contoh, namun jangan pernah lupa, tanpa mempunyai titik tolak yang baru, yaitu hidup baru serta dijadikan anak Allah, tidak mungkin kita bisa meneladani Kristus. Di sini kita melihat perlunya penebusan, di mana kebenaran Allah harus ditambahkan terlebih dahulu kepada seseorang; orang yang berdosa harus berubah terlebih dahulu menjadi orang yang benar, baru ada hidup baru yang mulai bertindak menuju kelimpahan dan kesempurnaan di dalam rencana Allah. Sampai pada titik ini kita menemukan perbedaan antara Kekristenan dan semua agama.

Semua agama berusaha dengan kekuatan dari diri manusia sendiri (anthropocentric power) untuk berbuat baik, lalu dengan perbuatan baiknya menganggap diri sudah benar dan layak diterima oleh Tuhan. Tetapi Injil seratus persen mutlak menolak kemungkinan itu. Itulah sebabnya Injil kalau tidak diterima secara penuh, pasti dibenci oleh banyak orang yang membanggakan kebudayaan dan agama mereka. Ini menjadi suatu batu sandungan bagi mereka yang tidak rela menanggalkan segala kebajikan yang ada pada mereka untuk menerima Tuhan.

—–

Di atas kita telah membahas bahwa kebenaran-keadilan, yang menjadi salah satu aspek dari apa yang disebut peta dan teladan Allah, yang diberikan oleh Tuhan pada permulaan, sudah kehilangan kemuliaan atau kehilangan kesempurnaan yang asli – the original righteousness is no more there – sehingga segala aspek hidup sudah dilanda oleh kenajisan dosa, sudah terkena distorsi dan polusi yang diakibatkan oleh dosa. Itulah sebabnya, tidak mungkin bagi manusia ingin kembali menjadi yang benar itu. Jika dari yang benar menjadi tidak benar sudah terjadi, maka dari yang tidak benar kembali kepada yang benar menjadi tidak mungkin.

Martin Luther memberikan pengertian semacam ini. Sebelum berbuat dosa, Saudara berada di suatu permukaan yang tinggi. Di atas permukaan yang tinggi itu, Saudara mempunyai kebebasan untuk bergerak seperti kelereng, dia boleh berputar-putar, berjalan-jalan, menggelinding terus di satu dataran yang sangat datar; tetapi ketika kelereng tersebut turun ke permukaan yang kedua, maka dengan kecepatan menurun ia bisa tetap bergerak bebas di permukaan yang kedua, dan kini ia tetap bisa bergerak di permukaan yang kedua ini. Tetapi, kelereng itu tidak mungkin kembali ke atas.

Demikianlah manusia yang sudah jatuh di dalam dosa, bagaimana pun mereka berusaha mau mengerti arti hidup benar sesuai dengan rencana Allah yang asli, mereka tidak mungkin mengerti. Maka, Martin Luther mengatakan bahwa seseorang yang mau mengerti peta dan teladan Allah di dalam status dirinya yang sudah merusakkan peta dan teladan Allah yang sebenarnya, sebenarnya sedang memikirkan, menebak, dan membayang-bayangkan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ia mengerti dari permulaan. Ini menjadi satu ketidak-mungkinan untuk mengerti sampai pada waktu Kristus datang ke dalam dunia. Kristus menyatakan keadilan Allah, kebenaran Allah, dan memberikan contoh kepada orang berdosa, sekaligus menjadi standar untuk menghukum orang berdosa. Setelah itu, baru manusia tahu apa itu kebenaran dan keadilan Allah.

Hanya di dalam hidup Kristus, Saudara mengerti apa itu keadilan Allah. Hanya di dalam hidup Kristus, Saudara tahu apa itu hidup tanpa dosa. Tetapi heran sekali, keadaan yang begitu indah, begitu mulia, yang dinyatakan oleh Kristus sebagai suatu pernyataan dikaios dari Tuhan Allah (the Rightenousness of God), bukan saja tidak menggerakkan dan tidak mendorong orang Yahudi untuk rendah hati, melainkan menjadikan mereka semakin marah dan benci. Mengapa? Di dalam perbandingan dengan Kristus, mereka langsung menyadari bahwa diri mereka terancam oleh kesempurnaan Kristus.

Maka jangan heran kalau Saudara hidup suci dan baik di satu tempat yang penuh ketidak-baikan, Saudara bukan saja akan tidak disenangi orang, Saudara bahkan akan dibenci dan menjadi sasaran kebencian orang lain. Turunnya Kristus dari sorga ke bumi telah memberikan satu contoh yang begitu pahit bagi setiap kita.

Tetapi mau tidak mau Allah sudah menurunkan Kristus ke dalam dunia, sehingga standar ini tidak mungkin disingkirkan oleh kebudayaan manusia, dan tuntutan Allah melalui kriteria Kristus ini tidak mungkin ditolak oleh manusia.

Satu-satunya kemungkinan adalah manusia berusaha menudungi dan menutupi diri dan menganggap Yesus tidak ada. Tetapi bagaimana pun Saudara berusaha menudungi diri, itu hanya mengakibatkan penambahan dosa di dalam diri Saudara sendiri. Sebagaimana peribahasa mengatakan, engkau boleh membenci matahari dan berusaha menutup matamu, lalu mengatakan, “Saya tidak melihat matahari, maka matahari tidak ada.” Tetapi matahari tidak akan menjadi tidak ada hanya karena engkau tidak melihat. Matahari tidak akan menjadi tidak ada hanya karena Saudara menutup kedua mata Saudara. Demikian juga, kebenaran Allah yang sudah diwujudkan oleh Kristus itu akan menjadi kriteria mutlak dalam menghakimi semua orang yang berbuat dosa, khususnya mereka yang pernah mendengar Injil Kristus tetapi menolaknya.

Kristus akan terus-menerus menjadi suatu kebenaran yang mungkin dibenci dan ditolak oleh manusia, tetapi tidak mungkin ditiadakan dari rencana Allah. Manusia menutup diri dan tidak mau menerima Kristus. Tetapi pada saat mereka bereaksi sedemikian, itu hanya membuktikan kebodohan mereka dan hanya menunda kewajiban mereka untuk penghakiman saja, tanpa bisa meniadakan segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah.

Penginjilan merupakan suatu hal yang serius sekaliu. Pada waktu Injil diwartakan kepada sekelompok orang, itu merupakan suatu kesempatan yang sangat serius. Pada saat itu Injil memberikan kuasa keselamatan kepada mereka yang menerima, sekaligus menjadi kuasa penghakiman bagi mereka yang menolak. Karena di dalam diri Kristus, kuasa keadilan, kebenaran, dan penghakiman, kekekalan dan kesementaraan, Allah dan manusia, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, semuanya terkumpul menjadi satu, sehingga orang yang mendengar Kristus atau mendengar tentang Kristus seharusnya memberikan respons yang sangat hati-hati di hadapan Tuhan Allah. Konsep seperti ini harus kita miliki sehingga kita tidak main-main dalam mendengarkan Firman Tuhan. Mengapa ada orang yang mengkhotbahkan firman dengan main-main atau memutar-balikkan firman? Itu karena mereka tidak mempunyai konsep seperti ini. Mengapa banyak orang mendengarkan khotbah dengan main-main? Itu karena mereka tidak mengetahui keseriusan yang sedemikian hebat yang menyangkut nasib mereka di dalam kekekalan.

John Calvin mengatakan, “Momen Injil dikabarkan adalah momen yang begitu serius sehingga setiap orang yang sudah mendengar Injil, kalau tidak menghakimi diri sendiri sesuai gerakan Roh Kudus, ia akan dihakimi oleh Allah untuk selama-lamanya.”

Amin.

SUMBER :
Nama Buku : Dosa, Keadilan, dan Penghakiman
Sub Judul : Bab 1 : Keadilan dan Kebenaran (3)
Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit : Momentum, 2014
Halaman : 29 – 43
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube