Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

…Sebelumnya

BAB 5 : KEPASTIAN PENGHAKIMAN (1)

“Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat. Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.” (Kisah Para Rasul 17:30-31)

Atau dengan terjemahan lain:

“Pada zaman Allah mengganggap manusia masih bodoh, Ia melalaikan untuk sementara, tetapi sekarang Allah memerintahkan setiap manusia di mana saja, bahwa mereka harus bertobat. Sebab Allah telah menetapkan suatu hari untuk mengadili seluruh dunia dengan keadilan Allah sendiri, melalui satu Orang yang ditetapkan oleh Allah sendiri, yaitu Dia yang sudah bangkit dari kematian. Dengan cara ini Allah membuktikan bahwa Dia adalah Hakim yang agung itu.”

——————————————

Dari manakah dosa berasal? Dosa adalah penyalah-gunaan kebebasan. Sin is the result which emerge from the misuse of the heaven freedom. Manusia mempunyai kebebasan yang diberikan oleh Tuhan. Pada waktu kebebasan digunakan secara salah, maka timbullah dosa.

Di sini frasa “timbullah dosa” saya tekankan untuk menjelaskan tentang teori pemunculan (emergence theory), bukan teori penciptaan (creation theory). Dosa tidak diciptakan, dosa tidak direncanakan, tetapi dosa itu muncul. Dosa muncul karena terjadinya penyalahgunaan kebebasan.

Lalu Saudara mengatakan, mengapa bisa salah? Karena bebas. Bebas berarti mungkin mempunyai arah lebih dari satu. Saya bisa ke kanan, tetapi saya juga bisa ke kiri. Saya boleh ke depan, saya juga boleh ke belakang. Waktu saya mempunyai kemungkinan lebih dari satu, itu disebut bebas. Kalau saya mempunyai kemungkinan hanya satu, itu namanya paksaan, bukan kebebasan. Allah memberikan kebebasan sebagai potensi. Potensi ini menjadi fondasi moral, kebebasan menjadi potensi moral. Jika tidak ada kebebasan, moral sama sekali tidak ada nilainya. Moral adalah moral, moral disebut moral, moral bernilai moral, justru karena moral berdasarkan kebebasan yang ada sebagai potensi.

Presiden Amerika itu mulia karena mereka dipilih oleh rakyatnya. Meskipun pilihan demokrasi tidak tentu membuktikan kebenaran, tetapi sedikitnya rakyat sudah dihormati oleh sistem politik yang demikian. Tetapi di antara semua presiden Amerika, yang paling tidak mulia adalah Gerald Ford, karena dia menjadi presiden bukan berdasarkan hasil pemilihan. Kenapa Ford bisa menjadi presiden tanpa melalui pemilihan? Karena cuma satu calonnya. Kenapa ia yang dipilih? Karena tidak ada yang lain. Ford tidak ada lawannya. Waktu itu Nixon harus turun dan ia sebagai wakil presiden otomatis naik. Tetapi pada waktu dia harus berhadapan dengan Jimmy Carter, dia langsung kalah. Karena pada waktu rakyat berkesempatan memilih, dia sudah ditinggalkan.

Tuhan Allah tidak demikian. Dia tidak mau orang yang diciptakan menurut peta dan teladan Allah ini tidak punya pilihan. Maka Tuhan memberikan kemungkinan manusia boleh memilih, oleh sebab itu Tuhan memperbolehkan Iblis untuk sementara masih ada, supaya orang yang percaya kepada Allah tidak mengatakan, “Apa boleh buat, ya pasti saya pilih Engkau, karena selain Engkau tidak ada pilihan yang lain.” Pada saat ada Iblis, Saudara tetap memilih Allah, barulah itu menunjukkan bahwa iman Saudara bermoral tinggi; barulah menunjukkan bahwa pilihan Saudara berdasarkan pengertian kebenaran.

PROBLEM KEBEBASAN

Sekarang kita masuk ke dalam hal yang lebih penting lagi. Mengapa kebebasan bisa salah? Apakah memang kemungkinan salah itu diberikan oleh Tuhan? Tidak. Kemungkinan bebas yang diberikan Allah. Kemungkinan salah itu merupakan suatu yang setara, otomatis berada di dalam kebebasan dan pilihan itu sendiri.

Ada sebuahg mesin tik. Mesin tik tidak ada salahnya. Mesin tik dibuat dengan baik, tetapi dari mesin tik ini, mungkin diketik satu buku yang bermutu, mungkin juga diketik satu buku yang banyak salahnya, bahkan mungkin dari mesin tik ini dihasilkan buku-buku porno yang merusak pemuda-pemudi. Jadi, mesin tik sendiri tidak ada salahnya, ia sendiri netral. Mesin tik ini pada dirinya sendiri adalah suatu kebaikan netral (neutral goodness). Saya memakai istilah ini karena mungkin Saudara tidak melihat semua di buku theologi mana pun: kebaikan yang bersifat netral.

Kebaikan yang bersifat netral jikalau dipergunakan oleh kebebasan yang tidak mau dikendalikan oleh kebenaran, bisa menjadi suatu kemungkinan berbuat salah. Kesalahan itu timbul karena manusia tidak menaklukkan diri kepada kebenaran. Dan yang tidak menaklukkan diri pada kebenaran adalah orang-orang yang mempunyai kebebasan. Kebebasan itu diberikan oleh Allah dan Allah pemberi kebebasan adalah Sang Kebenaran itu senderi. Lalu, kebenaran itu diberikan supaya kita dapat kembali kepada Allah sehingga bersatu dengan Kebenaran, maka kesalahan itu tidak perlu ada.

Pada waktu manusia memakai kebebasannya untuk segera menggabungkan diri kepada dunia kebaikan, dia tidak perlu menghasilkan kesalahan. Tetapi pada waktu manusia tidak mau bersatu dengan kebenaran, dia mempunyai self-decision, self-will, self-direction, dan self-solution (kehendak sendiri, keputusan sendiri, dan arah sendiri), maka akhirnya ia akan mendatangkan kesalahan, dosa menjadi ada.

Dosa bukan ada secara pra-eksistensi, dosa adalah sesuatu yang baru muncul kemudian. Dosa ada karena “timbul” dari suatu tindakan. Jadi di sini saya minta Saudara perhatikan: Allah adalah kosmologi itu sendiri. Allah adalah kebaikan itu sendiri. Lalu pada waktu Allah mencipta manusia menurut peta dan teladan-Nya, maka manusia juga mempunyai “diri”. Di dalam bidang filsafat, istilah “diri” (self) bukan dipakai untuk sendiri atau diri, tetapi dipakai untuk melukiskan zat asasi yang disebut jiwa (soul). You want to understand yourself, it means you want to understand your own soul and your own essence of your spirit. Itulah “diri” (self). Istilah self ini, “diri saya,” berarti pribadi. Saya mempunyai pribadi sebagaimana Allah mempunyai Pribadi, maka Allah mempunyai self dan saya yang diciptakan menurut peta dan teladan Allah juga mempunyai self. Dan si aku yang berpribadi ini harus menyangkal self demi kembali kepada Self-nya Allah. Itulah arti sesungguhnya dari “rohani”.

Rohani bukan suatu keadaan “sedang rohani”. Rohani bukan penampilan memakai jubah, toga, karena di belakang toga seringkali banyak dosa. Rohani jangan dibuat-buat. Rohani adalah the true of your which submits you before God (dirimu yang sesungguhnya ditaklukkan kepada diri Allah). Itulah rohani yang sesungguhnya. Keikhlasan, ketulusan yang tanpa topeng, itulah rohani. Tidak ada gunanya jika Saudara berusia 18 tahun, lalu memakai pakaian usia 80 tahun agar kelihatan rohani. Rohani itu be your true self (jadilah dirimu yang sesungguhnya).

True self denies yourself and unites yourself with God’s self (diri yang sejati menyangkal diri sendiri dan menyatukan diri dengan Diri Allah). Maka Yesus mengatakan, sangkallah diri lalu ikutlah Aku. Itulah penyangkalan, itulah rohani, itulah iman, itulah ketaatan, dan itulah penyerahan diri.

Apakah penyerahan diri atau dedikasi itu? Itu berarti saya menyerahkan diri, menyangkal diri, dan menggabungkan diri saya dengan diri Kristus. Pada waktu self ini mengatakan, I am myself (saya punya diri saya sendiri)” dan saya tidak mau bergabung dengan Dirinya Allah – biarpun Dia Allah, saya diciptakan menurut peta dan teladan Allah – itulah dosa.

Si “diri” yang tidak mau taat kepada Diri Allah mengakibatkan kemungkinan kita bersalah, karena dia mempunyai neutral goodness yang tidak dikontrol oleh Absolute Goodness. Hanya Allah yang merupakan kebaikan yang mutlak. Ketika Kebaikan Mutlak mengontrol seluruh kebaikan ciptaan yang netral, maka Saudara berada di dalam keadaan yang baik dan aman. Ketika kebaikan netral Saudara tidak dikontrol oleh Kebaikan Mutlak atau Pencipta, Saudara berada di dalam bahaya. Oleh sebab itu Yesus mengatakan, “Barangsiapa mau mengikut Aku, ia harus menyangkal diri, memikul salib, baru bisa mengikut Aku.” Itulah orang Kristen sejati. Tetapi banyak orang Kristen yang menginginkan, “Tuhan berikan kepadaku kekayaan, aku minta mobil VW hijau, bernomor ini, jadilah kehendakku.” Biarlah kehendak Tuhan yang jadi, bukan kehendakku!

Jadi, diri sayalah yang harus dimasukkan ke dalam Dirinya Allah, bukan Dirinya Allah yang harus dicocokkan supaya sama dengan keadaan saya. Dengan demikian kita mulai membabat dosa dari akarnya.

PENANGGUNG JAWAB DOSA

Setelah berdosa, manusia harus menuntut siapa yang bertanggung jawab. Apakah Tuhan yang harus bertanggung jawab karena Ia yang menciptakan manusia? Seperti ada orang yang atas hasutan setan mengatakan, “Tidak perlu kita takut kepada ayah dan ibu kita, dan tidak perlu menganggap orangtua berjasa besar, Engkau dilahirkan karena ayah dan ibumu mau bersenang-senang,” sehingga mengakibatkan Saudara tidak menghormati ayah ibumu. Demikian orang mengatakan, ”Kita dipermainkan oleh Tuhan Allah. Dia menciptakan kita lalu membiarkan kita berdosa, lalu Dia menurunkan Yesus, pura-pura menderita di atas kayu salib, karena Dia Allah, tentunya tidak bisa menderita.” Kalimat itu merupakan kalimat hasutan Iblis. Tuhan Yesus harus menjadi manusia, karena apa? Karena tanpa menjadi manusia, ia tidak mungkin disalib. Ia menjadi manusia berpartisipasi di dalam daging dan darah, sehingga Ia bisa ditusuk, bisa sakit, bisa sedih, bisa lapar, bisa haus, bisa merasa tersendiri. Ia adalah Allah sejati dan manusia sejati. Inilah suatu ibadah yang paling dalam: Allah menjadi daging. Firman menjadi manusia. Ini adalah rahasia iman yang besar menurut perkataan Paulus.

Jadi, siapakah yang bertanggung jawab atas dosa? Diri sendiri! Banyak orang Kristen sekarang diajar berdoa, ”Tuhan, aku berdosa karena si Iblis itu,” atau “Tuhan, aku bersalah karena digoda oleh Iblis.” Jadi manusia tidak mau mengaku, semua tidak ada yang salah, tidak ada yang berdosa, yang salah dan berdosa adalah Iblis.

Apakah Alkitab mengatakan, “Akui dosa-dosamu sendiri ditambah akui dosa-dosa Iblis?” Tidak ada! Alkitab mengatakan, “Jika kita mengakui dosa-dosa kita sendiri, maka Allah adalah setia dan adil” (1 Yohanes 1:9). Diri menjadi sumber, menjadi penanggung jawab dosa. Meskipun ada godaan, tidak berarti kita tidak perliu bertanggung jawab.

1. Penghakiman pada Malaikat

Penghakiman jangan dilihat hanya dari segi eskatologis sebab di sepanjang Alkitab, penghakiman sudah ada sebelum dunia diciptakan. Sebelum dunia diciptakan, sudah ada penghakiman. Penghakiman yang dilakukan sebelum dunia diciptakan pertama-tama ditujukan kepada dunia roh, yaitu malaikat-malaikat yang melawan Tuhan (fallen angels, Lucifer and other angels of the fallen angels). Penghulu dari malaikat-malaikat yang jatuh dalam dosa, pertama-tama dilemparkan dan dicampakkan oleh Tuhan, itulah penghakiman yang pertama terjadi.

Mengapa Iblis mau jadi seperti Allah, bukannya mau kemuliaan seperti Allah? Mengapa Iblis mau merebut kuasa Allah, sehingga ia bisa menerima sembah sujud? Perhatikan, ini adalah suatu godaan yang besar. Kita tidak suka diperintah, tetapi kita semua suka memerintah. Kita tidak suka dicaci maki, tetapi kita senang dipuja-puji. Dan kita juga menyukai keadaan yang paling mutlak, yaitu kita paling senang kalau menggantikan Allah, sehingga disembah sujud. Itu berarti kita sedang menyerupai Iblis. Malaikat jatuh menjadi Iblis karena dia ingin disembah.

Mengapa hak untuk disembah ini hanya ada pada Allah? Mengapa hanya Allah yang boleh disembah, sedangkan saya tidak boleh? Saya juga mau disembah sujud; saya juga mau merebut kekuasaan untuk disembah. Mengejar hak menerima sembah sujud adalah suatu ambisi yang liar, yang paling dibenci Allah.

Saya minta pemuda-pemudi memperhatikan, agar tidak usah gila hormat. Seumur hidup saya berusaha gila mutu, tetapi tidak gila hormat. Akhirnya orang mau menghormati saya, bukan karena saya paksa, bukan karena saya minta atau saya perintah atau saya takut-takuti. Tidak. Saya menghormati tukang becak sama seperti saya menghormati orang kaya. Saya tidak akan bersikap baik kepada orang-orang kaya, lalu berubah sikap terhadap orang miskin. Manusia sama-sama diciptakan oleh Allah. Orang mau menghormati Saudara karena Saudara memang patut dihormati. Tetapi kalau Saudara hanya mau dihormati, memaksa orang orang menghormati, Saudara sedang memikul salib yang tidak ada pahalanya. Saudara sedang memikul salib yang tidak ada pahalanya. Ini adalah rahasia: Respect is willingly given to you not forcefully compelled by you (Hormat diberikan secara rela kepada Saudara, dan bukannya dituntut secara paksa).

Pada waktu Iblis mau dihormati, mau menjadi seperti Allah, langsung Allah mencampakkan dia, karena dia tidak lagi cukup syarat untuk menjadi malaikat dan pemimpin, lalu dia diturunkan. Inilah penghakiman terhadap Iblis. Lalu Iblis ditaruh di mana? Dia dibelenggu dalam kegelapan. Mungkin Saudara bertanya, “Mengapa dia bisa sedemikian bebas mengganggu begitu banyak orang?” Dia mengganggu orang karena orang itu masuk ke dalam wilayah kegelapan, bukan karena dia keluar dari kegelapan lalu bisa mengganggu orang yang ada di tengah-tengah keadaan netral. Ini suatu relativisme.

Menurut Alkitab dan Theologi Reformed, tidak ada seorang pun yang sekarang ini netral. Setelah kejatuhan Adam, semua orang telah kehilangan kenetralannya dan semua sudah ada di dalam satu status seperti yang disebut Augustinus: non posse non peccare (tidak dapat tidak berdosa). Semua orang adalah orang berdosa. Setiap orang kini kehilangan suatu kemungkinan untuk tidak berbuat dosa. Saudara tidak mempunyai kekuatan, Saudara tidak mempunyai cara untuk menghindarkan diri dari berbuat dosa. Setiap orang dilahirkan di dalam dosa dan setiap orang sudah tidak punya kemungkinan untuk tidak berbuat dosa. Inilah status setelah Adam jatuh ke dalam dosa.

Mungkin Saudara bertanya, apa status manusia sebelum Adam jatuh ke dalam dosa? Statusnya adalah posse peccare (dapat berdosa). Sebelum Adam jatuh ke dalam dosa, setelah dia digoda dan taat kepada Iblis, lalu seluruh umat manusia dimasukkan ke dalam wilayah kegelapan. Ini yang disebut tidak ada kemungkinan untuk tidak berbuat dosa, dan ini disebut dosa asal (original sin). Yang disebut dosa asal adalah dosa yang mau tidak mau kita sudah terima secara representatif. Kita berdosa dan kita semua diciptakan di bawah aliran hidup Adam.

Orang Jepang adalah orang yang tidak mau mengalah, tidak mau menyerah. Ketika berperang, jika dia sudah terkepung dan harus mati, maka ia bunuh diri. Ia merasa matinya mulia, karena bukan dibunuh. Itu berarti ia belum pernah kalah. Saya rasa satu-satunya negara Asia yang bertulang cukup kuat adalah Jepang.

Orang Asia lainnya kalau melihat orang Amerika semua jadi buta. Saya sangat benci sikap sedemikian. Di Hongkong, suatu kali saya melihat petugas imigrasi yang ketika bertemu orang kulit putih begitu sopan dan penuh senyum, tetapi begitu keras terhadap sesama orang Cina. Saya berkata kepadanya, “Saudara seperti budak orang kulit putih. Saya harap Saudara sadar bahwa Saudara adalah orang Asia, jangan bersikap seperti budak.”

Jepang dengan berani menghantam kapal Amerika. Itu suatu keberanian besar, meskipun saya tidak setuju. Tetapi sedikitnya dia punya tulang. Saya rasa orang Asia tidak perlu kalah dari orang Barat. Kita sebagai orang Indonesia perlu bertulang, walau sudah pernah 350 tahun dijajah oleh orang Belanda. Jangan sampai kita memerlukan 350 tahun lagi untuk bisa bertulang.

Pada waktu saya masih kecil, semua kebangunan rohani yang besar harus dilakukan orang Amerika. Saya melawan prinsip itu. Kini, saya mempunyai kebaktian yang lebih besar daripada kebaktian yang dilakukan orang Amerika. Orang Asia juga bisa melakukannya. Kita memiliki uang, kita memiliki massa, dan kita juga memiliki karunia, mengapa kita harus bergantung pada orang lain. Saya tidak mau membeda-bedakan orang. Saya minta kita semua tahu bahwa kita dicipta oleh Tuhan dan kita harus mempunyai kebanggaan sendiri.

Pada waktu Kristus menyelamatkan kita, baru kita memasuki tempat ketiga, yaitu status posse non peccare (dapat tidak berdosa). Setelah Kristus menyelamatkan kita, baru kita mempunyai kemungkinan untuk tidak berbuat dosa, karena Roh Kudus menolong kita kalau kita betul-betul taat kepada Dia. Kita mempunyai kemungkinan mencapai kemenangan. Namun itu tidak berarti orang Kristen tidak bisa kalah terhadap dosa, tidak berarti orang Kristen tidak mungkin jatuh dalam dosa. Tetapi saya menegaskan bahwa ada kemungkinan menang terhadap dosa. Roh yang berada di dalam kita lebih besar daripada roh yang berada di dalam dunia, dan Roh yang berada di dalam kita – melalui ketaatan kita kepada Tuhan – memberikan kekuatan dan kesucian kepada kita. Kita harus percaya itu. Tetapi status ini masih belum mutlak, karena kita harus melalui suatu keselamatan yang sedang diproses. Jika proses itu sudah berhasil sampai sempurna, kita menuju kepada non posse peccare (tidak dapat berdosa). Bilamana? Ketika kita masuk sorga. Ini adalah empat tahap status di dalam kerangka theologi Reformed. Jika Saudara mendapatkan konsep ini, ingatlah bahwa ke-empat status ini diambil dari theologi Reformed, dari Augustinus, Martin Lurther, John Calvin, dan gereja-gereja Reformed yang ketat.

Jika Saudara berkata, “Oh sekarang semua bebas,” maka kebebasan sebelum Adam jatuh berbeda dengan kebebasan sesudah Adam jatuh, dan berbeda juga dengan kebebasan setelah ditebus oleh Kristus, dan juga berbeda dengan kebebasan nanti di sorga. Semua sastrawan, filsuf, semua agamawan, semua orang yang menjadi pujangga, dengan pikiran yang sudah jatuh ke dalam dosa, tidak mungkin pernah mengerti hal ini, kecuali ia kembali kepada Firman Tuhan dan pencerahan Roh Kudus yang memimpin gereja dari zaman ke zaman kepada theologi yang benar.

Amin.
(Bersambung)
SUMBER :
Nama Buku : Dosa, Keadilan, dan Penghakiman
Sub Judul : Bab 5 : Kepastian Penghakiman (1)
Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit : Momentum, 2014
Halaman : 119 – 129
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube